Sebuah buku teks psikiatri dan sebuah Injil mengatakan hal yang sama: hiduplah di saat ini. Bedanya, Injil sudah mengatakannya dua ribu tahun lebih dahulu.

Kecemasan bukan barang baru. Ia bukan penyakit modern yang lahir dari media sosial dan siklus berita dua puluh empat jam. Daud menuliskannya dalam Mazmur. Elia mengalaminya justru sesudah kemenangan terbesarnya. Paulus memikulnya setiap hari. Bahkan Yesus, di taman Getsemani, berpeluh darah di bawah bebannya.

Alkitab tidak memperlakukan kecemasan sebagai cacat watak. Alkitab memperlakukannya sebagai pengalaman manusia — pengalaman yang disambut Allah dengan janji yang jelas, kata-kata yang jelas, dan satu Pribadi yang jelas.

Artikel ini mengumpulkan ayat-ayat kunci tentang kecemasan, menelusuri kata Ibrani dan Yunani di baliknya, dan menunjukkan seperti apa rupa tanggapan yang berpusat pada kasih karunia.


Arti "Kuatir" dalam Bahasa Yunani Aslinya

Kata yang diterjemahkan "kuatir" dalam Filipi 4:6 adalah (merimnao) μεριμνάω. Kata ini berakar pada (merizo) μερίζω — "membagi, menarik sampai terbelah."

Gambarannya harfiah: sebuah pikiran yang ditarik ke sepuluh arah sekaligus. Anda tidak bisa memusatkan perhatian. Anda tidak bisa diam. Pikiran Anda berpencar ke segala kemungkinan, dan hampir semuanya buruk.

Ada kata yang bersaudara dengannya: (thorybazo) θορυβάζω — dipakai untuk melukiskan Marta dalam Lukas 10:41 — yang berasal dari (thorybos) θόρυβος, kata Yunani untuk kerusuhan atau kerumunan yang gaduh. Dipadukan, kedua kata itu melukiskan satu adegan yang hidup: kecemasan adalah pikiran yang terbelah berkeping-keping sementara segerombolan suara saling berteriak di dalamnya.

Yesus memakai kedua kata itu ketika berbicara kepada Marta:

"Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu." Lukas 10:41–42 (TB)

Ia tidak menegur Marta karena pekerjaannya di dapur. Ia menyentuh apa yang terjadi di dalam dirinya: pikiran yang terbelah dan riuh. Dan jawaban-Nya bukan "berusahalah lebih keras untuk tenang." Jawaban-Nya adalah sebuah Pribadi. Maria memilih duduk di kaki-Nya.

Mazmur 127:2 menyebut keadaan ini dengan ungkapan Ibrani (lechem ha-atsavim) לֶחֶם הָעֲצָבִים — "roti kesusahan", yang dalam TB diterjemahkan "roti yang diperoleh dengan susah payah". Kekuatiran memang bisa disantap seperti roti: berulang-ulang, menjadi kebiasaan, larut malam ketika Anda tidak bisa tidur.

"Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah — sesungguhnya, Ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur." Mazmur 127:2 (TB)

Kata "yang dicintai-Nya" di sini berkerabat dengan (Yedidyah) יְדִידְיָהּ — nama lain Salomo, yang berarti "yang dikasihi TUHAN". Obat bagi roti kesusahan bukanlah usaha yang lebih keras, melainkan jati diri. Anda adalah kekasih TUHAN.


12 Ayat Alkitab tentang Kecemasan

1. Matius 6:25–26 — Janganlah Kuatir

"Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?" Matius 6:25–26 (TB)

Yesus tidak menghakimi orang karena kekuatiran mereka. Ia mengalihkan perhatian mereka kepada watak Bapa: "Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu" (ayat 32). Penawarnya bukan kekuatan tekad, melainkan penyingkapan betapa berharganya Anda.

2. Filipi 4:6–7 — Jangan Kuatir tentang Apa Pun

"Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus." Filipi 4:6–7 (TB)

Paulus tidak berkata "berhentilah merasa cemas." Ia berkata: bawalah kekuatiran itu kepada Allah. Hasilnya bukan Anda berhasil membereskan diri sendiri. Hasilnya adalah damai sejahtera yang menjaga Anda. Damai itulah yang bekerja. Bukan Anda yang memproduksinya.

3. 1 Petrus 5:7 — Serahkan Segala Kekuatiranmu

"Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu." 1 Petrus 5:7 (TB)

Alasan Anda sanggup melepaskan kekuatiran bukanlah kekuatan Anda, melainkan kasih sayang-Nya: "sebab Ia yang memelihara kamu." Anda tidak melemparkan beban ke ruang hampa. Anda menaruhnya pada Seseorang yang memang sudah memedulikan Anda. (Kata Yunani untuk "serahkan" akan dibahas di bawah.)

4. Mazmur 55:23 — Serahkan Bebanmu

"Serahkanlah kuatirmu kepada TUHAN, maka Ia akan memelihara engkau! Tidak untuk selama-lamanya dibiarkan-Nya orang benar itu goyah." Mazmur 55:23 (TB)

Janjinya bukan "Ia akan melenyapkan semua masalahmu." Janjinya adalah "Ia akan memelihara engkau." Allah tidak selalu menyingkirkan situasinya. Ia menopang Anda melewatinya.

5. Yesaya 41:10 — Jangan Takut, Aku Menyertai Engkau

"janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan." Yesaya 41:10 (TB)

Setiap larangan selalu disusul sebuah janji. Jangan takut — sebab Aku menyertai engkau. Jangan bimbang — sebab Aku ini Allahmu. Lima kali Allah berkata "Aku". Dialah yang memikul seluruh beban beratnya. Suara pertama yang perlu Anda dengar dalam krisis apa pun adalah suara-Nya.

6. 2 Timotius 1:7 — Roh Kekuatan, Bukan Roh Ketakutan

"Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban." 2 Timotius 1:7 (TB)

Kata "ketakutan" di sini bukan kata Yunani yang lazim, (phobos) φόβος, melainkan (deilia) δειλία — sikap pengecut yang membeku dan membuat Anda mengkerut mundur. Paulus berkata kepada Timotius: perasaan itu bukan berasal dari Bapamu. Lalu apa yang berasal dari Dia? (Dunamis) δύναμις — kekuatan. (Agape) ἀγάπη — kasih. (Sophronismos) σωφρονισμός — pikiran yang waras dan utuh, yang dalam TB diterjemahkan "ketertiban". Semuanya adalah pemberian yang sudah tersimpan di dalam Anda, bukan standar yang harus Anda capai.

7. Mazmur 94:19 — Ketika Pikiran Cemas Berlipat Ganda

"Apabila bertambah banyak pikiran dalam batinku, penghiburan-Mu menyenangkan jiwaku." Mazmur 94:19 (TB)

Pemazmur tidak berpura-pura kecemasannya sudah lenyap. Ia berkata kecemasan itu justru bertambah banyak. Namun tepat di tengah-tengahnya, penghiburan Allah membawa sukacita. Kecemasan dan penghiburan Allah berdampingan dalam satu ayat ini. Allah menjumpai Anda di dalam kekalutan, bukan sesudah Anda merapikannya.

8. Mazmur 23:4–5 — Hidangan di Hadapan Lawan

"Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku. Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku." Mazmur 23:4–5 (TB)

Daud tidak menghindari lembah itu. Ia berjalan menembusnya. Dan di tempat yang paling gelap, Allah menyiapkan hidangan. Bukan setelah para lawan pergi — melainkan "di hadapan lawanku". Kasih karunia tidak menghapus lembahnya. Kasih karunia menggelar perjamuan di dalamnya.

9. Matius 11:28–30 — Marilah kepada-Ku

"Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan." Matius 11:28–30 (TB)

Yesus berkata "Marilah kepada-Ku" — bukan "bereskan dirimu dulu, baru datang." Janji-Nya adalah "Aku akan memberi kelegaan kepadamu." Perhentian adalah pemberian dari sebuah Pribadi, bukan teknik yang harus dikuasai. Dan Ia melukiskan diri-Nya sendiri "lemah lembut dan rendah hati". Ia tidak keras terhadap orang yang cemas. Ia justru lembut kepada mereka.

10. Roma 8:15 — Roh yang Menjadikan Anak

"Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: 'ya Abba, ya Bapa!'" Roma 8:15 (TB)

Ketakutan di sini dikaitkan dengan perbudakan — dengan sistem lama yang bertumpu pada prestasi di bawah hukum Taurat. Penawarnya bukan usaha yang lebih gigih, melainkan jati diri Anda sebagai anak. "Abba" adalah sapaan yang paling akrab: kata seorang anak kecil untuk ayahnya. Ketakutan luruh lewat hubungan, bukan lewat pencapaian.

11. Yohanes 14:27 — Damai Sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu

"Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu." Yohanes 14:27 (TB)

Yesus berkata "damai sejahtera-Ku". Damai yang sama yang membuat-Nya tertidur pulas di tengah badai. Ia tidak mewariskan sebuah konsep. Ia mewariskan milik-Nya sendiri — seperti warisan keluarga. Damai dunia bergantung pada keadaan yang baik. Damai-Nya bergantung pada pribadi-Nya.

12. Mazmur 46:2–3 — Penolong yang Sungguh Hadir

"Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti. Sebab itu kita tidak akan takut, sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut." Mazmur 46:2–3 (TB)

Allah bukan penolong yang jauh. Ia "penolong dalam kesesakan sangat terbukti". Bukan sesudah kesesakan lewat, melainkan di dalamnya. Kata Ibrani (nimtsa me'od) נִמְצָא מְאֹד — "sungguh-sungguh didapati" — menyiratkan ketersediaan yang langsung dan berlimpah: ditemukan di sini, sekarang juga.


4 Tokoh Alkitab yang Bergumul dengan Kecemasan

Elia — Keterpurukan Sesudah Kemenangan

Sesudah kemenangan terbesarnya di Gunung Karmel — ketika api turun dari langit — Elia menerima ancaman pembunuhan dari Izebel, lalu lari. Ia rebah di bawah sebatang pohon arar dan meminta mati:

"Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku." 1 Raja-raja 19:4 (TB)

Tanggapan Allah layak direnungkan. Ia tidak menegur Elia. Ia tidak menghujaninya dengan ayat. Ia mengirim malaikat membawa makanan dan air — dua kali. Ia membiarkan Elia tidur. Baru kemudian Ia berkata, "perjalananmu nanti terlalu jauh bagimu" (1 Raja-raja 19:7).

Pada masa iman Elia, burung gagak memberinya makan. Pada masa keterpurukannya, malaikat melayaninya dan Allah sendiri mendekat. Allah tidak meninggalkan Anda di titik terendah. Justru di situ Ia mendekat.

Daud — Jujur Apa Adanya di Hadapan Allah

Daud, "orang yang berkenan di hati Allah", menuliskan beberapa kalimat paling cemas dalam seluruh Alkitab:

"Hatiku gelisah di dalam dadaku, kengerian maut telah menimpa aku. Aku dirundung takut dan gentar, perasaan seram meliputi aku." Mazmur 55:5–6 (TB)

Daud tidak merapikan emosinya lebih dulu sebelum menghampiri Allah. Ia tidak berpura-pura. Mazmur-mazmurnya adalah jeritan mentah tanpa saringan — dan Allah menyimpan setiap katanya di dalam Alkitab. Kitab Mazmur memberi Anda izin membawa perasaan Anda yang sebenarnya kepada Allah.

Yesus — Kepedihan di Getsemani

"Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah." Lukas 22:44 (TB)

Kata Yunani di balik "sangat ketakutan" adalah (agonia) ἀγωνία — bentuk penderitaan batin yang paling hebat. Ilmu kedokteran mengenal kondisi langka bernama hematidrosis, ketika penderitaan yang ekstrem membuat pembuluh kapiler di dekat kelenjar keringat pecah. Yesus, Anak Allah yang tak berdosa, mengalami kecemasan paling ekstrem yang pernah tercatat. Dan Ia tidak berbuat dosa.

Paulus — Beban Setiap Hari

Paulus yang menulis "janganlah hendaknya kamu kuatir" juga mengaku:

"Dan belum termasuk hal-hal lain itu, masih ada urusanku sehari-hari, yaitu untuk memelihara semua jemaat-jemaat." 2 Korintus 11:28 (TB)

Kata yang TB terjemahkan "memelihara" di sini adalah (merimna) μέριμνα — akar yang sama persis dengan kata "kuatir" di Filipi 4:6. Paulus bukan orang munafik. Orang yang menulis ayat terbesar tentang kekuatiran juga mengalaminya setiap hari. Filipi 4:6 tidak ditulis oleh seseorang yang tak pernah bergumul, melainkan oleh seseorang yang terus-menerus bergumul dan menemukan ke mana harus menaruhnya.


Kecemasan Bukanlah Dosa

Hal ini jauh lebih penting daripada yang disadari kebanyakan orang.

Seandainya kecemasan adalah dosa, maka Yesus berdosa di Getsemani — dan itu mustahil. Seandainya kecemasan adalah kegagalan moral, Mazmur-mazmur Daud akan menjadi pengakuan dosa, bukan ibadah. Seandainya kecemasan adalah bukti iman yang lemah, Paulus sendiri tidak layak menulis surat-suratnya.

Kecemasan adalah pengalaman manusia. Allah mungkin ingin melepaskan Anda darinya, tetapi Ia tidak akan pernah menghukum Anda karenanya. Roma 8:1 mengatakannya dengan gamblang:

"Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus." Roma 8:1 (TB)

Suara yang berkata "orang Kristen sejati tidak akan merasa begini" bukan suara Bapa Anda. Itu suara si pendakwa, dan ia sudah dikalahkan. Tanggapan pertama Allah atas kecemasan Elia adalah makanan, air, dan tidur — bukan koreksi teologis.

Kekuatiran memang memungut ongkos dari tubuh Anda — itu nyata dan terdokumentasi. Kekuatiran kronis membuat kortisol terus tinggi, membanjiri darah dengan gula untuk menghadapi ancaman yang tak pernah datang, dan perlahan melemahkan daya tahan tubuh. Tetapi jawaban atas ongkos fisik itu bukan rasa bersalah, melainkan kasih karunia. Allah yang menjadikan tubuh Anda juga menyediakan jalan untuk memulihkannya.


Penawar yang Sesungguhnya: Damai Sejahtera Itu Sebuah Pribadi

Kata Ibrani (shalom) שָׁלוֹם dan kata Yunani (eirene) εἰρήνη sama-sama berarti jauh lebih luas daripada sekadar perasaan tenang. Shalom berarti keutuhan, kelengkapan, kelimpahan, dan kesejahteraan. Eirene berasal dari akar yang berarti "menyatukan, mempersatukan kembali".

Ketika Yesus berkata "damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu", Ia memakai kata yang berarti keutuhan total. Dan di dalam Perjanjian Baru, eirene bukan sekadar sifat — ia dilekatkan pada sebuah Pribadi. Paulus menulis:

"Karena Dialah damai sejahtera kita." Efesus 2:14 (TB)

Damai sejahtera bukan teknik. Bukan latihan pernapasan atau pikiran positif. Damai sejahtera adalah sebuah Pribadi, dan nama-Nya Yesus. Ketika Ia berkata "damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu", Ia memberikan diri-Nya sendiri.

Yesaya 9:5 menyebut Dia (Sar Shalom) שַׂר שָׁלוֹם — Raja Damai. Bukan raja perasaan adem. Raja atas keutuhan yang menyeluruh sampai ke sendi-sendinya. Damai ini tidak bergantung pada keadaan di luar. Ia tetap ada di tengah kesulitan, tetap ada di lembah, tetap ada ketika badai mengaum keras.

Itulah sebabnya damai sejahtera Yesus berbeda secara mendasar dari apa pun yang ditawarkan dunia. Liburan memberi Anda jeda dari masalah. Tidur yang nyenyak memberi Anda sudut pandang yang segar. Keduanya baik. Tetapi keduanya bergantung pada keadaan. Damai yang Yesus tawarkan bekerja di dalam kesulitan. Ia tidak menunggu badai reda.


Cara Menyerahkan Kekuatiran Anda kepada Allah

Kata Ibrani untuk "serahkanlah" dalam Mazmur 55:23 adalah (shalak) שָׁלַךְ. Artinya melempar, mencampakkan, membanting. Kata kerja yang sama dipakai ketika saudara-saudara Yusuf membuang dia ke dalam sumur (Kejadian 37:24) dan ketika Yunus dicampakkan ke laut (Yunus 1:15).

Jadi ini bukan penyerahan yang halus dan sopan. Ini penuh tenaga. Allah tidak meminta Anda menata kekuatiran rapi-rapi di atas mezbah. Ia berkata: lemparkan. Campakkan jauh-jauh dari diri Anda.

Kata Yunani dalam 1 Petrus 5:7 adalah (epirrhipto) ἐπιρρίπτω — epi (ke atas) + rhipto (melempar dengan tenaga). Bentuknya partisip aoris: tindakan yang tegas, sekali untuk selamanya. Petrus melukiskan pemindahan beban yang tuntas, bukan urusan mengelola kekuatiran setetes demi setetes setiap hari.

Dan alasan yang Petrus berikan — "sebab Ia yang memelihara kamu" — memakai bentuk waktu sekarang yang berkelanjutan. Penyerahan Anda tegas sekali jadi. Pemeliharaan-Nya berlangsung terus.

Ayat berikutnya bukan kebetulan:

"Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya." 1 Petrus 5:8 (TB)

Musuh hanya dapat menelan mereka yang terbebani kekuatiran. Ia tidak punya akses kepada orang yang telah mencampakkan bebannya kepada Yesus. Kecemasan adalah celah masuknya. Perhentian adalah pertahanannya. Pikiran Anda butuh ketopong — dan ketopong itu adalah pengharapan.


Perhentian: Senjata yang Terlupakan

Ketika Israel tiba di sebuah tempat bernama Rafidim — kata Ibrani yang berarti "tempat-tempat perhentian" — Amalek menyerang (Keluaran 17:8). Nama Amalek berakar pada (amal) עָמָל, yang berarti kerja keras yang pedih dan jerih payah yang melelahkan.

Polanya jelas. Setiap kali Anda masuk ke dalam perhentian, roh jerih payah yang gelisah akan melawan. Di bawah kasih karunia, satu-satunya pertempuran Anda adalah tetap tinggal dalam perhentian.

Pertama kali kata "kudus" — (kadosh) קָדוֹשׁ — muncul dalam Alkitab, ia terhubung dengan perhentian:

"Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu." Kejadian 2:3 (TB)

Dan pertama kali "kasih karunia" muncul dalam Alkitab, ia terhubung dengan Nuh — yang namanya, (noach) נֹחַ, berarti "perhentian":

"Tetapi Nuh mendapat kasih karunia di mata TUHAN." Kejadian 6:8 (TB)

Perhentian mendapat kasih karunia. Makin Anda berhenti, makin kasih karunia menjumpai Anda. Makin Anda memaksakan diri, makin kasih karunia surut. Ini bukan soal pekerjaan atau tanggung jawab Anda. Ini soal kegelisahan di dalam — kebutuhan yang tak pernah tenang untuk menghasilkan sesuatu dengan kekuatan sendiri.

Ibrani 4:11 memanggil orang percaya kepada satu kerajinan: rajin berhenti berjuang sendirian.

"Karena itu baiklah kita berusaha untuk masuk ke dalam perhentian itu, supaya jangan seorangpun jatuh karena mengikuti contoh ketidaktaatan itu." Ibrani 4:11 (TB)

Kata "jahat" — (poneros) πονηρός — dalam Perjanjian Baru memiliki arti pertama "penuh jerih lelah, kerja keras, dan kejengkelan". Arti keduanya baru "buruk". "Hati yang jahat" dalam pengertian Alkitab pertama-tama adalah hati yang sesak oleh kerja keras yang gelisah.

Ada alasan mengapa kekuatiran tidak pernah menyelesaikan masalah yang dijanjikannya. Bidang yang paling Anda kuatirkan justru bidang yang paling sedikit dialiri kasih karunia. Kecemasan tidak melindungi Anda. Ia hanya menyamar sebagai pelindung. Ia berbisik bahwa kalau Anda berhenti, Anda akan tertinggal. Padahal yang terjadi justru sebaliknya.

Seorang eksekutif perusahaan terbuka pernah bercerita: "Setiap kali saya kuatir akan satu situasi lalu buru-buru masuk ke kantor untuk membereskannya, keadaan malah makin kacau. Tetapi ketika saya berhenti, beristirahat, dan mendengarkan Firman, entah bagaimana semuanya berjalan lebih baik." Bahkan sebuah kesalahan bisnis berubah menjadi keuntungan ketika ia berhenti memaksakan diri.

Kejengkelan yang Anda rasakan terhadap pasangan, anak-anak, atau rekan kerja sering kali bermula di sini — bukan dari mereka, melainkan dari kekuatiran yang sudah lebih dulu bercokol di dalam diri Anda. Ketika kekuatiran pergi, kesabaran kembali.


Jawaban Injil

Jawaban Injil atas kecemasan bukanlah "berusahalah lebih keras untuk percaya." Jawaban Injil adalah "terimalah apa yang sudah diberikan."

Kekuatan sudah diberikan. Kasih sudah diberikan. Pikiran yang waras sudah diberikan. Damai sejahtera sudah diberikan. Perhentian sudah diberikan.

Anda tidak sedang mendaki menuju damai sejahtera. Damai sejahtera itu sudah turun menghampiri Anda.