Mengapa orang pintar bisa salah langkah

Kita sering menyamakan pendidikan dengan hikmat.
Pendidikan adalah tumpukan fakta. Ia kemampuan menyimpan pengetahuan, menganalisis data, dan lulus ujian. Berharga, memang, tetapi terbatas pada kapasitas Anda sendiri. Hikmat lain lagi. Hikmat adalah kemampuan memakai pengetahuan itu. Ia kejernihan yang tiba-tiba datang dan justru melampaui nalar analitis Anda.
Alkitab memberi tahu kita bahwa hikmat Salomo tidak lahir dari bangku universitas; hikmat itu datang dari Allah.
Ada mekanismenya. Letaknya bukan di otak Anda, melainkan lebih dalam dari itu.
Kata Ibrani untuk hikmat adalah (chokhmah) חָכְמָה — "hikmat, kecakapan, kearifan yang tajam".
Hikmat semacam ini bersemayam di "lubuk hati". Itulah Roh Allah yang menyalakan pelita roh manusia. Itulah firasat yang mengganjal, atau damai yang hilang tepat sebelum Anda membubuhkan tanda tangan pada sebuah kontrak. Itulah intuisi yang berbicara lebih cepat daripada logika Anda sanggup mengolahnya.
Otak Anda bisa menimbang untung dan rugi, tetapi roh Anda mengetahui akhir dari sejak semula. Anda tidak harus bersandar semata pada pengalaman sendiri atau pendidikan sendiri. Ada sumber yang bisa Anda timba: purba, di luar diri Anda, dan sempurna.
Ketika Anda belajar mendengarkan pelita di dalam itu, Anda berhenti menebak-nebak dan mulai melihat.
Pengertian yang sejati bukan soal berpikir lebih keras; itu soal mendengar lebih dalam.
Suka tulisan ini? Terima renungan singkat seperti ini di kotak masuk Anda setiap pagi.