Tujuh puluh empat kali Alkitab menyelipkan sebuah kata yang hampir selalu dilewati pembaca. Ia berdiri di ujung ayat, kadang dalam kurung, dan kebanyakan orang memperlakukannya seperti catatan kaki. Tetapi bagaimana jika kata kecil itu justru petunjuk paling praktis di sepanjang Kitab Suci?

Kata itu adalah selah — dalam Alkitab Terjemahan Baru tertulis Sela.

Ia muncul 71 kali dalam kitab Mazmur dan 3 kali dalam kitab Habakuk. Tidak ada kitab lain yang memuatnya. Tidak ada nabi yang menjelaskannya. Tidak ada rasul yang mendefinisikannya. Namun ia selalu muncul pada saat-saat paling genting dalam buku ibadah umat Allah — tepat sesudah pernyataan tentang perlindungan Allah, tepat sesudah pengakuan dosa, tepat sesudah sebuah kalimat yang begitu besar sehingga menuntut Anda berhenti dan menyerapnya.

Tulisan ini menelusuri kata Ibraninya, menimbang setiap teori besar tentang arti sela, menyusuri mazmur-mazmur penting tempat kata itu berdiri sebagai titik balik, dan menunjukkan mengapa kata purba ini justru lebih relevan hari ini daripada tiga ribu tahun yang lalu.


Daftar Isi

  1. Kata Ibrani di Balik Sela
  2. Berapa Kali Sela Muncul dalam Alkitab?
  3. Lima Teori tentang Arti Sela
  4. Mazmur-Mazmur Tempat Sela Menjadi Titik Balik
  5. Sela dalam Habakuk: Satu-Satunya di Luar Mazmur
  6. Sela dan Teologi Perhentian
  7. Yang Sela Ajarkan tentang Cara Membaca Alkitab
  8. Sela dan Kasih Karunia: Jeda yang Menerima
  9. Cara Mempraktikkan Sela Hari Ini

Kata Ibrani di Balik Sela

Kata Ibraninya adalah (selah) סֶלָה — Strong's H5542. Inilah salah satu kata yang paling diperdebatkan dalam seluruh Perjanjian Lama, sebab tidak ada penulis kuno yang meninggalkan definisi yang jelas tentangnya.

Etimologi yang paling banyak diterima menghubungkan sela dengan kata kerja (salal) סָלַל, yang berarti "mengangkat, meninggikan, meninggikan suara". Jika sela berasal dari salal, maka kata itu adalah sebuah perintah: angkatlah. Angkatlah suaramu. Angkatlah musiknya. Angkatlah kebenaran yang baru saja Anda dengar.

Akar kedua yang mungkin adalah (salah) סָלָה, yang berarti "menggantung", dan dari situ berkembang menjadi "menimbang" atau "mengukur". Dengan pembacaan ini, sela adalah perintah untuk menimbang apa yang baru saja dikatakan — meletakkannya di atas neraca batin Anda dan mengukur nilainya yang sesungguhnya.

Septuaginta — terjemahan Yunani kuno atas Perjanjian Lama — menerjemahkan sela dengan (diapsalma) διάψαλμα, sebuah kata yang berarti "selingan musik" atau "terpisah dari mazmur". Para penerjemah Septuaginta memahami sela sebagai jeda dalam musik, saat instrumen mengisi ruang di antara bagian-bagian nyanyian.

Targum — terjemahan Aram yang dipakai di sinagoge-sinagoge Yahudi — mengalihbahasakan sela sebagai "selama-lamanya" atau "sampai kekekalan", seolah kata itu hendak berkata: kebenaran ini berdiri tanpa akhir.

Tidak ada satu terjemahan pun yang mampu menangkap seluruh warna sela. Tetapi semua teori menunjuk ke arah yang sama: berhentilah, timbanglah, dan biarkan kebenaran ini mengendap.


Berapa Kali Sela Muncul dalam Alkitab?

Sela muncul 74 kali dalam Alkitab Ibrani:

  • 71 kali dalam kitab Mazmur, tersebar di 39 mazmur yang berbeda
  • 3 kali dalam Habakuk 3, satu-satunya kemunculan di luar Mazmur

Sebaran ini bukan kebetulan. Baik Mazmur maupun Habakuk 3 adalah teks ibadah. Habakuk 3 dibuka dengan judul "Doa nabi Habakuk. Menurut nada ratapan" — sebuah istilah musik. Pasal itu memang ditulis untuk dinyanyikan. Sela adalah kosakata penyembahan, bukan kosakata narasi atau hukum.

Ke-39 mazmur yang memuat sela mencakup beberapa pasal paling dikenal di seluruh Kitab Suci: Mazmur 3, Mazmur 23 (walau mazmur ini sendiri tidak memuat sela), Mazmur 32, Mazmur 46, Mazmur 66, dan Mazmur 89. Ketika sela muncul dalam sebuah mazmur, hampir selalu ia menandai sebuah peralihan — dari ratapan menuju percaya, dari takut menuju puji-pujian, dari pengakuan dosa menuju kepastian.


Lima Teori tentang Arti Sela

Para sarjana sudah berabad-abad memperdebatkan arti sela. Inilah lima teori yang paling menonjol.

1. Jeda Musik

Tafsiran paling umum: sela menandai jeda dalam musik. Mazmur tidak ditulis sebagai catatan harian pribadi. Mazmur digubah untuk ibadah bersama, diiringi alat musik, dan dibawakan oleh para musisi Lewi yang terlatih di Bait Allah.

Menurut teori ini, sela memberi tanda kepada para pemusik untuk berhenti sejenak — membiarkan instrumen beristirahat dan kata-kata mengendap. Bagian nyanyian terhenti, dan mungkin jemaat duduk dalam sunyi, atau satu alat musik saja yang berbunyi.

Pandangan ini sejalan dengan terjemahan Septuaginta, diapsalma, dan dengan banyaknya judul mazmur yang menyebut "pemimpin biduan" atau alat musik tertentu.

2. Perintah untuk Meninggikan

Karena sela mungkin berasal dari (salal) סָלַל — "mengangkat, meninggikan" — sebagian sarjana membacanya sebagai aba-aba untuk menaikkan volume. Angkatlah suaramu. Naikkan intensitasnya. Musik tidak berhenti; ia justru memuncak.

Tafsiran ini masuk akal pada mazmur-mazmur di mana sela menyusul sebuah pernyataan tentang kuasa atau kemuliaan Allah. Dalam Mazmur 46:8, teks berseru "TUHAN semesta alam menyertai kita, kota benteng kita ialah Allah Yakub" — lalu ditambahkan sela. Sebuah puncak musik pada saat itu terasa sangat wajar sebagai tanggapan atas kalimat sebesar itu.

3. Perintah untuk Menimbang

Jika sela berasal dari (salah) סָלָה — "menggantung, menimbang" — maka ia berfungsi sebagai instruksi batin: berhenti dan timbanglah apa yang baru saja Anda baca. Letakkan kebenaran itu di atas neraca hati Anda. Jangan buru-buru melewatinya.

Pandangan ini mengubah sela dari catatan musik menjadi sebuah laku rohani. Ia berkata kepada pembaca: ayat yang baru saja Anda lewati jauh lebih berbobot daripada yang Anda kira. Berhentilah, dan ukurlah.

4. Tanda Tanggapan Jemaat

Sebagian sarjana meyakini sela menandai tempat jemaat memberi tanggapan — mungkin dengan "Amin", mungkin dengan refrein yang diulang, mungkin dengan gerakan tubuh seperti membungkuk atau berlutut. Dalam pandangan ini, sela bukan kesunyian, melainkan keterlibatan bersama.

5. Pernyataan Kekekalan

Targum dan sejumlah penafsir rabinik menerjemahkan sela sebagai "selama-lamanya" — semacam meterai keabadian atas kalimat yang mendahuluinya. Dengan pembacaan ini, sela berkata: apa yang baru saja Anda dengar bukanlah sesuatu yang sementara. Itu kebenaran yang kekal.

Setiap teori ini memperlihatkan satu sisi dari berlian yang sama. Entah sela berarti berhenti, meninggikan, menimbang, menanggapi, atau meneguhkan sebagai kekal — semua tafsiran meminta satu hal yang sama dari pembaca: jangan tergesa-gesa melewati bagian ini.


Mazmur-Mazmur Tempat Sela Menjadi Titik Balik

Sela tidak jatuh sembarangan. Dari mazmur ke mazmur, ia muncul persis pada saat suasana berubah, saat teologinya mendalam, atau saat penulisnya berpindah dari satu kenyataan ke kenyataan lain. Berikut empat contoh yang menentukan.

Mazmur 3:2-5 — Dari Tuduhan Menuju Keyakinan

Daud menulis Mazmur 3 saat ia melarikan diri dari Absalom, anaknya sendiri. Mazmur itu dibuka dengan krisis:

"Ya TUHAN, betapa banyaknya lawanku! Banyak orang yang bangkit menyerang aku; banyak orang yang berkata tentang aku: 'Baginya tidak ada pertolongan dari pada Allah.'" Mazmur 3:2-3 (TB)

Sela.

Sela itu berdiri di antara tuduhan dan jawaban Daud. Musuh-musuhnya menyatakan bahwa Allah tidak akan menolongnya. Dan tepat di sana — di celah itu, di dalam jeda itu — sesuatu berbalik. Ayat berikutnya adalah keyakinan yang utuh:

"Tetapi Engkau, TUHAN, adalah perisai yang melindungi aku, Engkaulah kemuliaanku dan yang mengangkat kepalaku. Dengan nyaring aku berseru kepada TUHAN, dan Ia menjawab aku dari gunung-Nya yang kudus." Mazmur 3:4-5 (TB)

Sela.

Dua sela dalam empat ayat. Yang pertama memisahkan vonis musuh dari kebenaran Allah. Yang kedua memeteraikan keyakinan itu. Di sini sela berfungsi sebagai engsel — tempat mazmur berputar dari keputusasaan menuju pernyataan iman. Suara pertama yang perlu Anda dengar dalam setiap krisis bukanlah suara musuh. Sela memberi Anda ruang untuk mendengar suara yang benar.

Mazmur 32:5-7 — Dari Pengakuan Menuju Sorak

Mazmur 32 adalah salah satu mazmur besar Daud tentang pengampunan. Setelah berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan menyembunyikan dosa, akhirnya Daud mengaku:

"Dosaku kuberitahukan kepada-Mu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan; aku berkata: 'Aku akan mengaku kepada TUHAN pelanggaran-pelanggaranku,' dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku." Mazmur 32:5 (TB)

Sela.

Sela itu jatuh tepat setelah pengampunan tiba. Daud mengaku, Allah mengampuni, lalu — berhenti. Biarkan itu mengendap. Jangan buru-buru ke ayat berikutnya. Bobot pengampunan yang penuh, seketika, dan tuntas itu layak mendapat titik yang panjang.

Dan yang menyusul sesudah sela adalah ledakan rasa aman:

"Engkaulah persembunyian bagiku, terhadap kesesakan Engkau menjaga aku, Engkau mengelilingi aku, sehingga aku luput dan bersorak." Mazmur 32:7 (TB)

Sela.

Sekali lagi, sela memeteraikan pernyataan itu. Di tempat rasa bersalah dulu bertakhta, kini pemulihan yang berdiri. Sela menandai saat Anda berhenti mengulang-ulang kegagalan Anda dan mulai menerima kebenaran.

Mazmur 46:8 dan 46:12 — Refrein Hadirat Allah

Mazmur 46 memuat salah satu refrein paling berkuasa dalam Alkitab, dan sela memberi tanda baca padanya sebanyak dua kali:

"TUHAN semesta alam menyertai kita, kota benteng kita ialah Allah Yakub." Mazmur 46:8 (TB)

Sela.

Lalu, sesudah perintah yang termasyhur itu — "Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah!" (ayat 11 dalam TB) — mazmur ini mengulang refrein yang sama:

"TUHAN semesta alam menyertai kita, kota benteng kita ialah Allah Yakub." Mazmur 46:12 (TB)

Sela.

Sela di sini meneguhkan kebenaran pusatnya: Allah hadir. Ia tidak absen. Kata Ibrani untuk "kota benteng" adalah (misgav) מִשְׂגָּב — tempat yang tinggi, benteng di ketinggian yang tak terjangkau musuh. Sela sesudah pernyataan itu berkata kepada Anda: tinggallah di sini. Biarkan kebenaran ini menjadi posisi Anda. Damai sejahtera Allah tidak bergantung pada keadaan yang tenang. Ia bergantung pada hadirat-Nya.

Mazmur 89:5 — Perjanjian yang Kekal

Mazmur 89 merayakan perjanjian Allah dengan Daud. Sela dalam ayat itu menyusul sebuah janji yang lugas:

"Aku hendak menegakkan anak cucumu untuk selama-lamanya dan membangun takhtamu turun-temurun." Mazmur 89:5 (TB)

Sela.

Ayat ini menunjuk melampaui Daud, kepada Mesias — kepada Yesus, Anak Daud yang takhta-Nya tidak berkesudahan. Sela di sini berkata: janji ini lebih besar daripada satu orang, satu keluarga, atau satu zaman. Ia terbentang melintasi seluruh sejarah. Anda adalah bagian dari perjanjian itu, dan jati diri Anda sudah ditegakkan di dalamnya.


Sela dalam Habakuk: Satu-Satunya di Luar Mazmur

Habakuk 3 adalah sebuah mazmur yang bersarang di dalam kitab nubuat. Ia bertajuk musik, menyebut nada ratapan (istilah untuk musik yang penuh gejolak rasa), dan ditutup dengan catatan "untuk pemimpin biduan". Ini teks ibadah yang ditanam di tengah kitab nubuat.

Sela muncul tiga kali dalam Habakuk 3 — di ayat 3, 9, dan 13. Masing-masing menandai jeda di antara lukisan-lukisan tentang kuasa Allah. (Dalam TB, sela pada ayat 3 justru diletakkan di tengah ayat.)

"Allah datang dari negeri Téman dan Yang Mahakudus dari pegunungan Paran. Sela. Semarak-Nya menutupi segenap langit, dan bumi penuh dengan pujian-Nya." Habakuk 3:3 (TB)

Sela.

Habakuk baru saja mengajukan pertanyaan tersulit yang bisa diajukan seorang nabi: mengapa orang fasik makmur sementara orang benar menderita? Sampai pasal 3, ia sudah beranjak dari keluhan menuju penyembahan. Sela-sela dalam pasal ini menandai tempat sang nabi berhenti untuk menyerap jawaban Allah — jawaban yang ternyata bukan penjelasan, melainkan penyingkapan tentang siapa Allah.

Ini penting bagi pembaca yang berpusat pada kasih karunia. Jawaban Allah kepada Habakuk bukanlah "inilah sebabnya engkau menderita". Jawaban Allah adalah "inilah Aku". Sela berkata: berhentilah, dan serap itu. Anda tidak memerlukan peta selama Anda tetap dekat dengan Sang Penunjuk Jalan.


Sela dan Teologi Perhentian

Ada garis lurus yang menghubungkan sela dengan teologi perhentian dalam Alkitab.

Perhentian pertama kali disebut dalam Kejadian 2:2-3, ketika Allah menyelesaikan pekerjaan-Nya dan berhenti pada hari ketujuh. Perhentian itu bukan pemulihan dari kelelahan. Allah tidak pernah lelah. Itu adalah pernyataan tentang kegenapan: pekerjaan ini selesai. Tidak ada lagi yang perlu ditambahkan.

Sela membawa logika yang sama. Ketika pemazmur menuliskan pernyataan tentang kesetiaan Allah lalu menambahkan sela, perintahnya sama: berhenti. Kebenaran ini sudah utuh. Anda tidak perlu menambahinya. Anda hanya perlu menerimanya.

Ibrani 4:9-11 berkata kepada orang percaya di bawah Perjanjian Baru:

"Jadi masih tersedia suatu hari perhentian, hari ketujuh, bagi umat Allah. Sebab barangsiapa telah masuk ke tempat perhentian-Nya, ia sendiri telah berhenti dari segala pekerjaannya, sama seperti Allah berhenti dari pekerjaan-Nya. Karena itu baiklah kita berusaha untuk masuk ke dalam perhentian itu." Ibrani 4:9-11 (TB)

Kata Ibrani untuk berhenti dalam Kejadian 2 adalah (shabat) שָׁבַת — akar kata Sabat. Artinya berhenti, menghentikan, meletakkan pekerjaan. Sela dan Sabat lahir dari dorongan yang sama: berhentilah bekerja. Berhentilah berjuang sendiri. Biarkan apa yang sudah Allah kerjakan menjadi cukup.

Inilah inti teologi kasih karunia. Satu-satunya pertempuran Anda di bawah Perjanjian Baru adalah tetap berada dalam perhentian. Sela adalah bentuk musikal dari pertempuran itu. Setiap kali Anda membaca sela dalam sebuah mazmur, teks itu menyuruh Anda mempraktikkan apa yang diperintahkan Ibrani 4: berhenti dari pekerjaan Anda sendiri dan beristirahat dalam apa yang sudah Allah selesaikan.

Nama Nuh — (noach) נֹחַ — berarti "perhentian". Dan Kejadian 6:8 berkata, "Tetapi Nuh mendapat kasih karunia di mata TUHAN." Perhentian mendapat kasih karunia. Ketika Anda beristirahat, Allah bekerja. Sela mengajarkan kebenaran yang sama lewat jalan yang berbeda: ketika Anda berhenti, Allah berbicara.


Yang Sela Ajarkan tentang Cara Membaca Alkitab

Kebanyakan orang membaca Alkitab seperti membaca berita: cepat, mencari informasi, siap melompat ke bagian berikutnya. Sela memutus kebiasaan itu.

Kata Ibrani untuk "merenungkan" dalam Mazmur 1:2 adalah (hagah) הָגָה, yang berarti "menggumam, berbicara dengan suara rendah, membolak-balik di dalam mulut". Kata itu melukiskan orang yang mengulang-ulang satu ayat sebagaimana orang mengunyah makanan — pelan, sengaja, sampai setiap sari patinya keluar.

"tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam." Mazmur 1:2 (TB)

Sela dan hagah adalah dua laku yang bersaudara. Hagah adalah kunyahan yang lambat dan berulang atas firman Allah. Sela adalah jeda di antara suapan. Keduanya melawan naluri modern untuk tergesa-gesa. Keduanya berkata: firman Allah diberikan untuk disantap, bukan untuk dipindai sekilas.

Yosua 1:8 membuat janjinya gamblang:

"Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung." Yosua 1:8 (TB)

Kata Ibrani yang di sini diterjemahkan TB sebagai "beruntung" adalah (sakal) שָׂכַל, yang berarti bertindak dengan pengertian, memahami, berhasil karena mengerti. Orang yang berhenti sejenak atas firman Allah tidak sekadar menimbun pengetahuan. Orang itu memperoleh (sakal) שָׂכַל — hikmat yang terpakai, yang membuahkan hasil nyata. Definisi keberhasilan sejati dalam Alkitab dimulai dari Firman, bukan dari kerja keras.

Sela adalah mekanisme bawaan untuk semua ini. Setiap kali Mazmur berkata sela, teks itu membuka celah supaya hagah dapat terjadi. Musik berhenti. Suara beristirahat. Dan kebenaran punya ruang untuk berakar sebelum si jahat sempat merampasnya (Markus 4:15).


Sela dan Kasih Karunia: Jeda yang Menerima

Di sinilah sela bersentuhan paling langsung dengan Perjanjian Baru.

Di bawah Perjanjian Lama, ibadah menuntut usaha — korban, ritual, perjalanan ke Yerusalem, persiapan seremonial. Di bawah Perjanjian Baru, ibadah menuntut penerimaan. Anda tidak mendaki kepada Allah. Allah yang turun kepada Anda.

"Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri." Efesus 2:8-9 (TB)

Kasih karunia diterima, bukan diraih. Dan Anda tidak dapat menerima sambil terus berlari. Anda menerima ketika Anda berhenti. Orang yang tangannya penuh tidak bisa menyambut hadiah. Orang yang tidak mau diam tidak akan mendengar suara.

Sela adalah sikap tubuh kasih karunia. Ia berkata: berhentilah menghasilkan. Berhentilah tampil. Berhentilah mengupayakan upah. Biarkan kebenaran yang baru saja Anda dengar mengerjakan pekerjaannya sendiri di dalam diri Anda.

Perhatikan Mazmur 46:11:

"Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah! Aku ditinggikan di antara bangsa-bangsa, ditinggikan di bumi!" Mazmur 46:11 (TB)

Kata Ibrani yang TB terjemahkan "diamlah" adalah (raphah) רָפָה, yang berarti "melepaskan, mengendurkan, mengurai genggaman". Ini bukan perintah untuk bersantai. Ini perintah untuk melepaskan pegangan Anda. Lepaskan keinginan mengendalikan hasil akhirnya. Lepaskan anggapan bahwa Allah membutuhkan bantuan Anda.

Sela adalah raphah yang dipraktikkan. Setiap kali sebuah mazmur berkata sela, ia melatih Anda melepaskan cengkeraman atas ayat itu dan membiarkan Roh Allah menekankan kebenarannya ke dalam hati Anda. Perhentian membuka ruang yang tak pernah bisa dibuka oleh usaha.

Inilah sebabnya sela paling sering muncul sesudah pernyataan tentang sifat Allah — sesudah kalimat tentang kesetiaan-Nya, perlindungan-Nya, pengampunan-Nya, perjanjian-Nya. Semua itu bukan hasil produksi Anda. Anda menerimanya. Dan menerima selalu menuntut sebuah jeda.


Cara Mempraktikkan Sela Hari Ini

Sela bukan sekadar keingintahuan sejarah. Ia adalah laku yang bisa Anda terapkan setiap kali membuka Alkitab.

1. Ketika sebuah ayat menyentak Anda, berhentilah. Jangan terus menggulir layar. Jangan buru-buru pindah pasal. Ayat yang menarik perhatian Anda itulah yang ingin Roh Kudus Anda kunyah. Apa yang Anda santap membentuk siapa Anda.

2. Ucapkan ayat itu dengan suara. Laku hagah dalam tradisi Ibrani bersifat lisan, bukan senyap. Katakan ayat itu dengan nada rendah. Biarkan kata-katanya melewati mulut Anda dan telinga Anda. Iman timbul dari pendengaran, dan apa yang Anda katakan kepada diri sendiri itu diperhitungkan.

3. Biarkan ayat itu berbicara kepada jati diri Anda, bukan kepada perilaku Anda. Sela paling sering muncul sesudah pernyataan tentang siapa Allah dan siapa Anda di hadapan-Nya. Jeda itu bukan untuk membedah diri. Jeda itu untuk menyerap jati diri. Biarkan kebenaran tentang posisi Anda di dalam Kristus mengendap lebih dalam daripada permukaan pikiran Anda.

4. Jangan tergesa-gesa mencari penerapan. Naluri orang Kristen modern adalah bertanya, "Apa yang harus saya lakukan dengan ini?" Sela mengajukan pertanyaan yang lain: "Apa yang kebenaran ini kerjakan atas saya?" Pikiran yang Allah rancang bagi Anda bekerja paling baik saat ia menerima, bukan saat ia mengejar.

5. Praktikkan sela dalam hidup doa Anda. Sesudah berdoa, berhentilah. Sesudah meminta sesuatu kepada Allah, tunggulah. Jangan isi setiap detik dengan kata-kata. Biarkan ada celah. Suara di dalam diri Anda yang bukan suara Anda sendiri berbicara dalam keheningan.


Kata yang Selalu Anda Lewati

Setiap pembaca Mazmur sudah ratusan kali melompati sela. Ia tampak seperti petunjuk panggung. Ia terasa seperti tanda tata letak. Padahal ia adalah petunjuk yang paling sering diulang dalam Alkitab tentang bagaimana bergaul dengan kebenaran.

Sela tidak menambahkan informasi. Sela menambahkan ruang. Dan di dalam ruang itu, kebenaran yang baru saja Anda baca punya waktu untuk menempuh perjalanan dari mata ke hati.

Dunia modern memberi upah kepada kecepatan. Allah memberi upah kepada keheningan. Sela bukanlah gangguan — sela justru inti perkaranya.

Orang yang paling beroleh dari Alkitab bukanlah mereka yang membaca paling cepat, melainkan mereka yang paling lama berani berhenti.