Anda gagal lagi. Dan pikiran pertama yang muncul bukan tentang kegagalan itu sendiri. Melainkan tentang Allah. "Pasti Ia kecewa sekali kepada saya."

Kalimat itu mengendap di dada hampir setiap orang percaya pada satu titik. Bukan keberatan seorang ateis yang lantang. Bukan perdebatan para teolog. Hanya sebuah ketakutan yang Anda simpan sendiri dan tak pernah Anda ucapkan, bahwa Allah yang menyelamatkan Anda kini menggeleng-gelengkan kepala melihat Anda.

Tetapi bagaimana jika gambaran tentang Allah itu keliru? Bagaimana jika Alkitab justru melukiskan seorang Bapa yang berlari menghampiri kegagalan, bukan menjauhinya? Bagaimana jika kata "kecewa" sama sekali tidak ada dalam perbendaharaan hati-Nya terhadap mereka yang menjadi milik Kristus?

Artikel ini menelusuri bahasa asli Yunani dan Ibrani, menimbang 12 nas Alkitab, dan menunjukkan mengapa karya Yesus yang telah selesai mencabut habis dasar bagi kekecewaan ilahi.


Daftar Isi

  1. Mengapa Kita Mengira Allah Kecewa
  2. Apa Arti "Tidak Ada Penghukuman" dalam Bahasa Yunani
  3. 12 Nas Alkitab yang Menjawab Pertanyaan Ini
  4. Anak yang Hilang: Studi Kasus tentang Hati Sang Bapa
  5. Penghukuman vs. Keinsafan: Cara Membedakannya
  6. Ilustrasi Utang yang Dilunasi
  7. Petrus Sesudah Menyangkal: Wajah Kegagalan di Bawah Kasih Karunia
  8. Karya yang Selesai Meniadakan Dasar Kekecewaan
  9. Apa yang Harus Anda Lakukan Saat Merasa Allah Kecewa

Mengapa Kita Mengira Allah Kecewa

Perasaan itu lahir dari tempat yang jelas. Ia tidak datang begitu saja. Ia adalah hasil dari satu cara berpikir yang mengukur hubungan Anda dengan Allah berdasarkan prestasi Anda.

Dalam sistem itu, hari yang baik berarti Allah senang. Hari yang buruk berarti Allah menarik diri. Kegagalan berarti Allah kecewa. Dan kegagalan yang berulang berarti Allah sudah angkat tangan.

Sistem ini ada namanya. Alkitab menyebutnya hukum Taurat. Dan hukum Taurat tidak pernah dirancang untuk melahirkan hubungan dengan Allah. Ia dirancang untuk menunjukkan bahwa Anda membutuhkan hubungan itu.

Rasul Paulus menegaskannya:

"Sebab tidak seorang pun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat, karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa." Roma 3:20 (TB)

Hukum Taurat pandai melakukan satu hal: memperlihatkan di mana Anda jatuh. Ia alat diagnosis, bukan obat. Jika Anda hidup di bawah sistemnya, Anda akan selalu merasa Allah kecewa, sebab hukum Taurat selalu menemukan yang salah.

Namun Anda tidak lagi berada di bawah sistem itu.

"Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia." Roma 6:14 (TB)


Apa Arti "Tidak Ada Penghukuman" dalam Bahasa Yunani

Jawaban paling langsung atas pertanyaan "Apakah Allah kecewa kepada saya?" terletak dalam satu kalimat pendek:

"Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus." Roma 8:1 (TB)

Kata yang TB terjemahkan "penghukuman" di sini adalah (katakrima) κατάκριμα. Itu bukan sebuah perasaan. Itu adalah vonis pengadilan beserta segala akibatnya. Sebuah istilah ruang sidang. Ia menunjuk pada hukuman yang menyusul putusan bersalah — vonis dan semua yang mengikutinya: siksa, malu, keterpisahan, kehilangan.

Paulus berkata bahwa di dalam Kristus, seluruh vonis itu dicabut. Bukan sekadar rasa bersalahnya. Hukumannya secara hukum. Setiap akibatnya. Lenyap.

Kata sangkalan dalam ayat ini adalah (ouden) οὐδέν — sebuah penyangkalan mutlak yang tidak menyisakan pengecualian; TB menyalinnya dengan "tidak ada". Ia menutup semua pintu. Tidak ada penghukuman dalam bentuk apa pun, dengan cara apa pun, pada waktu kapan pun, dengan alasan apa pun, bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus.

Jika tidak ada vonis atas diri Anda, tidak ada pula dasar untuk kekecewaan. Seorang hakim tidak menyatakan kecewa kepada orang yang telah sepenuhnya dibebaskan. Perkaranya sudah ditutup.


12 Nas Alkitab yang Menjawab Pertanyaan Ini

1. Roma 8:33–34 — Tidak Ada yang Bisa Menggugat

"Siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah? Allah, yang membenarkan mereka? Siapakah yang akan menghukum mereka? Kristus Yesus, yang telah mati? Bahkan lebih lagi: yang telah bangkit, yang juga duduk di sebelah kanan Allah, yang malah menjadi Pembela bagi kita?" Roma 8:33–34 (TB)

Jika Allah sendiri yang membenarkan Anda, tidak seorang pun — bukan iblis, bukan orang lain, bahkan bukan hati nurani Anda sendiri — punya dasar hukum untuk mengajukan tuduhan. Dan saat ini Yesus tidak sedang berdiri di sebelah kanan Bapa sambil membacakan daftar kegagalan Anda. Ia ada di sana demi kepentingan Anda.

2. Zefanya 3:17 — Allah Bersukacita atas Anda

"TUHAN Allahmu ada di antaramu sebagai pahlawan yang memberi kemenangan. Ia bergirang karena engkau dengan sukacita, Ia membaharui engkau dalam kasih-Nya, Ia bersorak-sorak karena engkau dengan sorak-sorai," Zefanya 3:17 (TB)

Ayat ini tidak melukiskan Bapa yang kecewa. Ia melukiskan Bapa yang bernyanyi karena Anda. Kata Ibrani untuk "bergirang" di sini adalah (yasis) יָשִׂישׂ — kata yang sama untuk sukacita mempelai laki-laki atas mempelai perempuannya. Allah tidak sekadar bersabar terhadap Anda. Ia merayakan Anda.

3. Ibrani 10:17 — Ia Tidak Lagi Mengingat Dosa Anda

"dan Aku tidak lagi mengingat dosa-dosa dan kesalahan mereka." Ibrani 10:17 (TB)

Anda tidak mungkin kecewa kepada seseorang karena hal yang tidak Anda ingat. Ketika Allah berkata Ia "tidak lagi mengingat" dosa Anda, artinya Ia memutuskan untuk tidak lagi memperhitungkannya atas Anda. Dosa yang membuat Anda meringis pada pukul dua pagi adalah dosa yang sudah Allah arsipkan dengan cap "lunas".

4. Mazmur 103:8–12 — Sejauh Timur dari Barat

"TUHAN adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia. Tidak selalu Ia menuntut, dan tidak untuk selama-lamanya Ia mendendam. Tidak dilakukan-Nya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalas-Nya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita. Tetapi setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setia-Nya atas orang-orang yang takut akan Dia; sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita." Mazmur 103:8–12 (TB)

Daud menulis ini di bawah perjanjian lama, ketika korban binatang hanya menutupi dosa untuk sementara. Terlebih lagi sekarang, bukan? Di bawah perjanjian baru, ketika darah Yesus telah menyingkirkan dosa untuk selama-lamanya.

5. Ratapan 3:22–23 — Selalu Baru Tiap Pagi

"Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!" Ratapan 3:22–23 (TB)

Kata Ibrani di balik "kasih setia" adalah (hesed) חֶסֶד — kasih perjanjian, kebaikan yang setia dan tidak pernah mundur. Kata di balik "rahmat" adalah (rahamim) רַחֲמִים — kelembutan seorang ibu terhadap bayi dalam kandungannya. Ini bukan perasaan Allah yang kecewa. Ini perasaan seorang Bapa yang terikat janji, yang belas kasihan-Nya diperbarui segar setiap hari.

6. 1 Yohanes 3:20 — Allah Lebih Besar dari Hati Anda

"sebab jika kita dituduh olehnya, Allah adalah lebih besar dari pada hati kita serta mengetahui segala sesuatu." 1 Yohanes 3:20 (TB)

Hati Anda akan menuduh Anda. Emosi Anda akan berkata bahwa Allah sudah selesai dengan Anda. Tetapi Allah lebih besar dari hati Anda. Ia tahu lebih banyak daripada yang diketahui perasaan Anda. Ia tahu harga yang telah dibayar. Ia tahu vonis yang telah diumumkan. Dan putusan-Nya membatalkan perasaan Anda.

7. Roma 5:8 — Ketika Anda Masih Berdosa

"Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa." Roma 5:8 (TB)

Allah tidak menunggu Anda bersih dulu baru mengasihi Anda. Ia mengasihi Anda pada titik terburuk Anda. Jika Ia mengasihi Anda saat Anda masih orang berdosa yang sama sekali tidak mengenal-Nya, tentu Ia tidak berhenti sekarang, ketika Anda sudah menjadi anak-Nya yang sesekali tersandung.

8. Roma 8:38–39 — Tidak Ada yang Dapat Memisahkan Anda

"Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita." Roma 8:38–39 (TB)

"Yang ada sekarang" ikut disebut dalam daftar itu. Kegagalan Anda hari ini termasuk hal yang ada sekarang. Dan ia tidak dapat memisahkan Anda dari kasih-Nya. Bukan hari terburuk Anda. Bukan dosa yang paling sering berulang itu. Bukan pula hal yang tak sanggup Anda ceritakan kepada siapa pun.

9. Yesaya 54:9–10 — Sumpah Damai Sejahtera dari Allah

"Keadaan ini bagi-Ku seperti pada zaman Nuh: seperti Aku telah bersumpah kepadanya bahwa air bah tidak akan meliputi bumi lagi, demikianlah Aku telah bersumpah bahwa Aku tidak akan murka terhadap engkau dan tidak akan menghardik engkau lagi. Sebab biarpun gunung-gunung beranjak dan bukit-bukit bergoyang, tetapi kasih setia-Ku tidak akan beranjak dari padamu dan perjanjian damai-Ku tidak akan bergoyang, firman TUHAN, yang mengasihani engkau." Yesaya 54:9–10 (TB)

Allah menaruh komitmen-Nya kepada Anda sejajar dengan perjanjian-Nya atas ciptaan. Ia bersumpah bahwa Ia tidak akan murka kepada Anda. Ini bukan usul. Ini sumpah. Gunung-gunung akan runtuh lebih dulu sebelum kebaikan-Nya kepada Anda beranjak.

10. Ibrani 4:15–16 — Imam Besar yang Turut Merasakan

"Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa. Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya." Ibrani 4:15–16 (TB)

Yesus tidak duduk di takhta sambil terkejut melihat kelemahan Anda. Ia telah dicobai dalam segala hal, sama seperti Anda dicobai. Takhta yang Anda hampiri sesudah gagal bukanlah takhta penghakiman. Itu takhta kasih karunia. Anda disuruh datang dengan penuh keberanian — bukan sesudah Anda memperbaiki diri, melainkan pada waktu Anda memerlukan pertolongan, yaitu tepat pada saat Anda jatuh.

11. Mikha 7:18–19 — Ia Berkenan kepada Kasih Setia

"Siapakah Allah seperti Engkau yang mengampuni dosa, dan yang memaafkan pelanggaran dari sisa-sisa milik-Nya sendiri; yang tidak bertahan dalam murka-Nya untuk seterusnya, melainkan berkenan kepada kasih setia? Biarlah Ia kembali menyayangi kita, menghapuskan kesalahan-kesalahan kita dan melemparkan segala dosa kita ke dalam tubir-tubir laut." Mikha 7:18–19 (TB)

Nabi mengajukan pertanyaan yang layak dijawab: siapakah Allah seperti ini? Ia tidak menyimpan murka. Ia berkenan — bahkan bersukacita — pada kasih setia. Dan Ia melemparkan dosa ke tubir-tubir laut. Bukan ke dalam lemari arsip untuk dibuka lagi suatu hari. Ke dasar samudra.

12. Roma 5:9–10 — Diselamatkan dari Murka

"Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah. Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya!" Roma 5:9–10 (TB)

Logika Paulus rapat tanpa celah. Jika Allah memperdamaikan Anda ketika Anda masih seteru-Nya, apalagi sekarang, ketika Anda sudah menjadi anak-Nya. Ungkapan (pollo mallon) πολλῷ μᾶλλον yang TB terjemahkan "lebih-lebih" muncul lima kali dalam Surat Roma. Setiap kali, arahnya sama: apa yang Yesus kerjakan selalu lebih besar daripada apa yang bisa Anda rusakkan.


Anak yang Hilang: Studi Kasus tentang Hati Sang Bapa

Jika Anda ingin tahu apakah Allah kecewa kepada Anda, pelajarilah Lukas 15. Yesus menceritakan kisah ini untuk menjawab satu tuduhan yang spesifik: "Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka" (Lukas 15:2, TB).

Si anak bungsu meminta warisannya, pergi dari rumah, dan menghamburkannya dalam pilihan-pilihan yang ceroboh. Ia jatuh sampai ke kandang babi — tempat paling hina yang bisa dibayangkan seorang Yahudi. Ia pun menyusun pidato: "Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa" (Lukas 15:18–19, TB).

Pidato itu mewakili cara kebanyakan orang percaya menghampiri Allah sesudah gagal. Logikanya: saya sudah mengacau, jadi saya harus mengusahakan jalan kembali. Mulai dari bawah. Buktikan diri. Mungkin suatu hari saya akan dipercaya lagi.

Tetapi lihatlah apa yang dilakukan sang ayah:

"Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia." Lukas 15:20 (TB)

Kata Yunani yang TB terjemahkan "merangkul" adalah (epipipto) ἐπιπίπτω — kata yang sama dipakai di Kisah Para Rasul 10:44 ketika Roh Kudus "turun ke atas" semua orang yang mendengar berita pengampunan. Artinya pelukan penuh kasih. Sang ayah tidak berdiri dengan tangan bersedekap. Ia berlari dan menerkam anaknya dengan kasih sayang.

Si anak mulai membacakan pidatonya: "Aku telah berdosa..." Tetapi sang ayah memotongnya. Ia tidak pernah membiarkan anak itu sampai pada bagian "jadikanlah aku salah seorang upahan". Sebaliknya, ia memerintahkan tiga hal:

  1. Jubah yang terbaik — jubah milik sang ayah sendiri, pemulihan kehormatan dan jati diri.
  2. Cincin — cincin meterai keluarga, pemulihan wewenang.
  3. Sepatu — hanya anak yang memakai alas kaki di dalam rumah; hamba berjalan bertelanjang kaki.

Lalu sang ayah mengucapkan kalimat yang meruntuhkan mitos tentang kekecewaan ilahi:

"sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali." Lukas 15:24 (TB)

Kata yang dipakai sang ayah untuk "anak" adalah (huios) υἱός — anak laki-laki yang sudah dewasa penuh. Bukan hamba. Bukan anggota rumah yang sedang menjalani masa percobaan. Seorang anak. Kegagalan si bungsu tidak mengubah statusnya. Sang ayah tidak pernah berhenti menyebutnya sebagaimana adanya.

Dalam kisah itu tidak ada ceramah, tidak ada masa percobaan, tidak ada evaluasi kinerja, dan tidak ada hukuman. Sang ayah tidak berkata, "Coba saya lihat dulu enam bulan, baru kita bicara." Ia memulihkan segalanya — seketika, seutuhnya, dan dengan pesta.

Begitulah hati Bapa Anda terhadap Anda saat ini.


Penghukuman vs. Keinsafan: Cara Membedakannya

Salah satu pembedaan terpenting bagi setiap orang percaya adalah perbedaan antara penghukuman dan keinsafan dari Roh Kudus. Rasanya mirip. Keduanya melibatkan kesadaran akan kegagalan. Tetapi sumbernya berlawanan, dan buahnya pun berlawanan.

Penghukuman berkata: "Kamu bersalah. Kamu tidak layak lagi. Allah sudah selesai denganmu. Tidak ada jalan pulang."

Keinsafan berkata: "Itu bukan dirimu yang sebenarnya. Engkau adalah kebenaran Allah di dalam Kristus. Kembalilah kepada apa yang benar."

Yesus menjelaskannya dalam Yohanes 16:8–11. Kata-Nya, Roh Kudus akan menginsafkan dunia akan tiga hal: dosa, kebenaran, dan penghakiman. Tetapi Ia merinci siapa yang menerima masing-masing:

  • Akan dosa — "karena mereka tetap tidak percaya kepada-Ku" (ay. 9). Ini untuk orang yang belum percaya. Roh Kudus menginsafkan mereka akan dosa tidak percaya kepada Kristus.
  • Akan kebenaran — "karena Aku pergi kepada Bapa dan kamu tidak melihat Aku lagi" (ay. 10). Ini untuk orang percaya. Roh Kudus mengingatkan Anda bahwa Anda benar di dalam Kristus.
  • Akan penghakiman — "karena penguasa dunia ini telah dihukum" (ay. 11). Ini menunjuk pada Iblis. Ia sudah dihakimi dan dikalahkan.

Roh Kudus tidak menginsafkan orang percaya akan dosa. Ia menginsafkan orang percaya akan kebenaran. Ketika Anda gagal dan sebuah suara berkata "engkau adalah kebenaran Allah di dalam Kristus", itu Roh Kudus. Ketika Anda gagal dan sebuah suara berkata "kamu munafik dan Allah muak kepadamu", itu suara si pendakwa — dan ia sudah kalah.

Penghukuman mendorong Anda menjauh dari Allah. Keinsafan menarik Anda mendekat. Jika suara itu membuat Anda ingin bersembunyi, itu penghukuman. Jika suara itu membuat Anda ingin berlari kepada Yesus, itu keinsafan. Petrus membuktikannya ketika ia terjun ke danau sesudah menyangkal, bergerak menuju Yesus, bukan menjauh dari-Nya. Ia mengenal sesuatu tentang Tuhannya: "Ya, aku mengenal diriku, tetapi lebih daripada aku mengenal diriku, aku mengenal Dia. Hati nuraniku memberitahukan dosaku, tetapi imanku memberitahukan Juruselamatku."


Ilustrasi Utang yang Dilunasi

Bayangkan Anda berutang seratus juta rupiah kepada seseorang dan tidak sanggup membayar. Setiap kali melihat orang itu, rasa bersalah naik ke tenggorokan. Anda menghindar. Anda memilih jalan memutar. Anda gentar membayangkan berpapasan dengannya di pasar. Utang itu menekan hati nurani Anda seperti beban.

Sekarang bayangkan seseorang datang dan membayar bukan seratus juta, melainkan sepuluh miliar atas nama Anda. Orang yang Anda utangi justru mendapat untung karena Anda. Ketika Anda bertemu dia lagi, tidak ada rasa bersalah. Tidak ada menghindar. Tidak ada rasa gentar. Anda bisa menatap matanya.

Itulah yang Yesus kerjakan di salib. Ia tidak membayar cicilan minimum. Ia membayar lebih. Nilai satu korban-Nya melampaui utang setiap dosa yang pernah Anda lakukan dan yang akan pernah Anda lakukan. Alkitab menyebut Dia (hilasmos) ἱλασμός — pendamaian, pemuasan penuh atas setiap tuntutan keadilan Allah terhadap Anda:

"Dan Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia." 1 Yohanes 2:2 (TB)

Kata (hilasmos) ἱλασμός berarti "sesuatu yang memuaskan sepenuhnya". Yesus tidak memuaskan keadilan Allah setengah-setengah. Ia memuaskannya seutuhnya. Tidak ada sisa tagihan. Tidak ada utang tersisa yang bisa melahirkan rasa bersalah di hati nurani Anda.

Jika utang sudah dibayar — bahkan dibayar berlebih — maka si pemberi utang tidak punya tuntutan. Dan jika ia tidak punya tuntutan, tidak ada dasar untuk kekecewaan. Allah tidak kecewa kepada Anda, karena Yesus sudah menutup seluruh perhitungan itu.


Petrus Sesudah Menyangkal: Wajah Kegagalan di Bawah Kasih Karunia

Petrus menyangkal Yesus tiga kali. Ia mengutuk dan bersumpah bahwa ia tidak pernah mengenal Tuhannya. Dan ketika ayam berkokok, Yesus berpaling dan memandang dia. Petrus keluar dan menangis dengan sedihnya (Lukas 22:61–62).

Jika ada orang yang punya alasan untuk yakin Allah kecewa, orang itu Petrus. Ia menerima peringatan yang paling pribadi. Ia mengucapkan janji yang paling berani. Dan ia menghasilkan kegagalan yang paling terbuka di depan umum.

Namun dalam Yohanes 21, sesudah kebangkitan, Petrus melihat Yesus di pantai. Dan ia melakukan sesuatu yang membuka seluruh rahasia cara kerja kasih karunia:

"Ketika Simon Petrus mendengar, bahwa itu adalah Tuhan, maka ia mengenakan pakaiannya, sebab ia tidak berpakaian, lalu terjun ke dalam danau." Yohanes 21:7 (TB)

Petrus tidak berenang ke arah sebaliknya. Ia tidak bersembunyi di balik punggung murid-murid lain. Ia terjun ke air dan langsung menuju Yesus. Mengapa? Karena Petrus mengenal sesuatu tentang Tuhannya: bahkan sesudah kegagalan terburuknya, Yesus tetap aman untuk dihampiri.

Dan apa yang Yesus lakukan? Ia tidak berceramah. Ia tidak menuntut permintaan maaf bertele-tele. Ia menyiapkan sarapan. Ia melayani Petrus. Lalu Ia memulihkannya — tiga kali, satu untuk setiap penyangkalan:

"Gembalakanlah domba-domba-Ku... Gembalakanlah domba-domba-Ku... Gembalakanlah domba-domba-Ku." Yohanes 21:15–17 (TB)

Dari semua murid, yang gagal paling terbuka justru diberi tugas paling penting: merawat orang-orang yang paling Yesus kasihi. Di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah (Roma 5:20). Kegagalan Petrus tidak mendiskualifikasi dia. Justru kegagalan itu menempatkannya untuk memahami kasih karunia sedalam yang tak dipahami murid-murid lain.


Karya yang Selesai Meniadakan Dasar Kekecewaan

Kekecewaan menuntut adanya harapan yang tidak terpenuhi. Jika seseorang mengharapkan Anda berprestasi lalu Anda tidak sampai, kekecewaan menyusul. Tetapi inilah pertanyaan yang harus dijawab setiap orang percaya: apa yang Allah harapkan dari Anda?

Di bawah perjanjian lama, Allah menuntut ketaatan pada hukum Taurat. Tidak ada seorang pun yang memenuhinya. Di bawah perjanjian baru, Allah menghendaki Anda percaya kepada Dia yang telah diutus-Nya (Yohanes 6:29). Seluruh tuntutan itu telah berpindah dari kinerja Anda kepada kinerja Kristus.

"Sebab apa yang tidak mungkin dilakukan hukum Taurat karena tak berdaya oleh daging, telah dilakukan oleh Allah. Dengan jalan mengutus Anak-Nya sendiri dalam daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa karena dosa, Ia telah menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam daging, supaya tuntutan hukum Taurat digenapi di dalam kita, yang tidak hidup menurut daging, tetapi menurut Roh." Roma 8:3–4 (TB)

Allah tidak menurunkan standar. Ia sendiri yang memenuhinya melalui Anak-Nya. Tuntutan hukum Taurat digenapi di dalam kita — bukan oleh kita, melainkan di dalam kita melalui Kristus. Harapan Allah sudah terpenuhi. Bukan oleh jerih payah Anda, melainkan oleh karya Yesus yang telah selesai.

Itulah sebabnya Yesus berseru "Sudah selesai" di kayu salib. Kata Yunaninya adalah (tetelestai) τετέλεσται — istilah dalam transaksi dagang yang berarti "lunas dibayar". Kata itu dicapkan pada kuitansi ketika sebuah utang telah ditebus habis. Setiap tuntutan hukum Taurat. Setiap syarat kekudusan. Setiap klaim keadilan. Lunas. Sampai. Tuntas.

Jika tagihan sudah dibayar, pedagang tidak punya alasan untuk kecewa. Jika hukum sudah digenapi, Hakim tidak punya dasar untuk menjatuhkan vonis. Dan jika Allah sendiri menyatakan pekerjaan itu selesai, maka tidak ada lagi yang perlu Anda tambahkan padanya.


Apa yang Harus Anda Lakukan Saat Merasa Allah Kecewa

Perasaan itu akan datang. Sebanyak apa pun teologi yang Anda kuasai. Hati nurani, daging, dan si musuh akan bergabung untuk membisikkan bahwa Allah sudah muak dengan Anda. Inilah yang perlu Anda lakukan saat itu terjadi.

1. Kenali Sumbernya

Tanyakan: apakah suara ini membuat saya ingin berlari kepada Allah atau menjauh dari-Nya? Jika ia mendorong Anda menjauh, itu penghukuman, dan penghukuman bukan berasal dari Roh Kudus. Roh Kudus menginsafkan Anda akan kebenaran, bukan akan kegagalan.

2. Nyatakan Apa yang Benar

Bukalah mulut Anda dan ucapkan: "Saya adalah kebenaran Allah di dalam Kristus." Mungkin Anda tidak merasakannya. Ucapkan saja. Alkitab menyebut kekristenan sebagai "pengakuan yang besar". Pernyataan Anda tidak menciptakan kenyataan itu — ia hanya menyetujui apa yang sudah benar.

"Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan." Roma 10:10 (TB)

3. Teruslah Menerima, Terutama Saat Anda Gagal

Roma 5:17 berbicara tentang mereka yang "menerima kelimpahan kasih karunia dan anugerah kebenaran" — merekalah yang "hidup dan berkuasa". Kata "menerima" di sana, (lambanontes) λαμβάνοντες, berbentuk kini dan aktif. Artinya: teruslah menerima, sekarang juga, secara aktif. Bukan hanya di altar panggilan bertahun-tahun lalu. Hari ini. Terutama pada saat Anda jatuh.

4. Pandanglah Salib, Bukan Diri Sendiri

Kalau Anda menatap diri sendiri, Anda akan menemukan alasan untuk putus asa. Kalau Anda menatap salib, Anda akan menemukan alasan untuk menyembah. Corrie ten Boom pernah berkata dengan tepat: "Pandanglah sekelilingmu, engkau akan tertekan. Pandanglah ke dalam dirimu, engkau akan murung. Pandanglah Kristus, dan engkau akan tenang."

5. Ingatlah Pemulihan 120%

Dalam korban penebus salah di Imamat 6, orang yang menanggung kesalahan wajib mengembalikan 120% — nilai penuh ditambah seperlimanya. Yesus menjadi korban penebus salah Anda di kayu salib. Karena pengorbanan-Nya, setiap bidang hidup yang dirampas musuh dari Anda kini berada di bawah janji pemulihan yang lebih dari utuh. Kegagalan Anda bukan akhir cerita. Itu justru awal dari pemulihan yang melampaui apa yang hilang.


Allah tidak kecewa kepada Anda. Ia tidak terkejut oleh kelemahan Anda. Ia tidak sedang menimbang ulang keputusan-Nya untuk mengasihi Anda. Ia telah menuntaskan persoalan kedudukan Anda jauh sebelum Anda lahir, di sebuah salib di luar Yerusalem, dengan satu kata: selesai.

Suara yang berkata "Allah kecewa" meminjam bahasa dari sebuah sistem yang sudah berakhir dua ribu tahun lalu. Kebenaran yang memerdekakan Anda jauh lebih sederhana: Anda tidak sedang diadili. Vonis sudah dibacakan. Dan bunyinya: "tidak bersalah".

Allah tidak menuntut Anda tampil sempurna. Ia hanya meminta Anda percaya pada apa yang sudah dituntaskan Anak-Nya bagi Anda.