Apa Arti Charis? Kata Yunani yang Mengubah Segalanya tentang Kasih Karunia

Kebanyakan orang mendefinisikan kasih karunia sebagai "perkenan yang tidak layak kita terima." Itu tidak salah. Tetapi itu belum lengkap — seperti turis yang datang ke Roma, melihat satu air mancur, lalu merasa sudah mengenal seluruh kota.
Kata Yunani di balik "kasih karunia" dalam Perjanjian Baru adalah (charis) χάρις. Kata ini muncul 156 kali dalam 147 ayat. Paulus memakainya. Yohanes membangun pembukaan Injilnya di atasnya. Lukas mencatatnya keluar dari mulut Yesus. Dan maknanya jauh lebih dalam daripada yang sanggup ditampung oleh satu-dua kata terjemahan.
Charis adalah pemberian. Charis adalah kuasa. Charis adalah sikap hati Allah terhadap Anda saat ini juga, sebelum Anda sempat membereskan satu pun perkara dalam hidup Anda. Jika Anda sudah mendengar kata "kasih karunia" seribu kali tetapi masih merasa harus mengusahakan sesuatu supaya Allah berkenan, menelaah charis dengan cermat akan menunjukkan mengapa naluri itu sama sekali tidak berpijak pada teks aslinya.
Artikel ini menelusuri charis dari akar katanya dalam bahasa Yunani sampai kepenuhannya dalam Perjanjian Baru, dan menunjukkan bagaimana satu kata sanggup merobohkan seluruh bangunan agama yang bertumpu pada prestasi.
Definisi Charis
Strong's Concordance memberi charis nomor G5485 dan mendefinisikannya sebagai "kemurahan, baik dalam sikap maupun tindakan; terutama pengaruh ilahi atas hati, dan pantulannya dalam hidup sehari-hari."
Definisi itu memuat empat lapis makna:
- Pemberian atau berkat yang dibawa kepada manusia oleh Yesus Kristus.
- Perkenan — kebaikan hati Allah kepada orang yang tidak mengusahakannya.
- Rasa syukur dan ucapan terima kasih — respons manusia yang sepantasnya atas pemberian itu.
- Kebaikan — tindakan nyata yang menyatakan perkenan itu.
Alkitab Terjemahan Baru paling sering mengalihbahasakan charis menjadi "kasih karunia"; di tempat lain kata yang sama muncul sebagai "karunia", "kemurahan", bahkan "ucapan syukur". Setiap pilihan kata itu menunjuk pada satu kenyataan yang sama: ada sesuatu yang berharga diberikan kepada orang yang tidak membayarnya.
Dalam catatan pelayanan yang menjadi dasar banyak pengajaran di vincents.page, kasih karunia sering dilukiskan begini: hakikat kasih karunia adalah persediaan, hakikat hukum Taurat adalah tuntutan. Kontras itu mengalir lurus melalui seluruh makna charis dalam Perjanjian Baru.
Akar Katanya: Chairo
Charis berasal dari kata kerja (chairo) χαίρω, Strong's G5463, yang berarti "bersukacita, bergembira, dipenuhi kegirangan." Hubungan asal katanya langsung: kasih karunia dan sukacita tumbuh dari akar yang sama.
Ini bukan kebetulan. Dalam kerangka Alkitab, kasih karunia menghasilkan sukacita sebagai buah sulungnya. Ketika para gembala mendengar kabar kelahiran Mesias, malaikat berkata:
Kata "kesukaan" di sini adalah (chara) χαρά — anggota lain dari keluarga kata charis. Injil, kabar baik tentang kasih karunia, melahirkan sukacita, bukan beban kewajiban. Dan itu sudah tertanam dalam akar katanya sendiri: Anda tidak bisa memisahkan kasih karunia dari kegembiraan tanpa mematahkan kata itu berkeping-keping.
Charis dalam Bahasa Yunani Klasik
Jauh sebelum para penulis Perjanjian Baru memungut kata ini, para pengarang Yunani klasik sudah memakainya berabad-abad lamanya. Dalam konteks lama itu, charis mengandung tiga makna utama:
- Sesuatu yang mendatangkan kesenangan — keindahan, pesona, daya tarik. Tiga dewi keanggunan dalam mitologi Yunani (Charites) memikul nama dari akar kata yang sama.
- Kebaikan yang diberikan cuma-cuma — tindakan murah hati tanpa mengharapkan balasan. Di kalangan orang Yunani, kebaikan seperti ini selalu ditujukan kepada sahabat, tidak pernah kepada musuh.
- Rasa syukur yang lahir dari kebaikan itu — tanggapan berterima kasih dari pihak yang menerima.
Yang penting diperhatikan adalah makna kedua. Dalam pemakaian klasik, seseorang menunjukkan charis kepada sahabatnya karena sang sahabat dinilai layak menerimanya. Si pemberi memilih orang yang pantas. Pemberian itu mengalir dari atas ke bawah, dari yang lebih tinggi kepada yang lebih rendah — tetapi selalu kepada teman.
Di titik inilah panggung disiapkan untuk revolusi Perjanjian Baru.
Charis dalam Perjanjian Baru: Perluasan Maknanya
Perjanjian Baru mengambil makna klasik itu lalu memperluasnya ke satu arah yang menentukan: charis Allah tidak dicadangkan bagi sahabat saja. Ia menjangkau musuh.
Paulus mengatakannya terang-terangan:
Charis klasik berkata, "Aku berbuat baik kepadamu karena engkau sahabatku." Charis Perjanjian Baru berkata, "Aku berbuat baik kepadamu karena Aku baik, bukan karena engkau baik."
Inilah pergeseran yang membuat orang Farisi tersinggung dan sampai hari ini masih membuat orang beragama gelisah. Jika kasih karunia bergantung pada watak si pemberi, bukan pada kelayakan si penerima, maka tidak ada prestasi manusia yang bisa menambahnya. Dan tidak ada kegagalan yang bisa menguranginya.
Perjanjian Baru memperluas charis dengan cara kedua pula. Dalam bahasa Yunani klasik, charis menggambarkan kebaikan yang terjadi sekali. Paulus memakainya untuk melukiskan keadaan yang tetap. Orang percaya bukan menerima satu tindakan kasih karunia lalu selesai. Mereka berdiri di dalamnya:
Ungkapan "kita berdiri" dalam bahasa Yunani memakai bentuk perfek: tindakan yang sudah rampung tetapi akibatnya terus berlangsung. Anda masuk ke dalam kasih karunia pada satu titik waktu, dan Anda tinggal di dalamnya untuk seterusnya. Kasih karunia bukan tamu yang singgah. Ia tanah tempat kaki Anda berpijak.
Bagaimana Charis Berbeda dari Chesed dalam Bahasa Ibrani
Perjanjian Lama punya katanya sendiri untuk kasih karunia: (chesed) חֶסֶד. Para penerjemah mengalihbahasakannya menjadi "kasih setia", "kemurahan", "kebajikan", "kasih yang teguh" — dan tidak satu pun dari kata-kata itu menampungnya secara utuh.
Chesed dan charis bertumpang tindih, tetapi keduanya tidak sama persis. Beginilah hubungannya:
Chesed bersifat perjanjian. Ia bekerja dalam kerangka ikatan yang mengikat antara Allah dan umat-Nya. Ketika Daud berkata, "Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku" (Mazmur 23:6, TB), kata "kemurahan" di situ adalah chesed. Itulah komitmen Allah yang setia pada syarat-syarat perjanjian-Nya. Berkat-Nya atas hidup Anda tak dapat ditarik kembali.
Charis lebih luas. Ia melukiskan perkenan Allah yang cuma-cuma, terlepas dari perjanjian apa pun sebelumnya. Ketika Paulus berkata, "Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah" (Efesus 2:8, TB), pemberian itu datang sebelum ada perjanjian apa pun dibuat dengan si penerima. Kasih karunia tidak menunggu Anda memenuhi syarat.
Ada satu detail terjemahan yang menarik dan mempertajam pembedaan ini. Ketika para penerjemah Septuaginta (Perjanjian Lama berbahasa Yunani) membutuhkan padanan Yunani bagi chesed, mereka paling sering memilih (eleos) ἔλεος — "kemurahan" — bukan charis. Sebabnya, chesed menekankan kesetiaan di dalam suatu hubungan, sementara charis menekankan sifat pemberian yang bebas dan tak terbeli.
Namun kedua kata itu menunjuk kepada Allah yang sama. Chesed berkata, "Allah akan menepati janji-Nya." Charis berkata, "Allah sudah memberi bahkan sebelum engkau sanggup menjanjikan apa pun." Bersama-sama keduanya melengkapi gambar: Allah itu setia sekaligus murah hati, terikat janji sekaligus bebas memberi.
6 Nas Penting Perjanjian Baru tentang Charis
1. Yohanes 1:16-17 — Kasih Karunia dan Kebenaran Datang oleh Yesus
Yohanes menempatkan kasih karunia dan hukum Taurat di dua sisi garis pemisah. Hukum Taurat diberikan melalui Musa — sebuah standar dari luar yang diserahkan kepada umat yang tidak sanggup menjalankannya. Kasih karunia dan kebenaran datang melalui Yesus Kristus — bukan sebagai aturan yang dikirim dari kejauhan, melainkan sebagai Pribadi yang hadir dalam daging.
Frasa "kasih karunia demi kasih karunia" dalam bahasa Yunani berbunyi (charin anti charitos) χάριν ἀντὶ χάριτος. Kata depan (anti) ἀντί berarti "menggantikan". Satu gelombang kasih karunia menggantikan gelombang sebelumnya. Persediaannya tidak pernah kering, sebab setiap gelombang selalu digantikan yang baru. (Lebih jauh tentang frasa ini di bawah.)
2. Roma 5:17 — Kelimpahan Kasih Karunia
Paulus memakai ungkapan "kelimpahan kasih karunia" — (perisseia tes charitos) περισσεία τῆς χάριτος — untuk melukiskan takaran yang jauh melampaui kerusakan yang ditimbulkan dosa. Kata kerjanya adalah menerima: mereka yang menerima akan berkuasa. Bukan mereka yang berprestasi. Bukan mereka yang mengusahakan. Melainkan mereka yang menerima. Anugerah kebenaran itulah yang membuat Anda berkuasa dalam hidup, bukan catatan rapor rohani Anda.
3. 2 Korintus 12:9 — Cukuplah Kasih Karunia-Ku
Kata "cukuplah" di sini adalah (arkei) ἀρκεῖ — artinya "memadai, sepadan untuk tugas itu." Paulus tiga kali meminta Allah mencabut duri dalam dagingnya. Jawaban Allah bukan pencabutan, melainkan persediaan: "Charis-Ku cukup." Nas ini mengangkat kasih karunia dari sekadar konsep teologis menjadi kuasa yang aktif. Kasih karunia bukan hanya sikap baik Allah kepada Anda. Ia adalah kekuatan-Nya yang ditanamkan ke dalam kelemahan Anda. Semakin lemah Anda, semakin lapang ruang bagi charis-Nya untuk bekerja.
4. Efesus 2:8-9 — Diselamatkan oleh Kasih Karunia melalui Iman
Paulus tidak menyisakan sejengkal pun ruang bagi sumbangan manusia dalam perkara keselamatan. Itu karena charis. Itu oleh iman. Itu pemberian Allah. Itu bukan hasil pekerjaan. Semua pintu darurat bagi usaha diri sendiri sudah dikunci rapat. Ayat ini seorang diri telah merobohkan sistem-sistem agama yang utuh. Jika keselamatan adalah pemberian, maka satu-satunya tanggapan yang pantas adalah tanggapan yang memang dilahirkan oleh charis itu sendiri: rasa syukur, bukan prestasi.
5. Titus 2:11-12 — Kasih Karunia yang Mendidik
Inilah nas yang membungkam tuduhan bahwa kasih karunia membuat orang hidup sembarangan. Paulus berkata kasih karunia mendidik. Kata Yunaninya (paideuo) παιδεύω — kata yang dipakai untuk orang tua yang mendidik anaknya; TB menerjemahkannya "Ia mendidik kita". Kasih karunia melakukan apa yang tak pernah sanggup dilakukan hukum Taurat: ia menghasilkan hidup yang saleh dari dalam ke luar, bukan lewat ancaman hukuman, melainkan lewat penyingkapan kasih seorang Bapa. Kasih karunia tidak berdebat dengan dosa. Ia mengubah orang yang menerimanya.
6. Roma 6:14 — Bukan di Bawah Hukum Taurat, tetapi di Bawah Kasih Karunia
Paulus tidak berkata, "dosa tidak akan berkuasa atasmu karena engkau berjuang mati-matian." Ia berkata dosa tidak akan berkuasa karena engkau berada di bawah kasih karunia. Alasannya menyangkut kedudukan, bukan perilaku. Orang yang hidup di bawah hukum Taurat mengaktifkan daging. Orang yang beristirahat di bawah kasih karunia mengaktifkan Roh. Kuasa dosa ialah hukum Taurat (1 Korintus 15:56). Singkirkan hukum Taurat, maka dosa kehilangan pijakan. Inilah logika charis.
Charis, Charisma, dan Charismata: Satu Keluarga Kata
Charis tidak berdiri sendirian. Ia punya keluarga kata, dan masing-masing menyingkapkan sisi yang berbeda dari kasih karunia.
(Charisma) χάρισμα — Strong's G5486. Inilah pemberian nyata yang mengalir dari charis. Paulus tampaknya orang yang memperkenalkan kata ini ke dalam kesusastraan Yunani; hampir tak ada jejaknya dalam tulisan-tulisan sebelumnya. Charisma berarti "pemberian yang lahir dari kasih karunia" — sesuatu yang diberikan Allah dengan cuma-cuma. Paulus memakainya untuk keselamatan itu sendiri:
Kata "karunia" di situ adalah charisma. Upah itu dikerjakan; karunia itu diterima. Allah adalah Pemberi, bukan penagih utang. Perbedaan itu jauh lebih penting daripada yang disadari kebanyakan orang.
(Charismata) χαρίσματα — bentuk jamak dari charisma. Paulus memakai kata ini untuk karunia-karunia Roh dalam 1 Korintus 12:
Karunia-karunia Roh — nubuat, kesembuhan, bahasa roh, perkataan pengetahuan — adalah charismata, yang secara harfiah berarti "hal-hal yang dikaruniakan." Itu bukan upah bagi prestasi rohani. Itu pembagian kasih karunia demi kebaikan seluruh tubuh. Karunia rohani yang paling "spektakuler" dan yang paling "biasa" tumbuh dari akar yang sama: charis. Keduanya datang dari Allah yang sama-sama murah hati.
(Charizomai) χαρίζομαι — memberi dengan cuma-cuma, mengampuni. Kata kerja ini muncul dalam Efesus 4:32:
Kata "mengampuni" itu adalah charizomai — mengaruniai seseorang, menghapus utang sebagai tindakan cuma-cuma. Pengampunan adalah kasih karunia yang bergerak. Allah di dalam Kristus telah mengaruniai Anda. Kini Anda bebas mengaruniai orang lain.
Kasih Karunia demi Kasih Karunia: Anti yang Berarti Kelimpahan
Yohanes 1:16 memuat sebuah frasa yang selama berabad-abad membuat para penerjemah termenung:
Teks Yunaninya berbunyi (charin anti charitos) χάριν ἀντὶ χάριτος. Kata (anti) ἀντί di sini tidak berarti "melawan", seperti yang sering kita bayangkan. Dalam bahasa Yunani Koine, anti dapat berarti "menggantikan" atau "sebagai ganti dari".
Uskup Moule memberi salah satu gambaran paling menolong tentang frasa ini. Ia membandingkannya dengan sungai: "Berdirilah di tepinya, dan amatilah aliran airnya. Satu menit berlalu, lalu satu menit lagi. Apakah masih sungai yang sama? Ya. Tetapi apakah masih air yang sama? Tidak. Air yang lama telah digantikan yang baru — air sebagai ganti air."
Inilah kasih karunia yang menggantikan kasih karunia. Satu persediaan habis; persediaan baru langsung mengambil tempatnya. Tidak akan pernah ada kebutuhan dalam hidup Anda yang tak sanggup dijawab oleh gelombang charis Allah yang baru.
Catatan di balik beberapa pengajaran tentang kasih karunia di situs ini memakai gambaran yang sama dari Danau Galilea: ombak demi ombak, satu kasih karunia menggantikan kasih karunia sebelumnya. Keselamatan adalah satu ombak. Baptisan Roh Kudus ombak berikutnya. Kesembuhan, pemeliharaan, hikmat — masing-masing ombak tersendiri yang datang dari samudra kepenuhan Allah yang sama.
Maknanya sangat praktis: Anda tidak mungkin menghabiskan charis. Tenaga Anda bisa habis, tekad Anda bisa habis, kesabaran Anda bisa habis. Tetapi kasih karunia Allah memperbarui dirinya lebih cepat daripada kemampuan Anda memakainya.
Apa yang Bukan Charis
Memahami arti charis juga menuntut kejernihan tentang apa yang bukan artinya.
Charis bukan izin berbuat dosa. Paulus sudah menduga tuduhan ini dan menjawabnya langsung: "Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu? Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya?" (Roma 6:1-2, TB). Kasih karunia tidak melahirkan kebebasan liar, melainkan perubahan.
Charis bukan barang murahan. Ia menuntut Allah menyerahkan Anak-Nya. Ia menuntut Yesus menyerahkan nyawa-Nya. Gratis bagi si penerima, tetapi dibeli dengan harga setinggi-tingginya. Sebuah pemberian tidak menjadi murah hanya karena Anda tidak membayarnya. Nilainya diukur dari apa yang dikorbankan si pemberi.
Charis bukan sesuatu yang pasif. Dalam 2 Korintus 9:8 Paulus menulis: "Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan" (TB). Kata kerja Yunaninya berbentuk kini aktif indikatif — Allah terus-menerus melimpahkan segala kasih karunia kepada Anda pada saat ini juga. Ini bukan harapan yang tertunda ke masa depan. Ini kenyataan hari ini.
Charis bukan pelengkap hukum Taurat. Paulus tegas tanpa tawar-menawar: "Kamu lepas dari Kristus, jikalau kamu mengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat; kamu hidup di luar kasih karunia" (Galatia 5:4, TB). Hukum Taurat dan kasih karunia tak bisa dicampur. Kembali kepada hukum Taurat berarti turun dari tanah yang lebih tinggi. Keduanya dua sistem yang berbeda. Yang satu menuntut dari manusia. Yang lain menyediakan bagi manusia.
Dampak Nyata Charis
Di sinilah telaah kata bertemu dengan hidup sehari-hari.
Jika charis berarti perkenan dan pemberdayaan Allah yang tak terbeli, maka sikap hidup orang Kristen bukanlah berjuang, melainkan menerima. Anda tidak sedang mendaki menuju berkat. Berkat itu sudah turun menghampiri Anda. Satu pengertian itu saja sudah menulis ulang cara Anda menjalani setiap hari.
Jika charis seakar dengan chairo (bersukacita), maka sukacita bukan tambahan yang boleh diambil atau ditinggal. Ia buah wajar dari hidup yang mengerti kasih karunia. Orang yang benar-benar melihat kasih karunia tak akan lama bertahan dalam kemuraman.
Jika charis melahirkan charisma (karunia-karunia kasih karunia), maka karunia rohani bukan jatah orang-orang super rohani. Itu ungkapan kasih karunia, terbuka bagi setiap orang percaya yang berhenti berjuang dan bersandar pada persediaan-Nya.
Jika charis selalu memperbarui dirinya — kasih karunia demi kasih karunia, ombak demi ombak — maka tak ada krisis dalam hidup Anda yang bisa berlari lebih kencang daripada pemeliharaan Allah. Persediaan-Nya bukan kolam yang terbatas. Ia sungai yang tak pernah berhenti mengalir. Dan sungai itu sudah mengalir jauh sebelum Anda dilahirkan.
Dan jika kuasa dosa ialah hukum Taurat (1 Korintus 15:56), maka penawar dosa bukanlah aturan yang lebih banyak, melainkan kasih karunia yang lebih besar. Bidang hidup yang paling sering membuat Anda jatuh bangun biasanya adalah bidang yang belum Anda serahkan untuk beristirahat di dalam charis.
Kasih karunia tidak bermula di kayu salib. Di salib kasih karunia dinyatakan sepenuhnya. Tetapi penyebutan pertama kasih karunia dalam Alkitab ada di Kejadian 6:8:
Nama Nuh — (noach) נֹחַ — berarti "perhentian". Orang pertama yang mendapat kasih karunia adalah orang yang namanya berarti istirahat. Itu bukan kebetulan. Perhentian dan kasih karunia sejak semula memang sejalan.
Maka pertanyaannya bukan, "Apa yang harus kulakukan untuk memperoleh kasih karunia?" Pertanyaan itu menyangkal dirinya sendiri. Pertanyaannya adalah: "Maukah aku menerima apa yang sudah diberikan?"
Kasih karunia bukan kesempatan kedua. Ia rencana Allah yang pertama dan satu-satunya.
Suka tulisan ini? Terima renungan singkat seperti ini di kotak masuk Anda setiap pagi.
