Kita adalah roh yang tinggal di dalam tubuh, berjalan melintasi dunia yang sudah jatuh.

Alkitab menyebut dunia ini padang gurun. Dan di padang gurun, cepat atau lambat Anda pasti bersinggungan dengan hal-hal yang berbau maut.

Mungkin sebuah percakapan yang menguras harapan Anda. Mungkin berita yang menyulut panik. Mungkin, seperti beberapa buku yang pernah saya baca, gagasannya terdengar bijak padahal sesungguhnya penuh dengan "maut dalam kuali itu".

Dalam Perjanjian Lama, Allah menyediakan obat khusus bagi mereka yang bersentuhan dengan maut. Bukan korban penghapus dosa yang biasa. Melainkan abu lembu betina merah yang dicampur dengan air mengalir.

Campuran itu memuat hisop (iman) dan kayu aras (keagungan), lalu dipercikkan kepada orang yang najis supaya ia tahir kembali.

Perhatikan: lembu itu betina — TB menerjemahkannya "seekor lembu betina merah yang tidak bercela" dalam Bilangan 19:2. Dalam tipologi Alkitab, yang jantan melambangkan kebenaran objektif (posisi kita), sedangkan yang betina melambangkan pengalaman subjektif (penerapannya).

Korban ini berbicara tentang penerapan.

Ketika Anda merasa pening oleh negativitas dunia, atau berat oleh lingkungan yang meracuni, Anda tidak perlu diselamatkan ulang. Anda sudah menjadi milik-Nya.

Yang Anda butuhkan adalah pembasuhan air firman. Anda perlu "abu" itu — pekerjaan Yesus yang telah selesai — dikenakan pada hati nurani Anda saat ini juga.

Anda membasuh pikiran Anda dengan merendamnya dalam kebenaran tentang apa yang sudah Yesus kerjakan.

"untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman," Efesus 5:26 (TB)

Setiap kali maut dunia ini menyentuh Anda, basuhlah dengan hidup Kristus.