Kunci untuk Mendengar

Ada satu prinsip rohani yang terkunci di dalam kisah saudara-saudara Yusuf.
Ketika mereka datang ke Mesir pada masa kelaparan, Yusuf menuduh mereka sebagai pengintai. Ia tidak sedang berlaku kejam; ia sedang mencari tanda bahwa hati mereka telah berubah. Ia perlu tahu apakah mereka masih memandang enteng kasih ayah mereka.
Untuk menguji mereka, Yusuf membelenggu seorang dari antara mereka dan memasukkannya ke dalam tahanan. Nama saudara itu adalah **(Shimon)** שִׁמְעוֹן — Simeon.
Nama Simeon berasal dari kata dasar **(Shema)** שְׁמַע — "dengarlah".
Pendengaran itu dibelenggu.
Yusuf memberi mereka satu syarat: Simeon—yaitu Pendengaran—tidak akan dilepaskan sebelum mereka membawa adik bungsu mereka, Benyamin, kepadanya.
Benyamin melambangkan anak dari tangan kanan—generasi kasih karunia.
Sudah lama pendengaran rohani yang sejati terbelenggu. Kita membaca perintah-perintah, khususnya Shema itu sendiri:
Kata **(Echad)** אֶחָד — "esa" — dalam ayat itu menyiratkan kesatuan yang majemuk, Allah yang Tritunggal. Tetapi Anda tidak akan sanggup mendengar, apalagi memahami kepenuhan Allah, sebelum Benyamin dibawa masuk ke dalam ruangan itu.
Ketika kasih karunia tiba, pendengaran pun terbuka kuncinya. Ketika Anak dari Tangan Kanan dihadirkan, telinga dibuka.
Anda tidak akan memahami hukum Taurat sebelum Anda berjumpa dengan kasih karunia.
Suka tulisan ini? Terima renungan singkat seperti ini di kotak masuk Anda setiap pagi.
