Hukum Taurat memberitahu Anda apa yang harus dilakukan. Kasih karunia memberitahu Anda apa yang sudah dikerjakan. Sistem yang satu menuntut dari Anda. Yang lain menyediakan bagi Anda. Dan Alkitab sangat jelas mengenai yang mana tempat Anda hidup hari ini.

Kebanyakan orang Kristen pernah mendengar Roma 6:14 dikutip sambil lalu. Hanya sedikit yang berhenti sejenak untuk menimbang apa sebenarnya yang dinyatakan ayat itu. Paulus tidak berkata, "Cobalah menyeimbangkan hukum Taurat dengan kasih karunia." Ia juga tidak berkata, "Pakailah hukum Taurat untuk kekudusan dan kasih karunia untuk keselamatan." Yang ia katakan jauh lebih lugas:

"Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia." Roma 6:14 (TB)

Ayat itu tidak memisahkan kedua sistem menjadi dua departemen. Ia memisahkannya menjadi dua zaman. Anda berada di bawah yang satu, atau di bawah yang lain. Dan menurut Paulus, sistem yang menaungi Anda itulah yang menentukan apakah dosa berkuasa atas hidup Anda.

Artikel ini menelusuri pernyataan itu lewat bahasa Yunani dan Ibrani aslinya, lewat nas-nas utama Perjanjian Baru, dan lewat pertanyaan praktis yang dihadapi setiap orang percaya: kalau kita tidak berada di bawah hukum Taurat, apa yang menjaga kita dari dosa?


Arti "Hukum Taurat" dan "Kasih Karunia" dalam Bahasa Aslinya

Kata Yunani untuk "hukum" dalam Perjanjian Baru adalah (nomos) νόμος — "aturan, prinsip, sistem perintah". Dalam Septuaginta (Perjanjian Lama berbahasa Yunani), nomos dipakai untuk menerjemahkan kata Ibrani (torah) תּוֹרָה — "pengajaran, petunjuk". Taurat itu sendiri bukan sesuatu yang jahat. Paulus menegaskannya terang-terangan:

"Jadi hukum Taurat adalah kudus, dan perintah itu juga adalah kudus, benar dan baik." Roma 7:12 (TB)

Hukum Taurat itu kudus. Masalahnya tidak pernah terletak pada hukum Taurat. Masalahnya ada pada daging yang dialamatinya. Paulus berkata bahwa hukum Taurat "tak berdaya oleh daging" (Roma 8:3) — bukan lemah pada dirinya sendiri, melainkan lemah dalam hal apa yang sanggup dihasilkannya di dalam manusia yang sudah jatuh.

Kata Yunani untuk "kasih karunia" adalah (charis) χάρις — "perkenanan yang tidak dijasai, pemberian cuma-cuma, sesuatu yang mendatangkan sukacita". Charis berkerabat dengan (chara) χαρά, kata Yunani untuk "sukacita". Kasih karunia bukan sekadar kategori teologis. Ia adalah persediaan Allah yang melahirkan sukacita dalam diri orang yang menerimanya.

Yohanes menarik garis yang bersih di antara kedua sistem itu:

"sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus." Yohanes 1:17 (TB)

Perhatikan kata kerjanya. Hukum Taurat diberikan. Kasih karunia dan kebenaran datang — dalam wujud satu Pribadi. Hukum Taurat adalah kumpulan perintah yang disampaikan lewat seorang hamba. Kasih karunia adalah Pribadi yang datang sendiri dalam daging.


Tujuan Hukum Taurat: Cermin, Bukan Tangga

Banyak orang Kristen memperlakukan Sepuluh Perintah Allah sebagai tangga menuju Allah. Taati aturannya, naik setahap demi setahap, raih perkenanan-Nya. Tetapi Alkitab tidak pernah memberi hukum Taurat peran semacam itu. Paulus berkata lugas:

"Sebab tidak seorang pun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat, karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa." Roma 3:20 (TB)

Hukum Taurat tidak pernah dirancang untuk membuat Anda benar. Ia dirancang untuk menunjukkan bahwa Anda tidak benar. Fungsinya cermin, bukan tangga. Cermin bisa memperlihatkan wajah Anda kotor, tetapi cermin tidak bisa mencuci wajah Anda. Di situlah batas hukum Taurat. Ia sanggup mendiagnosis, tetapi tidak sanggup menyembuhkan.

Dalam surat Galatia, Paulus mengatakan bahwa hukum Taurat memegang peran sementara sebagai pengasuh:

"Jadi hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman. Sekarang iman itu telah datang, karena itu kita tidak berada lagi di bawah pengawasan penuntun." Galatia 3:24-25 (TB)

Kata Yunani untuk "penuntun" di sini adalah (paidagogos) παιδαγωγός — seorang hamba rumah tangga di dunia kuno yang mengawasi seorang anak sampai anak itu dewasa. Paidagogos bukan sang ayah. Ia juga bukan sang guru. Ia hanya penjaga yang ditugaskan untuk anak di bawah umur. Maksud Paulus tak bisa disalahpahami: hukum Taurat diperuntukkan bagi bayi-bayi rohani. Kasih karunia adalah kedudukan orang dewasa.

Ketika Israel masih kanak-kanak, Allah menempatkan mereka di bawah hukum Taurat. Ketika genap waktunya, Allah mengutus Anak-Nya untuk menebus mereka yang takluk kepada hukum Taurat dan mengaruniakan kedudukan sebagai anak (Galatia 4:4-5). Aturan dan larangan itu untuk anak-anak. Kedudukan sebagai anak yang sah adalah untuk yang dewasa.


Dua Gunung, Dua Perjanjian

Alkitab menampilkan dua gunung sebagai markas dua perjanjian. Gunung Sinai mewakili perjanjian lama, perjanjian hukum Taurat. Bukit Sion mewakili perjanjian baru, perjanjian kasih karunia. Ibrani 12 melukiskan kontrasnya dengan tajam:

"Sebab kamu tidak datang kepada gunung yang dapat disentuh dan api yang menyala-nyala, kepada kekelaman, kegelapan dan angin badai, atau kepada bunyi sangkakala dan bunyi suara yang membuat mereka yang mendengarnya memohon, supaya jangan lagi berbicara kepada mereka." Ibrani 12:18-19 (TB)

Itulah Gunung Sinai. Api, kegelapan, kengerian. Musa sendiri berkata, "Aku sangat ketakutan dan sangat gemetar" (Ibrani 12:21). Hukum Taurat begitu menakutkan sampai umat memohon agar Allah berhenti berbicara.

Sekarang bandingkan dengan Bukit Sion:

"Tetapi kamu sudah datang ke Bukit Sion, ke kota Allah yang hidup, Yerusalem sorgawi dan kepada beribu-ribu malaikat, suatu kumpulan yang meriah, dan kepada jemaat anak-anak sulung, yang namanya terdaftar di sorga, dan kepada Allah, yang menghakimi semua orang, dan kepada roh-roh orang-orang benar yang telah menjadi sempurna, dan kepada Yesus, Pengantara perjanjian baru, dan kepada darah pemercikan, yang berbicara lebih kuat dari pada darah Habel." Ibrani 12:22-24 (TB)

Gunung Sinai berkata, "Jangan mendekat." Bukit Sion berkata, "Kamu sudah datang." Perjanjian lama mendorong manusia menjauh dari Allah. Perjanjian baru menarik mereka mendekat.

Catatan sejarah meneguhkan kontras itu. Di Gunung Sinai, pada Pentakosta yang pertama, hukum Taurat diberikan dan 3.000 orang mati (Keluaran 32:28). Pada hari Pentakosta dalam Kisah Para Rasul 2, Roh Kudus dicurahkan dan 3.000 orang diselamatkan (Kisah Para Rasul 2:41). Hukum yang tertulis mematikan; Roh menghidupkan. Paulus menyatakannya tanpa ambigu:

"Ia membuat kami juga sanggup menjadi pelayan-pelayan dari suatu perjanjian baru, yang tidak terdiri dari hukum yang tertulis, tetapi dari Roh, sebab hukum yang tertulis mematikan, tetapi Roh menghidupkan." 2 Korintus 3:6 (TB)

Lalu ia memberi nama khusus kepada masing-masing pelayanan itu:

"Pelayanan yang memimpin kepada kematian, yang pemberitaannya terukir dengan huruf pada loh-loh batu, datang dengan kemuliaan... betapa lebih besarnya lagi kemuliaan yang menyertai pelayanan Roh? Sebab, jika pelayanan yang memimpin kepada penghukuman itu mulia, betapa lebih mulianya lagi pelayanan yang memimpin kepada pembenaran." 2 Korintus 3:7-9 (TB)

Paulus menyebut Sepuluh Perintah Allah — persisnya firman yang "terukir dengan huruf pada loh-loh batu" — sebagai pelayanan yang memimpin kepada kematian dan kepada penghukuman. Tidak ada bagian lain dari hukum Taurat yang ditulis di atas batu. Hanya Sepuluh Perintah Allah yang digoreskan oleh jari Allah pada loh batu. Dan Paulus menyebut pelayanan itu mulia, tetapi berlalu. Pelayanan pembenaran oleh iman jauh melampaui kemuliaannya.


Menikah dengan Tuan Hukum Taurat: Ilustrasi Roma 7

Roma 7 memuat salah satu ilustrasi paling praktis dalam seluruh Perjanjian Baru. Paulus membandingkan hubungan orang percaya dengan hukum Taurat seperti sebuah pernikahan:

"Sebab seorang isteri terikat oleh hukum kepada suaminya selama suaminya itu hidup. Akan tetapi apabila suaminya itu mati, bebaslah ia dari hukum yang mengikatnya kepada suaminya itu." Roma 7:2 (TB)

Bayangkan seorang perempuan yang bersuamikan seseorang bernama Tuan Hukum Taurat. Tuan Hukum Taurat bukan orang jahat. Ia kudus, benar, dan baik — Paulus sendiri yang mengatakannya (Roma 7:12). Tetapi Tuan Hukum Taurat juga penuh tuntutan. Ia memberi perintah, tetapi tidak pernah mengulurkan tangan untuk menolong. Ia berkata, "Lakukan ini," tetapi tidak memberi kekuatan untuk melakukannya. Ia menunjuk setiap kegagalan, tetapi tak pernah menawarkan penghiburan. Di atas kertas ia suami yang sempurna — dalam kenyataan, ia suami yang mustahil dihidupi.

Perempuan itu tidak bisa sekadar pergi. Ia terikat kepada Tuan Hukum Taurat selama suaminya hidup. Bercerai bukan pilihan. Satu-satunya jalan keluar adalah kematian.

Dan itulah yang persis terjadi di kayu salib. Anda mati bersama Kristus. Ketika Yesus mati, Anda ikut mati. Paulus menerapkan ilustrasi itu:

"Sebab itu, saudara-saudaraku, kamu juga telah mati bagi hukum Taurat oleh tubuh Kristus, supaya kamu menjadi milik orang lain, yaitu milik Dia, yang telah dibangkitkan dari antara orang mati, agar kita berbuah bagi Allah." Roma 7:4 (TB)

Tujuan pernikahan baru ini bukanlah soal dibenarkan atau dihukum. Tujuannya adalah berbuah. Seluruh bagian ini menjawab satu pertanyaan: bagaimana kekudusan yang sejati dihasilkan? Bukan lewat persatuan Anda dengan Tuan Hukum Taurat. Hanya lewat persatuan Anda dengan Kristus yang bangkit.

Tuan Hukum Taurat menuntut buah, tetapi tak pernah sanggup menumbuhkannya. Suami baru Anda — Yesus yang telah bangkit — menghasilkan buah di dalam Anda oleh hidup-Nya sendiri. Beda antara pekerjaan dan buah adalah beda antara upaya dan kehidupan. Pekerjaan lahir dari ketegangan otot. Buah lahir dari getah pokok anggur.


Mengapa Kuasa Dosa Justru Hukum Taurat

Inilah pernyataan yang paling sulit ditelan kebanyakan orang Kristen. Paulus mengatakannya tanpa berputar-putar:

"Sengat maut ialah dosa dan kuasa dosa ialah hukum Taurat." 1 Korintus 15:56 (TB)

Apa yang memberi dosa kekuatannya? Bukan kasih karunia. Hukum Taurat. Sistem yang seharusnya mengekang dosa itu justru menguatkannya.

Paulus menjelaskan mekanismenya dalam Roma 7:

"Tetapi dalam perintah itu dosa mendapat kesempatan untuk membangkitkan di dalam diriku rupa-rupa keinginan; sebab tanpa hukum Taurat dosa mati." Roma 7:8 (TB)

Kata Yunani yang diterjemahkan "kesempatan" di sini adalah (aphorme) ἀφορμή — sebuah istilah militer yang berarti "pangkalan operasi". Pakar bahasa Yunani W.E. Vine mendefinisikannya sebagai "titik tolak" yang dipakai untuk menunjuk "pangkalan operasi dalam peperangan". Paulus berkata bahwa hukum Taurat menyediakan bagi dosa sebuah pangkalan operasi untuk menyerang jiwa.

Dalam perang, begitu Anda menemukan pangkalan operasi musuh, di situlah Anda arahkan seluruh kekuatan. Pangkalan operasi musuh terhadap jiwa Anda bukanlah kasih karunia, melainkan hukum Taurat. Siasat si musuh adalah membuat Anda sadar hukum, supaya dosa bisa memakai perintah itu sebagai landasan peluncuran.

Lihatlah Israel. Dari Mesir sampai Sinai, di bawah kasih karunia yang murni, tak seorang pun mati. Mereka bersungut-sungut di tepi Laut Teberau — tak ada yang mati. Mereka mengeluh soal air di Mara — tak ada yang mati. Mereka menggerutu soal makanan — dan Allah menurunkan manna dari langit. Setiap keluhan baru disambut dengan pertunjukan kasih karunia yang baru. Tidak satu pun dari dua sampai tiga juta orang itu mati sepanjang perjalanan tersebut.

Lalu mereka tiba di Gunung Sinai. Mereka berkata, "Segala yang difirmankan TUHAN akan kami lakukan" (Keluaran 19:8). Mereka bahkan belum mendengar Sepuluh Perintah Allah. Mereka menyangka diri sanggup melakukan apa pun yang akan Allah perintahkan. Pasal berikutnya, Allah memberikan hukum Taurat. Pasal sesudahnya: anak lembu emas. Emas yang justru mereka bawa keluar dari Mesir — emas yang sehari pun tak pernah menggoda mereka selama di bawah kasih karunia — berubah menjadi berhala pada saat mereka menempatkan diri di bawah hukum Taurat. Dan 3.000 orang mati.

Emasnya bukan masalah. Dagingnya juga bukan hal baru. Yang berubah adalah sistemnya. Di bawah kasih karunia, dosa tidak berkuasa. Di bawah hukum Taurat, dosa menemukan pangkalan operasinya.


Ilustrasi Rumah Kaca

Sekelompok anak laki-laki berjalan menyusuri sebuah jalan. Mereka melewati sebuah rumah kaca yang penuh panel kaca. Tidak terjadi apa-apa. Tidak ada godaan. Tidak ada dorongan. Mereka jalan terus.

Di ujung jalan yang sama ada rumah kaca lain. Yang ini memasang papan bertuliskan: "Dilarang Melempar Batu. Mudah Pecah." Tidak ada orang di sekitarnya.

Satu anak menoleh kepada temannya. Anak itu menoleh kepada yang ketiga. Tiba-tiba setiap anak dalam kelompok itu merasakan dorongan yang tiga puluh detik sebelumnya tidak ada.

Rumah kacanya bukan masalah. Papan larangannya juga tidak cacat. Papan itu tepat dan baik — kacanya memang benar-benar rapuh. Tetapi ada sesuatu dalam daging yang bereaksi terhadap larangan. Hukum Taurat itu kudus. Perintahnya benar. Namun daging membutuhkan hukum untuk mengaktifkan dirinya. Itulah sebabnya Paulus menulis, "kuasa dosa ialah hukum Taurat" (1 Korintus 15:56).

Makin keras Anda berusaha tidak mengingini, makin kuat keinginan itu menyala. Makin keras Anda berusaha tidak iri, makin dalam iri itu menancap. Paulus menggambarkan pengalaman yang persis sama:

"Karena aku juga tidak tahu apa itu keinginan, kalau hukum Taurat tidak mengatakan: Jangan mengingini! Tetapi dalam perintah itu dosa mendapat kesempatan untuk membangkitkan di dalam diriku rupa-rupa keinginan; sebab tanpa hukum Taurat dosa mati." Roma 7:7-8 (TB)

Jawabannya bukan menghapus semua ukuran moral. Jawabannya adalah mengganti sistem tempat Anda hidup. Di bawah hukum Taurat, Anda berusaha tidak berbuat dosa — dan Anda justru membangunkan daging. Di bawah kasih karunia, Anda memandang Kristus — dan Roh Kudus menghasilkan buah yang tak pernah sanggup dihasilkan hukum Taurat.


Apa Arti Sebenarnya "Jatuh dari Kasih Karunia"

Kebanyakan orang mengira "jatuh dari kasih karunia" berarti seseorang telah melakukan dosa yang mengerikan. Ungkapan itu telanjur menjadi sebutan untuk kejatuhan moral. Tetapi Paulus memakainya justru untuk hal yang sebaliknya:

"Kamu lepas dari Kristus, jikalau kamu mengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat; kamu hidup di luar kasih karunia." Galatia 5:4 (TB)

Kata Yunani yang dipakai Paulus di sini adalah (ekpipto) ἐκπίπτω — "jatuh dari, terlepas dari tempatnya", dan TB menerjemahkannya "hidup di luar kasih karunia". Anda tidak jatuh dari kasih karunia karena berbuat dosa. Anda jatuh dari kasih karunia karena kembali kepada hukum Taurat. Kata "jatuh" mengandaikan kasih karunia adalah tanah yang lebih tinggi. Kembali menyandarkan kedudukan Anda di hadapan Allah pada ketaatan sendiri berarti merosot dari posisi yang tinggi itu.

Terjemahan J.B. Phillips mengungkapkannya begini: "Jika Anda berusaha dibenarkan oleh hukum Taurat, dengan sendirinya Anda memutuskan diri dari kuasa Kristus; Anda menempatkan diri di luar jangkauan kasih karunia-Nya."

Ketika Kristus menjadi "tidak berdaya" atas hidup Anda — kata Yunaninya (katargeo) καταργέω — "meniadakan dayanya, membuat tak berkuasa" — bukan Dia yang bergeser. Andalah yang bergeser. Anda melangkah turun dari tanah kasih karunia ke tanah usaha sendiri. Dan di tanah itu, Anda ditinggalkan dengan kekuatan Anda sendiri, yang sebenarnya bukan kekuatan sama sekali.

Israel jatuh dari kasih karunia di Sinai sebelum anak lembu emas itu muncul. Anak lembu emas hanyalah gejala. Kejatuhan dari kasih karunia adalah penyebabnya. Jauh sebelum seorang percaya jatuh ke dalam dosa, ia lebih dulu jatuh dari kasih karunia — dengan kembali kepada kesadaran akan hukum, kepada usaha sendiri, dan kepada sistem tuntutan yang sudah Allah gantikan.


Kristus Adalah Kegenapan Hukum Taurat

Paulus menuliskan salah satu pernyataan paling menentukan dalam Perjanjian Baru:

"Sebab Kristus adalah kegenapan hukum Taurat, sehingga kebenaran diperoleh tiap-tiap orang yang percaya." Roma 10:4 (TB)

Kata Yunani yang diterjemahkan TB sebagai "kegenapan" adalah (telos) τέλος. Kata ini memuat dua arti sekaligus: "akhir, penghentian" dan "tujuan, sasaran". Kristus adalah akhir hukum Taurat sekaligus sasaran yang selalu ditunjuk oleh hukum Taurat. Hukum Taurat tidak pernah menjadi tujuan perjalanan. Ia hanyalah rambu penunjuk jalan yang mengarah kepada Yesus.

Dan di kayu salib, utang itu dilunasi:

"dengan menghapuskan surat hutang, yang oleh ketentuan-ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita. Dan itu ditiadakan-Nya dengan memakukannya pada kayu salib." Kolose 2:14 (TB)

"Surat hutang" itu — catatan tuntutan yang dipegang hukum Taurat terhadap setiap orang — dipakukan pada kayu salib. Bukan ditangguhkan. Bukan dijeda. Sudah selesai. Yesus sendiri berseru (tetelestai) τετέλεσται — "Sudah selesai" (Yohanes 19:30). Akar katanya sama dengan telos. Tuntutan hukum Taurat telah mencapai ujungnya di dalam Kristus. Allah tidak lagi menyimpan apa pun terhadap Anda.

Surat Ibrani menegaskan bahwa inilah rencana Allah sejak semula:

"Sebab, jika perjanjian yang pertama itu tidak bercacat, tidak akan dicari lagi tempat untuk yang kedua. Sebab Ia menegur mereka ketika Ia berkata: Sesungguhnya, akan datang waktunya, demikianlah firman Tuhan, Aku akan mengadakan perjanjian baru dengan kaum Israel dan dengan kaum Yehuda, bukan seperti perjanjian yang telah Kuadakan dengan nenek moyang mereka..." Ibrani 8:7-9 (TB)

"Oleh karena Ia berkata-kata tentang perjanjian yang baru, Ia menyatakan yang pertama sebagai perjanjian yang telah menjadi tua." Ibrani 8:13 (TB)

Perjanjian lama tidak sedang dirawat di ruang gawat darurat. Ia sudah usang. Allah sendiri yang menyatakannya demikian. Perjanjian baru diperantarai oleh Pengantara yang lebih baik, ditegakkan di atas janji-janji yang lebih baik, dan dimeteraikan dengan darah yang lebih baik.


Bagaimana Kasih Karunia Menghasilkan Apa yang Tak Sanggup Dihasilkan Hukum Taurat

Kalau kasih karunia menyingkirkan hukum Taurat, apakah kekudusan ikut tersingkir? Inilah pertanyaan yang sudah Paulus antisipasi dalam Roma 6:

"Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu? Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya?" Roma 6:1-2 (TB)

Jawaban Paulus bukan "peganglah hukum Taurat". Jawabannya adalah "kamu sudah mati". Orang mati tidak merespons perintah dosa. Orang percaya yang sejati tidak bisa betah dalam dosa — bukan karena aturan, melainkan karena tabiat yang baru.

Kasih karunia tidak menghasilkan kekudusan yang lebih sedikit daripada hukum Taurat. Ia menghasilkan yang lebih banyak. Hukum Taurat berkata, "Jangan berzinah." Seorang suami bisa saja menaati perintah itu secara lahiriah, sementara hatinya menyimpan kepahitan terhadap istrinya. Ia memelihara hurufnya, tetapi melanggar jiwanya. Namun ketika Anda sibuk dengan Kristus, Dia memberi Anda kasih bagi pasangan Anda — bukan sekadar ketiadaan perzinahan, melainkan hadirnya kemesraan. Hukum Taurat terbatas pada larangan. Kasih karunia menyediakan justru apa yang dituntut hukum Taurat.

Paulus menjelaskan mekanismenya dalam Roma 8:

"Sebab apa yang tidak mungkin dilakukan hukum Taurat karena tak berdaya oleh daging, telah dilakukan oleh Allah. Dengan jalan mengutus Anak-Nya sendiri dalam daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa karena dosa, Ia telah menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam daging, supaya tuntutan hukum Taurat digenapi di dalam kita, yang tidak hidup menurut daging, tetapi menurut Roh." Roma 8:3-4 (TB)

Tuntutan hukum Taurat digenapi di dalam kita — bukan oleh kita. Teks Yunaninya memakai bentuk pasif. Bukan kita yang menggenapi. Roh Kuduslah yang menggenapi tuntutan hukum itu melalui hidup kita, sementara kita berjalan dengan kesadaran akan Kristus, bukan kesadaran akan aturan.

Itulah sebabnya Paulus, dalam Galatia 5, mendaftarkan buah Roh setelah empat pasal pengajaran tentang hukum Taurat versus kasih karunia. Kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri — semuanya adalah panen dari hidup yang dijalani di bawah kasih karunia. Di bawah hukum Taurat, yang Anda dapat adalah "perbuatan daging". Di bawah kasih karunia, yang Anda dapat adalah "buah Roh". Perbuatan lahir dari usaha. Buah lahir dari kehidupan.


Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah ini berarti Sepuluh Perintah Allah itu buruk?

Tidak. Hukum Taurat itu kudus, benar, dan baik (Roma 7:12). Cermin adalah alat yang baik. Masalah timbul ketika Anda memakai cermin untuk mencuci wajah. Hukum Taurat mendiagnosis; ia tidak pernah dirancang untuk menyembuhkan. Kristuslah obatnya.

Apakah orang Kristen bebas berbuat dosa?

Paulus menjawabnya langsung: "Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya?" (Roma 6:2). Pertanyaan itu sendiri menyingkapkan kesalahpahaman tentang kelahiran baru. Orang yang sudah mati bersama Kristus dan menerima tabiat yang baru tidak lagi rindu tinggal dalam dosa. Kasih karunia tidak memberi Anda izin berbuat dosa. Kasih karunia memberi Anda kuasa untuk hidup di atasnya.

Bagaimana dengan perkataan Yesus bahwa Ia datang bukan untuk meniadakan hukum Taurat?

Yesus berkata, "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya" (Matius 5:17). Kata kuncinya adalah "menggenapi". Yesus tidak menghapus hukum Taurat dengan mengabaikannya. Ia memenuhi setiap tuntutannya dengan sempurna, dalam hidup-Nya dan di kayu salib. Hukum Taurat tidak dihancurkan; ia dirampungkan. Dan karena Dia sudah merampungkannya, Anda tidak perlu lagi melakukannya. Kebenaran Anda adalah sebuah Pribadi.

Bagaimana saya tahu bahwa saya telah "jatuh dari kasih karunia"?

Tanyakan pada diri sendiri: di mana letak kepercayaan saya? Jika Anda bersandar pada prestasi, rekam jejak moral, atau kemampuan menaati perintah demi meraih perkenanan Allah, Anda sudah melangkah keluar dari tanah kasih karunia. Tandanya bukan dosa yang mencolok. Tandanya adalah usaha sendiri yang berdandan rohani. Tanah yang Anda pijak menentukan hidup yang Anda jalani.

Seperti apa hidup di bawah kasih karunia dalam praktiknya?

Seperti orang yang tetap mengaku, "Aku adalah kebenaran Allah di dalam Kristus," bahkan setelah gagal. Seperti orang yang membawa kelemahannya kepada Yesus, bukan kepada tekad sendiri. Seperti orang yang mengenyangkan diri dengan karya salib yang telah selesai, bukan dengan roti penghukuman diri. Beda praktis antara hukum Taurat dan kasih karunia adalah beda antara tuntutan dan persediaan. Hukum Taurat menuntut kekudusan. Kasih karunia menyediakannya.


Hukum Taurat adalah hamba yang diutus lebih dulu untuk menyiapkan jalan. Kasih karunia adalah Anak yang datang untuk tinggal. Anda tidak kembali kepada hamba itu setelah Sang Anak ada di dalam rumah.