Siapa yang Mempunyai Apa?

Dalam Matius 13, murid-murid bertanya kepada Yesus mengapa Ia berbicara kepada orang banyak dengan perumpamaan. Sebagian jawaban-Nya berisi sebuah kalimat yang terasa ada satu kata yang hilang.
Siapa yang mempunyai apa? Uang? Bakat? Matius tidak menjelaskannya. Dalam bahasa Yunani pun kata kerjanya, (echei) ἔχει — "mempunyai", berdiri tanpa objek. Yesus membiarkan kalimat itu terbuka, dan pembaca mudah saja melewatinya tanpa bertanya.
Jawabannya ada di Injil yang lain. Perumpamaan tentang penabur tercatat dalam Matius, Markus, dan Lukas. Setiap penulis mencatat hal-hal yang tidak dicatat oleh yang lain. Kalau ketiga catatan itu Anda letakkan berdampingan, kata yang hilang itu pun terisi.
Markus mencatat apa yang Anda dengar
Markus menitikberatkan isinya. Apa yang masuk ke telinga Anda itu penting, sebab tidak semua perkataan sama kuasanya. Pendapat orang dan berita utama mungkin ada gunanya. Tetapi tidak satu pun dari keduanya dapat menghasilkan apa yang dihasilkan oleh firman Allah.
Iman datang dari satu sumber saja. Jadi pertanyaan pertama adalah ini: apakah Anda sungguh-sungguh mendengar firman Allah?
Lukas mencatat cara Anda mendengar
Lukas menitikberatkan sikap hati, dan ia langsung mengaitkannya dengan kata yang hilang tadi. "Perhatikanlah cara kamu mendengar. Karena siapa yang mempunyai..." Kata "karena", dalam bahasa Yunani (gar) γάρ — "sebab, karena", menghubungkan kedua kalimat itu. Jadi yang dimaksud dengan "mempunyai" berkaitan dengan cara mendengar.
Orang yang mempunyai adalah orang yang hatinya mau mendengar. Ia rindu mendengar firman dan rindu memahaminya. Kepada orang seperti itulah lebih banyak lagi diberikan.
Yesus mengucapkan kedua kalimat itu. Markus mencatat bagian pertama, Lukas mencatat bagian kedua. Kalau keduanya disatukan, Anda mendapat pesan yang utuh: perhatikan apa yang Anda dengar, dan perhatikan cara Anda mendengarnya.
Anda memerlukan keduanya
Seorang pria bisa mendengar hal yang benar dengan cara yang salah. Ia duduk di gereja dengan Alkitab terbuka di pangkuannya, sementara jarinya sibuk membalas surel kantor. Firman itu sampai ke telinganya, tetapi tidak sampai ke hatinya.
Seorang wanita bisa mendengar hal yang keliru dengan penuh kerinduan. Berjam-jam ia menyimak ceramah motivasi yang ditutup dengan satu ayat sebagai tempelan. Hatinya terbuka, tetapi benihnya tidak ada.
Beginilah Yesus menggambarkan tanah yang baik:
Benihnya sama untuk setiap jenis tanah. Yang membedakan adalah hati yang menerimanya.
Salomo memohon hal ini
Ketika Allah menyuruh Salomo yang masih muda untuk meminta apa saja, Salomo hanya meminta satu hal.
Frasa yang diterjemahkan TB sebagai "hati yang faham menimbang perkara" dalam bahasa Ibrani adalah (lev shomea) לֵב שֹׁמֵעַ — "hati yang mendengar". Salomo memohon hati yang mau mendengarkan. Allah lalu memberinya hikmat yang belum pernah dimiliki raja mana pun sebelum dia. Kepada orang yang mempunyai, lebih banyak lagi diberikan.
Lukas juga menambahkan satu ungkapan yang tidak ada dalam Matius: "apa yang ia anggap ada padanya." Seseorang bisa bertahun-tahun duduk di bawah khotbah dan tampak seolah-olah sudah menggenggam firman. Tetapi tanpa hati yang mendengar, apa yang ia anggap ada padanya itu tidak akan bertahan.
Anda dapat memohon kepada Allah apa yang dahulu dimohon Salomo. Sebelum membuka Alkitab atau memutar rekaman khotbah, periksalah dua hal. Apakah ini firman Allah? Apakah saya mendengarkan untuk menerimanya? Lalu berdoalah, "Tuhan, berikanlah kepadaku hati yang mendengar."
Seluruh orang banyak itu mendengar firman Allah yang sama. Tetapi Allah memberi lebih banyak lagi kepada mereka yang datang untuk menerimanya.
Suka tulisan ini? Terima renungan singkat seperti ini di kotak masuk Anda setiap pagi.