Persepuluhan di Bawah Kasih Karunia

Seorang laki-laki memberikan sepersepuluh dari seluruh miliknya kepada seorang imam — empat abad sebelum hukum Taurat Musa ada. Tanpa perintah. Tanpa kewajiban. Tanpa bait suci. Hanya tanggapan penuh syukur kepada Allah yang telah melepaskannya.
Laki-laki itu adalah Abraham. Dan imam itu adalah Melkisedek.
Kebanyakan percakapan tentang persepuluhan dimulai dari kewajiban. "Haruskah saya memberi persepuluhan?" "Apakah Allah akan menghukum saya kalau saya tidak memberi?" "Apakah persepuluhan masih diwajibkan?" Itu semua pertanyaan hukum Taurat. Dan Alkitab menjawabnya dengan kasih karunia.
Artikel ini menelusuri apa yang sesungguhnya dikatakan Alkitab tentang persepuluhan — dari pemberian sukarela Abraham, melewati hukum Musa, sampai kepada kemerdekaan yang radikal dalam memberi di bawah Perjanjian Baru. Kita akan menimbang kata-kata asli dalam bahasa Ibrani dan Yunani, meluruskan salah paham yang umum, dan melihat mengapa kasih karunia melahirkan kemurahan hati yang tak pernah sanggup dilahirkan oleh hukum Taurat.
Daftar Isi
- Arti "Persepuluhan" dalam Bahasa Ibrani Aslinya
- Sebelum Hukum Taurat: Abraham dan Melkisedek
- Di Bawah Hukum Taurat: Persepuluhan di Israel
- Maleakhi 3: Ayat yang Paling Sering Salah Dikutip
- Yesus dan Persepuluhan
- Di Bawah Kasih Karunia: Ukuran Perjanjian Baru
- Kata Yunani untuk "Memberi dengan Sukacita"
- Ibrani 7: Mengapa Pergantian Imamat Mengubah Segalanya
- Koinonia: Kata Perjanjian Baru untuk Kemurahan Hati
- 10 Ayat Kunci tentang Persepuluhan dan Memberi
- Jadi, Haruskah Orang Kristen Memberi Persepuluhan?
Arti "Persepuluhan" dalam Bahasa Ibrani Aslinya
Kata "persepuluhan" sendiri sudah menjelaskan isinya: sepersepuluh bagian. Dalam bahasa Ibrani, katanya adalah (ma'aser) מַעֲשֵׂר — turunan dari (eser) עֶשֶׂר, angka sepuluh. Persepuluhan, dalam definisi paling sederhana, adalah sepersepuluh dari penghasilan Anda.
Dalam bahasa Yunani, padanannya adalah (apodekatoo) ἀποδεκατόω — "memberikan sepersepuluh". Kata ini muncul dalam Injil ketika Yesus berbicara kepada orang-orang Farisi, dan dalam surat Ibrani ketika penulisnya membahas Abraham dan Melkisedek.
Tetapi inilah detail yang hampir selalu terlewat: konsep persepuluhan sudah ada jauh sebelum ada satu perintah pun yang mewajibkannya.
Sebelum Hukum Taurat: Abraham dan Melkisedek
Penyebutan persepuluhan yang pertama dalam Alkitab ada di Kejadian 14. Abraham baru saja memenangkan sebuah pertempuran untuk membebaskan Lot, kemenakannya. Dalam perjalanan pulang, muncullah sosok misterius itu — Melkisedek, raja Salem sekaligus imam Allah Yang Mahatinggi.
Kejadian 14:18-20 (TB)
Melkisedek memberkati Abraham lebih dulu. Barulah Abraham memberi. Berkat mendahului pemberian. Abraham tidak memberi persepuluhan untuk memperoleh berkat. Ia memberi karena berkat itu sudah ia terima.
Pada titik ini belum ada hukum Taurat. Musa baru akan menerima perintah-perintah itu 430 tahun kemudian (Galatia 3:17). Persepuluhan Abraham adalah tindakan syukur yang bebas dan sukarela — bukan kewajiban hukum. Tidak seorang pun menyuruhnya. Ia menanggapi kasih karunia dengan kemurahan hati.
Dan Melkisedek datang membawa roti dan anggur. Dua unsur yang menunjuk langsung kepada meja perjamuan. Imam ini tidak datang untuk menagih. Ia datang untuk melayani. Ia datang untuk memberkati. Kasih karunia tidak menuntut — ia menyediakan.
Di Bawah Hukum Taurat: Persepuluhan di Israel
Ketika Allah menegakkan perjanjian Musa di Sinai, persepuluhan menjadi bagian dari sistem hukum. Dan hukum itu tidak menetapkan satu persepuluhan, melainkan beberapa:
- Persepuluhan untuk orang Lewi — 10% dari seluruh hasil bumi diberikan kepada suku Lewi yang tidak mendapat bagian tanah pusaka (Bilangan 18:21-24).
- Persepuluhan untuk perayaan — 10% lagi disisihkan untuk hari-hari raya tahunan di Yerusalem (Ulangan 14:22-27).
- Persepuluhan untuk orang miskin — setiap tahun ketiga, dikumpulkan tambahan 10% bagi orang asing, anak yatim, dan janda (Ulangan 14:28-29).
Bila dijumlahkan, kewajiban tahunan itu berkisar antara 20% sampai lebih dari 23%, tergantung tahunnya. Anggapan populer bahwa "persepuluhan itu cuma 10%" tidak menggambarkan keseluruhan sistem Musa.
Di bawah hukum Taurat, persepuluhan bersifat wajib. Ia bagian dari sistem perpajakan nasional yang terikat pada bait suci, imamat, dan tanah Israel. Ia berfungsi sekaligus sebagai ibadah dan jaminan sosial — sebuah tatanan yang dirancang bagi sebuah bangsa teokratis.
Ini penting, karena Perjanjian Baru membuat pembedaan yang tegas: orang percaya tidak lagi berada di bawah hukum Musa.
Roma 6:14 (TB)
Galatia 5:18 (TB)
Loh batu telah diganti oleh kasih karunia. Sistemnya berubah. Imamatnya berubah. Dan bersamanya berubah pula dasar mengapa umat Allah memberi.
Maleakhi 3: Ayat yang Paling Sering Salah Dikutip
Tidak ada ayat yang lebih sering dikutip dalam perbincangan soal persepuluhan selain Maleakhi 3:8-10:
Maleakhi 3:8-10 (TB)
Nas ini memang kuat. Tetapi konteksnya menentukan. Maleakhi berbicara kepada Israel di bawah Perjanjian Lama — sebuah bangsa yang terikat hukum Musa, dengan bait suci yang berfungsi, imamat Lewi, dan sistem rumah perbendaharaan. Umat itu mengabaikan kewajiban dalam perjanjian yang mereka sendiri sanggupi.
Menerapkan ayat ini begitu saja kepada orang percaya Perjanjian Baru berarti menempatkan diri Anda kembali di bawah sistem yang justru sudah digenapi Kristus. Paulus menjawabnya dengan gamblang:
Galatia 3:13 (TB)
Kutuk hukum Taurat — seluruhnya, termasuk kutuk atas persepuluhan yang ditahan — jatuh ke atas Yesus di kayu salib. Ia membayar lebih dari yang Anda utangkan. Anda tidak bisa dikutuk untuk sesuatu yang sudah Kristus tanggung. Injil membawa kemerdekaan, bukan beban.
Apakah itu berarti Maleakhi 3 tidak relevan lagi? Sama sekali tidak. Prinsipnya tetap berdiri: Allah itu murah hati, dan Ia menghargai orang yang mempercayakan hartanya kepada-Nya. Janji tentang tingkap-tingkap langit yang terbuka itu nyata. Yang berubah adalah mekanismenya. Anda tidak hidup dalam sistem kutuk dan berkat yang bergantung pada kepatuhan hukum. Anda hidup dalam perjanjian kasih karunia, tempat Allah menyediakan segalanya.
Yesus dan Persepuluhan
Yesus hanya sekali menyinggung persepuluhan dalam pengajaran langsung — dan kata-kata-Nya menyingkapkan lebih banyak daripada yang disadari kebanyakan orang:
Matius 23:23 (TB)
Dua hal patut dicatat. Pertama, Yesus berbicara kepada orang-orang yang masih hidup di bawah Perjanjian Lama. Salib belum terjadi. Perjanjian yang baru belum diresmikan. Ia meneguhkan persepuluhan karena pada saat itu hukum Taurat memang masih berlaku.
Kedua, Ia membongkar kekeliruan orang Farisi: persepuluhan yang dihitung cermat tanpa keadilan, belas kasihan, atau kesetiaan. Mereka menakar sepersepuluh dari rempah kebun sambil mengabaikan isi hati Allah. Persepuluhan tanpa kasih adalah agama tanpa relasi. Buah yang tidak bisa tumbuh dari aturan itulah yang tidak dimiliki orang Farisi.
Setelah salib, para rasul tidak pernah sekali pun memerintahkan persepuluhan dalam surat mana pun kepada jemaat. Tidak di Roma. Tidak di Korintus. Tidak di Galatia, Efesus, Filipi, Kolose, atau Tesalonika. Tidak di Timotius, Titus, atau Filemon. Tidak di Ibrani, Yakobus, Petrus, Yohanes, atau Yudas. Diamnya Kitab Suci di sini berarti — apalagi mengingat betapa banyak Paulus menulis tentang memberi.
Di Bawah Kasih Karunia: Ukuran Perjanjian Baru
Perjanjian Baru tidak menghapus kemurahan hati. Ia mengubah motif di baliknya. Pengajaran Paulus yang paling jernih tentang memberi ada di 2 Korintus 8-9, ketika ia mengatur pengumpulan dana bagi jemaat di Yerusalem.
2 Korintus 9:6-7 (TB)
Tiga prinsip muncul di sini:
- "Menurut kerelaan hatinya" — besarnya ditentukan oleh orang itu sendiri, bukan dipatok oleh persentase.
- "Jangan dengan sedih hati atau karena paksaan" — memberi karena terpaksa menyalahi jiwa kemurahan hati Perjanjian Baru.
- "Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita" — hati di balik pemberian lebih penting daripada besarnya pemberian.
Persentase tetap tidak disebut sama sekali. Paulus bisa saja berkata, "berilah sepuluh persen." Ia tidak melakukannya. Ia berkata: berilah menurut kerelaan hati — dengan bebas, dengan rela, dengan sukacita. Kasih karunia tidak menunggu Anda menjadi baik; ia memampukan Anda menjadi murah hati.
Ayat berikutnya menjelaskan alasannya:
2 Korintus 9:8 (TB)
Allah melimpahkan kasih karunia supaya Anda berkelebihan — bukan sekadar cukup, melainkan meluap. Kelimpahan memang selalu menjadi rencana-Nya. Dan tujuan kelebihan itu adalah "pelbagai kebajikan", yang di dalamnya termasuk memberi dengan murah hati. Kemurahan hati yang ditenagai kasih karunia itu berputar: Allah memberi kepada Anda, lalu Anda memberi dari apa yang telah Ia sediakan.
Kata Yunani untuk "Memberi dengan Sukacita"
Kata yang dalam 2 Korintus 9:7 diterjemahkan TB sebagai "memberi dengan sukacita" adalah (hilaros) ἱλαρός — "riang, gembira, berseri-seri". Kata ini melukiskan kesiapsediaan yang penuh kegembiraan: bukan kewajiban yang muram, bukan kepatuhan yang setengah hati, melainkan kemurahan hati yang bersukaria dan tak sabar untuk memberi.
Septuaginta — terjemahan Yunani dari Perjanjian Lama — memakai kata sekeluarga dalam Amsal 22:8:
Amsal 22:8 (terjemahan dari Septuaginta)
Pemberi semacam inilah yang dikasihi Allah. Bukan orang yang menghitung persentase minimum agar luput dari hukuman. Bukan orang yang memberi karena takut. Melainkan orang yang memberi karena ada sesuatu di dalam dirinya yang sudah berubah.
Ketika Anda mengerti bahwa Allah sudah memberkati Anda dengan segala berkat rohani di dalam sorga (Efesus 1:3), memberi berhenti terasa seperti penarikan tabungan dan mulai terasa seperti penyaluran. Anda bukan kehilangan sumber daya. Anda sedang mengalirkan persediaan yang memang sudah menjadi milik Anda.
Ibrani 7: Mengapa Pergantian Imamat Mengubah Segalanya
Surat Ibrani membangun argumen panjang tentang Melkisedek — dan argumen itu berdampak langsung pada cara kita memahami persepuluhan. Penulisnya berkata:
Ibrani 7:1-2 (TB)
Nama Ibrani Melkisedek — (Malki-Tsedeq) מַלְכִּי־צֶדֶק — berarti "rajaku adalah kebenaran". Dan gelarnya sebagai raja Salem — (Shalem) שָׁלֵם — berkaitan dengan "damai sejahtera". Ia adalah gambaran Kristus: Raja Kebenaran sekaligus Raja Damai.
Alur pikir Ibrani 7 sangat lugas:
- Abraham, bapa bangsa Israel, memberi persepuluhan kepada Melkisedek.
- Para imam Lewi, keturunan Abraham, memungut persepuluhan di bawah hukum Taurat.
- Tetapi imamat Melkisedek lebih besar daripada imamat Lewi — sebab Abraham, nenek moyang Lewi, yang membayar persepuluhan kepada Melkisedek, bukan sebaliknya.
- Yesus adalah imam "menurut peraturan Melkisedek" (Ibrani 7:17), bukan menurut peraturan Lewi.
Dan inilah kesimpulannya:
Ibrani 7:12 (TB)
Imamatnya berubah. Hukumnya ikut berubah. Seluruh sistem Lewi — termasuk hukum persepuluhan yang menopangnya — telah digenapi di dalam Kristus. Yesus adalah Imam Besar Anda sekarang, dan imamat-Nya bekerja di atas dasar yang sama sekali berbeda: bukan hukum Taurat, melainkan kasih karunia.
Ini bukan berarti teladan Abraham menjadi tidak berarti. Justru sebaliknya. Persepuluhan Abraham lahir sebelum ada hukum. Ia lahir dari iman, bukan dari kewajiban. Ia menunjuk ke depan kepada sebuah imamat yang berdasar pada kebenaran dan damai sejahtera — bukan pada aturan dan ritual. Kebenaran Anda adalah pemberian, bukan lencana.
Koinonia: Kata Perjanjian Baru untuk Kemurahan Hati
Perjanjian Baru memperkenalkan satu kata yang menata ulang cara kita memandang pemberian: (koinonia) κοινωνία. Kebanyakan terjemahan memakainya sebagai "persekutuan", tetapi maknanya lebih dalam. Koinonia berarti kemitraan yang dibagi bersama — keikutsertaan dalam satu hal yang sama.
Paulus memakai kata ini untuk menggambarkan kemurahan hati dalam soal uang:
Roma 15:26 (TB)
Dalam teks aslinya, "sumbangan" itu adalah koinonia — kemitraan dalam Injil, bukan pajak. Orang-orang percaya di Makedonia dan Akhaya melihat diri mereka sebagai rekan sekerja dalam misi yang sama, dan kemitraan itu mereka nyatakan lewat uang mereka.
Paulus juga menulis:
Galatia 6:6 (TB)
Kata "membagi" di sini adalah (koinoneo) κοινωνέω, kata kerja dari koinonia. Ini bukan perintah memberi persepuluhan. Ini panggilan untuk bermitra. Ketika Anda menopang seorang pengajar, sebuah jemaat, atau sebuah pelayanan, Anda ikut menikmati buah dari pekerjaan itu. Pemberian Anda bukan pembayaran — melainkan keikutsertaan. Gereja bukan gedung, melainkan keluarga, dan keluarga saling berbagi.
Dalam Kisah Para Rasul 2:42, koinonia disebut sejajar dengan pengajaran para rasul, pemecahan roti, dan doa — empat tiang kehidupan jemaat mula-mula. Kemurahan hati tidak pernah menjadi pelengkap belakangan. Ia terpasang di fondasi.
10 Ayat Kunci tentang Persepuluhan dan Memberi
1. Kejadian 14:20 — Persepuluhan Sukarela Abraham
Kejadian 14:20 (TB)
Sebelum ada hukum apa pun, Abraham memberi dengan bebas. Persepuluhan pertama dalam Kitab Suci adalah tanggapan atas berkat, bukan syarat untuk memperolehnya.
2. Maleakhi 3:10 — Janji Rumah Perbendaharaan
Maleakhi 3:10 (TB)
Allah mengundang Israel menguji kesetiaan-Nya. Janji langit yang terbuka itu sungguh nyata — tetapi konteksnya adalah Israel di bawah Perjanjian Lama, dan bagi orang percaya Perjanjian Baru mekanismenya adalah kasih karunia, bukan kepatuhan hukum.
3. 2 Korintus 9:6-7 — Pemberi yang Bersukacita
2 Korintus 9:6-7 (TB)
Inilah ukuran Perjanjian Baru: memberi dari hati, bukan karena tekanan.
4. 2 Korintus 9:8 — Kasih Karunia untuk Setiap Kebajikan
2 Korintus 9:8 (TB)
Allah menyediakan lebih dari cukup — supaya kemurahan hati selalu mungkin.
5. Galatia 3:13-14 — Ditebus dari Kutuk
Galatia 3:13-14 (TB)
Kutuk karena melanggar hukum — termasuk kutuk dalam Maleakhi 3 — jatuh ke atas Kristus. Berkat Abraham sampai kepada Anda melalui iman, bukan melalui persepuluhan. Berhentilah berusaha mendapatkan apa yang sudah Allah berikan.
6. Ibrani 7:12 — Hukum Berubah Bersama Imamat
Ibrani 7:12 (TB)
Imamat yang baru menuntut sistem yang baru. Persepuluhan Lewi adalah milik imamat Lewi. Imamat Kristus bekerja di atas kasih karunia.
7. Lukas 6:38 — Prinsip Pengembalian
Lukas 6:38 (TB)
Yesus mengajarkan prinsip menabur dan menuai — tanpa menyebut persentase tertentu. Takaran yang Anda pilih menentukan takaran yang Anda terima.
8. Amsal 3:9-10 — Muliakan Tuhan dengan Hartamu
Amsal 3:9-10 (TB)
Prinsipnya jelas: dahulukan Allah dalam keuangan Anda, dan Ia akan memenuhi lumbung Anda. Gunung-gunung Anda akan meniriskan anggur baru.
9. Filipi 4:19 — Allah yang Mencukupkan
Filipi 4:19 (TB)
Paulus menulis ini kepada jemaat Filipi yang baru saja mengirimkan bantuan keuangan kepadanya. Kemurahan hati mereka mengaktifkan sebuah janji: Allah sendiri yang akan memenuhi segala keperluan Anda. Bukan sebagian. Segalanya. Posisi mendahului persediaan.
10. Kisah Para Rasul 20:35 — Lebih Berbahagia Memberi
Kisah Para Rasul 20:35 (TB)
Sebuah kutipan langsung dari Yesus, yang dijaga oleh Paulus. Kemurahan hati bukan beban. Itulah jalan yang lebih berbahagia.
Jadi, Haruskah Orang Kristen Memberi Persepuluhan?
Inilah pertanyaan semua orang. Dan jawaban yang jujur memerlukan lebih dari sekadar ya atau tidak.
Apakah persepuluhan diperintahkan dalam Perjanjian Baru? Tidak. Para rasul tidak pernah menetapkan kewajiban sepuluh persen bagi jemaat.
Apakah memberi persepuluhan itu salah? Sama sekali tidak. Jika Anda memilih memberi sepuluh persen — atau dua puluh, atau lima puluh — itu urusan antara Anda dan Allah. Bermain aman bukanlah penatalayanan. Allah menghargai mereka yang memuliakan Dia dengan harta mereka.
Apakah persepuluhan titik awal yang baik? Banyak orang percaya merasakan demikian. Abraham memberi persepuluhan sebelum ada hukum. Jemaat mula-mula hidup dalam kemurahan hati yang radikal. Menetapkan satu persentase bisa menjadi cara yang praktis untuk menyatakan kepercayaan pada pemeliharaan Allah.
Lalu apa yang diubah kasih karunia? Kasih karunia mengubah motifnya. Di bawah hukum, Anda memberi persepuluhan karena harus. Di bawah kasih karunia, Anda memberi karena ingin. Di bawah hukum, jumlahnya dipatok. Di bawah kasih karunia, Anda menentukannya menurut kerelaan hati. Di bawah hukum, takut akan kutuk yang mendorong Anda. Di bawah kasih karunia, kasih kepada Bapa yang menggerakkan Anda. Tugas berat hukum Taurat adalah menunjukkan bahwa Anda memerlukan Juruselamat. Kasih karunia memberi Anda alasan yang baru untuk memberi.
Sumber pengajaran yang sama tentang persepuluhan dan kelimpahan pernah berkata begini: "Sepuluh persen yang pertama adalah bagian Tuhan, itulah persepuluhan. Anda tidak akan pernah, tidak akan pernah bisa mengalahkan kemurahan hati Tuhan." Konteksnya bukan kewajiban, melainkan kepercayaan. Jemaat dalam contoh itu juga menjalankan "prinsip Yusuf" — menyisihkan 20% dari pemasukan sebagai penatalayanan yang bijak. Kelebihan itu, ketika dikelola dengan baik, berlipat ganda dan membiayai pertumbuhan selama bertahun-tahun. Jerih payah yang menyakitkan tidak bisa menambah berkat Allah, tetapi pengelolaan yang bijak atas pemberian-Nya selalu berlipat ganda.
Pertanyaan yang sesungguhnya bukanlah "Berapa yang harus saya berikan?" Pertanyaan yang sesungguhnya adalah "Berapa banyak yang telah Allah berikan kepada saya?" Ketika Anda mulai dari apa yang sudah Anda terima, kemurahan hati menjadi tanggapan yang wajar. Ekonomi kelimpahan adalah keadaan asali Allah — batas Anda bukanlah batas-Nya.
Perdebatan tentang persepuluhan sering melewatkan hal ini: kasih karunia tidak menurunkan standar. Kasih karunia justru menaikkannya. Hukum Taurat meminta sepuluh persen. Kasih karunia meminta seluruh hati Anda. Dan ketika hati Anda menjadi milik Allah, dompet Anda biasanya menyusul — bukan karena diancam, melainkan dengan sukacita. Kekhawatiran yang menyumbat aliran persediaan itulah masalah keuangan yang sebenarnya. Percaya membuka apa yang ditutup oleh takut.
Kasih karunia tidak datang untuk membuat Anda kikir. Kasih karunia datang untuk membuat Anda merdeka. Dan orang-orang yang merdeka adalah orang-orang paling murah hati di muka bumi.
Suka tulisan ini? Terima renungan singkat seperti ini di kotak masuk Anda setiap pagi.
