Bahasa Yunani punya empat kata untuk kasih. Kita hanya punya satu, dan satu kata itu dipakai untuk segala hal. Kesenjangan kecil itu telah melahirkan lebih banyak kebingungan tentang Allah daripada hampir semua perdebatan teologi sepanjang sejarah.

Ketika seorang suami berkata "Aku mencintaimu" kepada istrinya, lalu di hari yang sama berkata "Aku cinta pizza", bahasa kita memperlakukan kedua kalimat itu sama saja. Bahasa Yunani tidak. Yunani punya satu kata khusus untuk kasih Allah — kasih yang begitu lain sendiri sampai orang-orang Kristen mula-mula harus memungut sebuah istilah yang nyaris terlupakan dari pinggiran sastra klasik dan memberinya makna yang sama sekali baru.

Kata itu adalah (agape) ἀγάπη.

Artikel ini menelusuri kata tersebut dari akarnya dalam bahasa Yunani kuno, melewati perubahan besar yang dialaminya dalam Perjanjian Baru, sampai kepada kenyataan praktis yang diciptakannya bagi setiap orang percaya hari ini. Jika Anda pernah bertanya-tanya apa yang membuat kasih Allah berbeda dari semua jenis kasih yang lain, jawabannya tersimpan di dalam satu kata ini.


Kata Yunani Agape: Asal dan Artinya

Kata (agape) ἀγάπη — dibaca a-GA-pe — adalah kata benda yang berarti kasih tanpa syarat yang rela berkorban. Bentuk kata kerjanya adalah (agapao) ἀγαπάω, yaitu mengasihi dengan komitmen yang disengaja dan dikehendaki, tanpa memandang layak atau tidaknya orang yang dikasihi.

Dalam bahasa Yunani klasik, sebelum Perjanjian Baru ditulis, agape adalah kata yang jarang dipakai dan tidak istimewa. Ia muncul di beberapa teks yang berserak, tetapi tidak membawa bobot khusus. Orang Yunani lebih suka (eros) ἔρως untuk gairah asmara dan (philia) φιλία untuk persahabatan yang mendalam. Agape nyaris teronggok begitu saja di rak kosakata mereka.

Lalu para penerjemah Septuaginta — terjemahan Yunani dari Perjanjian Lama Ibrani yang rampung sekitar tahun 200 SM — memilih agape untuk menerjemahkan kata Ibrani (ahavah) אַהֲבָה, kasih Allah yang terikat perjanjian terhadap Israel. Keputusan itu menanam benih. Ketika para penulis Perjanjian Baru membutuhkan sebuah kata untuk kasih Allah, agape sudah tersedia — sebuah istilah yang nyaris kosong, bersih dari muatan mitologi kafir yang membebani eros dan philia.

Orang Kristen mula-mula bukan sekadar memakai agape. Mereka praktis menciptakannya kembali. Mereka mengisi bejana yang kosong itu dengan makna yang sama sekali baru: kasih dari Allah yang memberi sebelum seorang pun meminta, yang mati bagi orang-orang yang tidak layak menerimanya, dan yang tidak pernah berhenti sampai Ia menjangkau mereka yang Ia ciptakan.

Konkordansi Strong mencatat agape sebagai G26. Kata ini muncul 116 kali dalam Perjanjian Baru. Tak ada kata lain yang menanggung bobot teologis sebesar itu.


Empat Kata Yunani untuk Kasih

Untuk memahami apa arti agape, Anda perlu melihat apa yang bukan agape. Bahasa Yunani membedakan empat jenis kasih, dan masing-masing berjalan di atas dasar yang berbeda.

1. Eros (ἔρως) — Kasih Asmara yang Menggebu

Eros menggambarkan ketertarikan romantis dan seksual. Inilah kasih yang lahir dari hasrat — kasih yang menginginkan sesuatu dari orang lain. Kata ini tidak pernah muncul dalam Perjanjian Baru. Sekali pun tidak. Para penulis Alkitab menghindarinya sama sekali, besar kemungkinan karena kaitannya yang erat dengan dewa Yunani Eros dan dengan kasih sayang yang bersifat dagang, yang digerakkan selera.

Eros bukan sesuatu yang jahat. Kidung Agung merayakan cinta asmara. Tetapi eros yang berdiri sendiri selalu bersyarat: ia bergantung pada daya tarik objeknya. Ketika daya tarik itu pudar, eros pun surut.

2. Storge (στοργή) — Kasih Sayang Kekeluargaan

Storge menunjuk pada ikatan alamiah antaranggota keluarga — kasih naluriah seorang orang tua kepada anaknya. Dalam Perjanjian Baru kata ini hanya muncul dalam bentuk negatifnya, (astorgos) ἄστοργος — "tanpa kasih sayang alamiah" — di Roma 1:31 (TB menerjemahkannya "tidak penyayang") dan 2 Timotius 3:3 ("tidak tahu mengasihi"). Storge itu kuat, tetapi tetap berpijak pada pertalian darah. Cabut ikatan keluarganya, dan storge kehilangan dasarnya.

3. Fileo (φιλέω) — Persahabatan, Kasih Persaudaraan

Fileo adalah kasih persahabatan yang dalam, kasih sayang dan kesenangan yang saling dibagi. Philadelphia — "kota kasih persaudaraan" — mengambil namanya dari kata ini. Fileo itu hangat, personal, dan timbal balik. Ia bertumpu pada pengalaman bersama, nilai bersama, dan kedekatan hati.

Yesus merasakan fileo. Ia menangis di kubur Lazarus. Yohanes 11:36 mencatat bahwa orang-orang Yahudi berkata, "Lihatlah, betapa kasih-Nya kepadanya!" Yohanes 11:36 (TB) — dan kata yang dipakai di situ adalah bentuk dari fileo. Yesus punya sahabat, dan persahabatan itu menggerakkan hati-Nya.

Namun ada satu syarat yang tertanam dalam bangunan fileo: timbal balik. Anda bersahabat dengan seseorang karena orang itu juga bersahabat dengan Anda. Tarik kembali persahabatan itu, dan fileo melemah.

4. Agape (ἀγάπη) — Kasih Tanpa Syarat yang Rela Berkorban

Agape berdiri terpisah dari ketiganya karena ia tidak punya syarat. Ia tidak bergantung pada daya tarik yang dikasihi (eros), pada ikatan darah keluarga (storge), atau pada timbal balik persahabatan (fileo). Agape mengasihi karena watak sang pengasih, bukan karena kelayakan yang dikasihi.

Inilah kata yang dipakai Perjanjian Baru ketika menggambarkan kasih Allah kepada manusia. Inilah kata yang dipilih Paulus ketika ia menulis 1 Korintus 13. Inilah kata yang dipakai Yohanes ketika ia menulis teologi kasih ilahi yang paling pekat di seluruh Alkitab.

Setiap jenis kasih yang lain bertanya: Apa yang saya terima? Agape bertanya: Apa yang bisa saya berikan?


Bagaimana Perjanjian Baru Mengubah Agape

Sebelum abad pertama, tidak ada filsuf Yunani yang mendefinisikan kasih seperti Paulus mendefinisikannya dalam 1 Korintus 13. Tidak ada penyair Yunani yang memakai agape untuk menggambarkan dewa yang mati bagi musuh-musuhnya. Dewa-dewi mitologi Yunani mengasihi dengan syarat. Zeus mengasihi mereka yang menyenangkan hatinya dan membinasakan yang tidak. Afrodit membagikan cinta asmara sebagai senjata. Seluruh jajaran dewa itu bergerak di atas eros dan kuasa — bukan di atas pengorbanan diri.

Ketika para penulis Perjanjian Baru memakai agape untuk menggambarkan Allah Israel, mereka memperkenalkan gagasan yang tak ada bandingnya dalam pemikiran kafir: Allah yang ciri utamanya bukan kuasa, bukan murka, bukan sikap acuh, melainkan kasih yang mahal, tak terbeli, dan tak tertarik kembali.

Rasul Yohanes berkata:

"Allah adalah kasih." 1 Yohanes 4:8 (TB)

Ia tidak berkata Allah memiliki kasih, atau Allah menunjukkan kasih, atau Allah merasakan kasih. Ia berkata Allah adalah kasih — (agape) ἀγάπη. Kasih bukan salah satu sifat di antara banyak sifat. Kasih adalah bahan dasar watak-Nya. Setiap sifat lain — kekudusan-Nya, kuasa-Nya, keadilan-Nya — bekerja di atas fondasi ini.

Dan Yohanes membuat satu pembedaan penting lagi. Ia menjelaskan seperti apa wujud agape itu:

"Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita." 1 Yohanes 4:10 (TB)

Definisi kasih menurut Alkitab bukanlah kasih Anda kepada Allah. Melainkan kasih Allah kepada Anda. Pembalikan itu menjungkirkan setiap agama buatan manusia. Semua sistem lain berawal dari usaha manusia yang diarahkan ke atas. Injil berawal dari kasih ilahi yang dikirimkan ke bawah.


Ayat-Ayat Kunci tentang Agape

1. Yohanes 3:16 — Ayat yang Paling Terkenal

"Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." Yohanes 3:16 (TB)

Kata kerjanya di sini adalah (egapesen) ἠγάπησεν — bentuk aoris dari agapao, sebuah tindakan yang tuntas dan menentukan. Allah mengasihi. Ia memberi. Bentuk kata kerjanya menunjukkan satu tindakan tunggal yang tak terulang — salib. Dan cakupannya menyeluruh: dunia ini. Bukan segelintir orang pilihan. Bukan mereka yang pantas. Dunia.

2. Roma 5:8 — Kasih yang Tidak Menunggu

"Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa." Roma 5:8 (TB)

Waktunya penting. Allah tidak menunggu kita berbenah. Ia tidak mengasihi kita setelah kita bertobat. Ia mengasihi kita ketika kita masih berdosa. Agape tidak menanggapi kebaikan. Ia menciptakan kebaikan di tempat yang tidak punya kebaikan sama sekali. Kasih karunia tidak mundur selangkah pun saat menyentuh Anda.

3. 1 Korintus 13:4–8 — Watak Agape

"Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Kasih tidak berkesudahan." 1 Korintus 13:4–8 (TB)

Kelima belas ciri itu bukan perintah yang harus Anda capai. Itu potret sebuah Pribadi. Bacalah lagi bagian itu dan gantilah kata "kasih" dengan "Yesus". Yesus itu sabar; Yesus itu murah hati. Yesus tidak cemburu. Yesus tidak mencari keuntungan diri sendiri. Yesus tidak pernah berkesudahan.

Paulus tidak menulis bagian ini untuk memberi Anda daftar tugas. Ia menulisnya untuk memberi Anda sebuah lukisan wajah. Dan karena Allah memandang Anda menurut Yesus, lukisan itulah ukuran yang Ia pakai dalam memperlakukan Anda — bukan ukuran yang Ia tuntut dari Anda sebelum Ia mau memperlakukan Anda demikian.

4. Roma 8:35–39 — Tak Ada yang Dapat Memisahkan Anda

"Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? ... Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita." Roma 8:35, 38–39 (TB)

Paulus mendaftar setiap jenis ancaman — bahaya jasmani, kuasa rohani, bahkan waktu itu sendiri — lalu menyimpulkan bahwa tak satu pun sanggup memutuskan ikatan itu. Kata "memisahkan" adalah (chorisai) χωρίσαι, dari akar kata yang sama yang dipakai untuk perceraian. Paulus sedang berkata: Allah tidak akan pernah menceraikan Anda dari kasih-Nya. Bukan karena kuat pegangan Anda pada-Nya, melainkan karena kuat pegangan-Nya pada Anda.

5. Efesus 3:17–19 — Kasih yang Melampaui Pengetahuan

"Sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih. Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah." Efesus 3:17–19 (TB)

Paulus berdoa agar jemaat Efesus mengenal sesuatu yang melampaui segala pengetahuan. Seorang anak kecil tidak mengerti biologi molekuler, tetapi anak yang berada dalam dekapan orang tuanya tahu rasanya aman. Paulus berdoa agar orang percaya begitu jenuh oleh agape sehingga kasih itu menjadi akar mereka, dasar mereka, seluruh udara yang mereka hirup.


Agape dan Fileo: Percakapan Yesus dengan Petrus

Salah satu percakapan paling menyingkapkan di seluruh Perjanjian Baru terjadi di Yohanes 21:15–17, di tepi Danau Galilea, sesudah Yesus bangkit dari antara orang mati. Petrus telah menyangkal Yesus tiga kali. Kini Yesus memulihkannya — dengan tiga pertanyaan.

Pertanyaan pertama:

"Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?" Yohanes 21:15 (TB)

Yesus memakai kata (agapas) ἀγαπᾷς — "Apakah engkau meng-agape Aku? Apakah engkau mengasihi Aku dengan kasih yang tanpa syarat, yang rela berkorban itu?" Petrus pernah bermegah, "Biarpun mereka semua tergoncang imannya karena Engkau, aku sekali-kali tidak" (Matius 26:33). Yesus seolah bertanya: Masihkah engkau mengaku punya kasih yang tertinggi itu?

Jawaban Petrus jujur:

"Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Yohanes 21:15 (TB)

Tetapi Petrus memakai kata yang berbeda: (philo) φιλῶ — "Tuhan, Engkau tahu aku menyayangi Engkau. Aku punya rasa sayang kepada-Mu. Tetapi aku tidak berani lagi mengaku punya agape." Perlu dicatat, TB menerjemahkan kedua kata Yunani itu dengan satu kata yang sama, "mengasihi", sehingga perbedaannya hanya tampak dalam teks Yunaninya.

Petrus telah belajar sesuatu. Ia pernah bersandar pada kasihnya sendiri kepada Tuhan — dan kasih itu runtuh hanya oleh tekanan pertanyaan seorang hamba perempuan di halaman rumah. Ia tidak bisa lagi bermegah. Yang bisa ia berikan hanyalah yang sungguh ada padanya: rasa sayang yang jujur dan rendah hati.

Yesus mengajukan pertanyaan yang sama untuk kedua kalinya, tetap dengan agapas. Petrus kembali menjawab dengan philo.

Lalu datang pertanyaan ketiga — dan di sinilah bagian ini berbelok. Yesus mengganti kata-Nya. Ia turun ke tempat Petrus berdiri:

"Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Yohanes 21:17 (TB)

Kali ini Yesus memakai (phileis) φιλεῖς — "Petrus, apakah engkau bahkan mem-fileo Aku?" Petrus sedih, bukan karena pertanyaannya diulang, melainkan karena Yesus memakai kata Petrus sendiri. Dan Petrus menjawab, "Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau" — sekali lagi, philo.

Pelajaran yang tertanam dalam percakapan ini bersifat mendasar. Petrus memulai perjalanannya bersama Yesus dengan bermegah atas kasihnya kepada Tuhan. Ia mengakhirinya dengan beristirahat di dalam kasih Tuhan kepadanya. Pergeseran itu — dari "akulah yang mengasihi Yesus" menjadi "akulah orang yang dikasihi Yesus" — adalah pergeseran dari hukum Taurat ke kasih karunia. Yohanes, rasul yang paling memahami hal ini, menyebut dirinya cukup dengan "murid yang dikasihi-Nya" (Yohanes 13:23).

Kasih Anda kepada Allah naik turun. Ia meninggi pada hari Minggu dan menurun pada hari Rabu. Ia melambung sesudah khotbah yang bagus dan terjun bebas sesudah pekan yang berat. Kedudukan Anda di hadapan Allah tidak naik turun mengikuti perasaan Anda. Tetapi agape Allah bagi Anda tetap. Ia tidak pasang surut. Taruhlah kepercayaan Anda pada sesuatu yang grafiknya tidak bergoyang.


Kasih yang Sempurna Melenyapkan Ketakutan: Kaitan Agape dan Fobos

Hubungan antara kasih dan ketakutan bukan kebetulan dalam Perjanjian Baru. Hubungan itu bersifat struktural. Yohanes berkata:

"Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih." 1 Yohanes 4:18 (TB)

Kata "ketakutan" di sini adalah (phobos) φόβος — akar dari kata "fobia". Kata "hukuman" adalah (kolasin) κόλασιν, yang memang berarti hukuman. Maksud Yohanes lugas: ketakutan dan kasih tidak dapat menempati ruang yang sama. Di mana agape memenuhi ruangan, fobos keluar.

Yohanes tidak berkata kasih Anda yang sempurna melenyapkan ketakutan. Ia berkata kasih yang sempurna — dan satu-satunya kasih yang layak disebut sempurna adalah kasih Allah. Anda tidak mengalahkan ketakutan dengan usaha mengasihi yang lebih keras. Anda mengalahkannya lewat penyingkapan betapa dalam Allah sudah mengasihi Anda.

Ini terhubung dengan pola yang membentang dari Kejadian sampai Wahyu. Emosi manusia pertama yang tercatat sesudah kejatuhan adalah takut. Adam berkata kepada Allah, "Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut" (Kejadian 3:10). Sebelum tekanan datang, sebelum penyakit datang, sebelum maut datang — ketakutanlah yang datang lebih dulu. Dan sebelum ketakutan, datanglah penghukuman.

Rantainya berjalan begini: penghukuman melahirkan ketakutan. Ketakutan melahirkan tekanan batin. Tekanan batin melahirkan akibat yang merusak — penyakit, hubungan yang retak, keuangan yang hancur, kebiasaan yang membelenggu. Iblis tahu rantai ini. Seluruh strateginya bergantung pada mata rantai pertama: penghukuman.

Agape memutus rantai itu tepat di akarnya. Ketika Anda percaya bahwa kasih Allah bagi Anda utuh, tanpa syarat, dan sudah dituntaskan di salib, penghukuman kehilangan kuasanya. Tanpa penghukuman, ketakutan tidak punya bahan bakar. Tanpa ketakutan, tekanan batin mereda. Dampak-dampak susulannya — kecemasan, perilaku yang tak terkendali, gejala fisik — mulai pulih bukan lewat kekuatan tekad, melainkan lewat kasih yang diterima.

Inilah sebabnya taktik utama Iblis, sebelum ia sanggup menimbulkan kerusakan apa pun dari luar, adalah membuat Anda merasa tidak dikasihi. Pada baptisan Yesus, Bapa membuka langit dan menyatakan, "Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan" (Matius 3:17). Ketika Iblis datang mencobai Yesus di padang gurun, kata-kata pertamanya adalah, "Jika Engkau Anak Allah..." (Matius 4:3). Ia menghilangkan satu frasa: yang Kukasihi. Iblis tidak menyerang kuasa Yesus. Ia menyerang kesadaran Yesus bahwa Ia dikasihi.

Ia melakukan hal yang sama kepada Anda. Kalau ia berhasil mencabut keyakinan Anda bahwa Allah mengasihi Anda, setiap godaan lain jadi jauh lebih mudah. Tetapi bila Anda berdiri teguh dalam penyingkapan bahwa Andalah yang dikasihi, keunggulannya lenyap.


1 Yohanes 4:17 — Sama Seperti Dia, Demikianlah Anda

Ungkapan terpenuh tentang dampak praktis agape muncul dalam satu ayat yang telah menghasilkan lebih banyak kesaksian kesembuhan, lebih banyak kelepasan dari ketakutan, dan lebih banyak keberanian dalam doa daripada mungkin baris mana pun dalam Perjanjian Baru:

"Dalam hal inilah kasih Allah sempurna di dalam kita, yaitu kalau kita mempunyai keberanian percaya pada hari penghakiman, karena sama seperti Dia, kita juga ada di dalam dunia ini." 1 Yohanes 4:17 (TB)

Bacalah bagian pertamanya dengan saksama. Ayat itu tidak berkata "kasih kita telah disempurnakan". Ayat itu berkata kasih — agape Allah — telah disempurnakan di dalam kita. Kasih Allah bagi Anda telah mencapai kegenapannya. Ia tiba di salib dan ia tetap tinggal di sebelah kanan Bapa.

Hasilnya: keberanian. Bukan rasa bersalah, bukan sikap mengecil, bukan keraguan — keberanian. Dan alasan keberanian itu terangkum dalam satu anak kalimat pendek yang memadatkan seluruh Injil: sama seperti Dia, kita juga ada di dalam dunia ini.

Sebagaimana Yesus benar di sebelah kanan Bapa, demikianlah Anda di dunia ini. Sebagaimana Yesus berada di luar jangkauan penghukuman, demikianlah Anda. Sebagaimana Yesus diterima dan diperkenan, demikianlah Anda. Sebagaimana Yesus sehat dan utuh, demikianlah Anda — bukan karena pencapaian Anda, melainkan karena kedudukan-Nya.

Inilah yang dihasilkan agape. Bukan perasaan hangat. Bukan suasana hati yang mengharu biru. Melainkan penyatuan yang sah, terikat perjanjian, dan permanen dengan Kristus yang bangkit. Anda adalah anggota tubuh-Nya (Efesus 5:30). Apa yang benar tentang Dia di sebelah kanan Bapa, benar tentang Anda di sini, hari ini.


Cara Menerima Agape (Bukan Menghasilkannya)

Di titik inilah kebanyakan pengajar tentang kasih tersesat. Sebagian besar khotbah tentang 1 Korintus 13 memperlakukannya sebagai daftar tugas: bersabarlah, bermurah hatilah, jangan cemburu. Hasilnya kelelahan dan rasa bersalah, sebab tak seorang pun sanggup memenuhi ukuran itu dengan usaha sendiri.

Tetapi Alkitab selalu menempatkan penerimaan agape sebelum pengungkapannya. Setiap kali.

"Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita." 1 Yohanes 4:19 (TB)

Urutannya tidak bisa ditawar. Anda tidak dapat mengasihi sebelum lebih dahulu dikasihi. Anda tidak dapat memberi agape sebelum menerimanya. Aliran vertikal — kasih Allah kepada Anda — harus mendahului aliran horizontal — kasih Anda kepada sesama. Cangkir yang tidak pernah diisi tidak punya apa-apa untuk dituangkan.

Rasul Yohanes memahami ini. Ia tidak menyebut dirinya "murid yang mengasihi Yesus". Ia menyebut dirinya "murid yang dikasihi Yesus" (Yohanes 13:23). Lima kali dalam Injilnya Yohanes memakai sebutan itu — dan lima adalah angka kasih karunia.

Yohanes dan Petrus memberi kita perbandingan yang sempurna. Petrus bermegah atas kasihnya kepada Tuhan: "Biarpun mereka semua tergoncang imannya karena Engkau, aku sekali-kali tidak." Yohanes beristirahat di dalam kasih Tuhan kepadanya. Di salib, di mana orang yang mengandalkan kasihnya sendiri? Bersembunyi. Di mana orang yang mengandalkan kasih Tuhan? Berdiri di kaki salib, cukup dekat sehingga Yesus mempercayakan ibu-Nya sendiri ke dalam pemeliharaannya.

Orang yang beristirahat dalam kasih Allah memiliki persekutuan yang paling karib, kepekaan yang paling cepat, dan kegunaan yang paling besar. Yohaneslah yang pertama mengenali Yesus yang bangkit di tepi danau (Yohanes 21:7). Yohaneslah yang dipercaya memelihara Maria. Yohaneslah yang menulis teologi kasih yang paling dalam di seluruh Alkitab.

Bagaimana Anda menerima agape? Dengan cara yang sama seperti Anda menerima segala sesuatu dalam Kerajaan: dengan memercayainya.

"Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita." 1 Yohanes 4:16 (TB)

Mengetahui saja tidak cukup. Anda harus percaya. Bapa dari anak yang hilang itu mengasihinya sepanjang waktu ia berada di negeri yang jauh. Anak lembu tambun sudah siap. Jubah sudah tersedia. Cincin sudah menunggu. Namun si anak masih berkubang di kandang babi — bukan karena bapanya menahan sesuatu, melainkan karena ia tidak percaya bahwa dirinya dikasihi.

Allah tidak bisa mengasihi Anda lebih daripada yang sudah Ia lakukan. Tetapi iman Andalah yang menentukan seberapa besar jendela yang dilalui kasih itu untuk masuk ke dalam pengalaman Anda. Iman yang lebih besar, jendela yang lebih lebar. Semakin percaya, semakin banyak yang mengalir. Matahari bersinar atas setiap rumah. Rumah dengan jendela terlebarlah yang menerima paling banyak cahaya.


Apa yang Diubah Agape dalam Hidup Sehari-hari

Ketika Anda memahami agape — bukan sebagai gagasan, tetapi sebagai kenyataan yang diterima — hidup Anda sehari-hari tertata ulang dengan cara yang benar-benar terasa.

Ketakutan luruh. Strategi Iblis bertumpu pada dusta bahwa Allah sedang marah kepada Anda. Ia meniru raungan murka seorang raja (Amsal 19:12) supaya Anda percaya Allah melawan Anda. Tetapi Yesaya 54:9 mencatat sumpah Allah: "Seperti Aku telah bersumpah kepadanya bahwa air bah tidak akan meliputi bumi lagi, demikianlah Aku telah bersumpah bahwa Aku tidak akan murka terhadap engkau dan tidak akan menghardik engkau." Begitu Anda memercayai sumpah itu, tiruan Iblis tidak lagi mempan.

Penghukuman patah. Roma 8:1 berkata, "Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus." Penghukuman adalah akar terdalam dari setiap pola yang merusak dalam hidup Anda. Agape mencabutnya sampai ke dasar. Yang tidak ingin diketahui sang penuduh adalah bahwa perkara Anda sudah ditutup.

Dosa kehilangan cengkeramannya. Ketika Yesus berkata kepada perempuan yang kedapatan berzina, "Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang" (Yohanes 8:11), Ia lebih dahulu memberikan karunia bebas dari penghukuman. Kuasa untuk "pergi dan jangan berbuat dosa lagi" lahir dari karunia itu — bukan mendahuluinya. Anda tidak berhenti berbuat dosa supaya menerima kasih. Anda menerima kasih, dan dosa kehilangan daya tariknya.

Keberanian menggantikan rasa ciut. 2 Timotius 1:7 berkata, "Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban." Kata "kasih" di situ adalah (agape) ἀγάπη. Penawar bagi rasa ciut yang membekukan Anda — yang menahan Anda dari perkataan yang berani, langkah yang berani, dan hidup yang penuh — adalah agape yang ditaruh Roh Kudus di dalam diri Anda.

Hubungan membaik. Efesus 5:25 berkata, "Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya." Ukurannya adalah "sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat". Jika Anda tidak punya penyingkapan tentang bagaimana Kristus mengasihi jemaat-Nya, Anda tidak punya sumber untuk mengasihi pasangan Anda. Yang vertikal mengisi yang horizontal. Ketika Anda mengalami agape dari Bapa, Anda punya sesuatu yang nyata untuk dibagikan kepada orang-orang di sekitar Anda.

Jati diri menjadi kokoh. Anda bukan jumlah dari kegagalan Anda, bukan rekam jejak Anda, bukan pula kesalahan Anda yang terakhir. Anda adalah yang dikasihi. Ketika Yesus dibaptis, Bapa menyatakan Dia "yang Kukasihi" di titik terendah di muka bumi — Sungai Yordan dekat Laut Mati, sekitar 400 meter di bawah permukaan laut. Ketika Yesus dimuliakan di atas gunung, Bapa menyatakan Dia "yang Kukasihi" di titik tertinggi di Israel — Gunung Hermon, lebih dari 2.700 meter. Titik terendah, titik tertinggi — putusan Bapa tidak berubah oleh ketinggian.


Jawaban Injil

Perintah terbesar dalam Perjanjian Lama adalah "Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu" (Ulangan 6:5). Selama seribu lima ratus tahun, setiap orang yang mencoba melakukannya gagal. Daud gagal. Musa gagal. Elia gagal. Hukum Taurat menuntut kasih yang tak sanggup dipertahankan oleh manusia yang telah jatuh.

Lalu Yesus datang — satu-satunya Pribadi yang mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan-Nya. Ia menggenapi tuntutan hukum itu. Dan kini Allah berkata: "Cukup. Kamu tidak sanggup mengasihi Aku dengan segenap hatimu, maka Aku akan mengasihi kamu dengan segenap hati-Ku."

Hari ini kita mengasihi Allah bukan untuk memperoleh penerimaan-Nya. Kita mengasihi Dia karena Ia lebih dahulu mengasihi kita. Itulah pembalikan yang dibawa Injil. Itulah arti agape. Bukan kasih Anda yang dikirim ke atas. Melainkan kasih-Nya yang sudah turun lebih dulu.