Kelihatannya berantakan (padahal tidak)

Kita sering mengira bahwa berada di tempat yang tepat pada waktu yang tepat itu terasa seperti embusan angin sepoi-sepoi. Kita membayangkan karpet merah terbentang mulus di depan kaki kita, pintu-pintu terbuka sendiri, dan segalanya jatuh pada tempatnya dengan rapi.
Padahal kadang-kadang, sebuah perjumpaan ilahi justru tampak seperti bencana.
(kairos) καιρός — "waktu yang ditetapkan, musim yang tepat, saat yang berkenan"
"Waktu yang tepat" tidak selalu terasa menguntungkan saat sedang kita jalani. Ia bisa berwujud kemacetan panjang. Ia bisa terasa seperti berlari di terminal bandara, bermandi keringat, menyeret koper dan mendorong kereta bayi sambil melirik jam tangan dengan panik.
Ia bisa membuat Anda merasa menjadi orang terakhir yang diberkati, sementara semua orang lain sudah duduk manis di kursinya.
Saya ingat pernah berlari mengejar pesawat bersama istri dan anak perempuan saya, dalam keadaan lelah dan kesal. Kami terlambat. Loket sudah tutup. Kami baru diizinkan masuk karena ada petugas yang kasihan melihat kami, tetapi kami diberi tahu bahwa koper kami tidak akan terangkut. Kami duduk di kursi masing-masing dengan napas tersengal, jengkel pada keadaan, dan patah semangat.
Lalu terdengarlah pengumuman itu. Penerbangan ditunda karena ada kerusakan teknis.
Justru karena "masalah" itu, koper kami sempat dimuat secara manual. Penundaan yang membuat saya frustrasi ternyata adalah pemeliharaan yang menyelamatkan saya. Kita terlalu cepat menghakimi keadaan kita. Kita memandang penghalang itu dan melihat tembok, tetapi Allah melihat tempat berteduh.
Hal yang sedang membuat Anda tertekan saat ini bisa jadi justru mekanisme yang Allah pakai untuk menata segala sesuatu demi kedatangan Anda.
Jangan salah mengira perjalanan yang berat sebagai tanda tujuan yang keliru.
Suka tulisan ini? Terima renungan singkat seperti ini di kotak masuk Anda setiap pagi.
