Ketika sisa umat itu pulang dari tujuh puluh tahun pembuangan di Babel, mereka membangun kembali rumah Allah dengan dana dan tenaga seadanya. Orang-orang tua masih menyimpan bayangan bait Salomo di kepala mereka: dinding dan lantai bersalut emas. Rumah yang baru ini tampak lebih kecil, lebih sederhana, lebih bersahaja — dan perbandingan itu meremukkan hati mereka.

"Tetapi banyak di antara para imam, orang-orang Lewi dan kepala-kepala kaum keluarga, orang-orang yang tua-tua, yang pernah melihat rumah yang dahulu, menangis dengan suara nyaring, ketika perletakan dasar rumah ini dilakukan di depan mata mereka." Ezra 3:12 (TB)

Lalu Allah mengutus nabi Hagai dengan satu kalimat yang membalikkan air mata itu.

"Adapun rumah ini, kemegahannya yang kemudian akan melebihi kemegahannya yang semula, firman TUHAN semesta alam, dan di tempat ini Aku akan memberi damai sejahtera, demikianlah firman TUHAN semesta alam." Hagai 2:10 (TB)

Bagaimana mungkin rumah yang lebih bersahaja memuat kemuliaan yang lebih besar? Karena kemuliaan tidak pernah ditakar dengan emas. Yesus tidak pernah berjalan di bait Salomo. Tetapi rumah yang kemudian ini, yang belakangan diperluas oleh Raja Herodes, menampung Anak Allah sendiri. Ia mengajar di pelatarannya. Ia menyembuhkan di bawah bayang-bayangnya. Bangunan yang lebih miskin justru mengusung kemuliaan yang lebih kaya.

Itu penerapan yang pertama. Yang kedua untuk kita.

Banyak orang percaya membaca Kisah Para Rasul persis seperti orang-orang tua itu memandang bait Salomo. Mereka melihat kasih karunia yang melimpah, kesaksian yang berani, tanda-tanda dan mujizat, lalu menyimpulkan bahwa masa paling gemilang gereja sudah lewat. Prinsip Hagai berkata sebaliknya. Rumah yang kemudian melampaui yang semula. Gereja akhir zaman tidak akan terseok-seok ke garis akhir dalam keadaan lebih buruk daripada gereja mula-mula. Ia akan lebih mulia.

Lihatlah apa yang dimiliki rumah yang semula:

"Dan dengan kuasa yang besar rasul-rasul memberi kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus dan mereka semua hidup dalam kasih karunia yang melimpah-limpah." Kisah Para Rasul 4:33 (TB)

Jika itu kemuliaan yang semula, maka yang kemudian harus memuat kasih karunia yang lebih besar, kuasa yang lebih besar, kesaksian tentang Kristus yang bangkit yang lebih nyaring — bukan lebih sedikit. Gereja itu adalah kita. Kita generasi jam kesebelas, generasi Benyamin, gereja yang akan menyongsong kedatangan Tuhan. Allah tidak merancang kemunduran di ujung cerita. Ia merancang puncak.

Karena itu, tolaklah nostalgia. Nostalgia menangisi fondasi yang justru hendak Allah penuhi dengan kemuliaan. Tanggapan yang benar adalah tanggapan orang-orang muda di zaman Ezra: bersukacita bahwa rumah itu ada, lalu memercayai firman yang diucapkan atasnya.

Allah tidak menaruh kemuliaan terbesar-Nya di masa lalu. Ia menaruhnya di dalam gereja tempat Anda berdiri hari ini.