Dalam kacamata hukum, atau dalam kacamata struktur, wewenang bukanlah sesuatu yang Anda rasakan; ia adalah sesuatu yang Anda wakili. Yesus menyatakan bahwa "segala kuasa" telah diberikan kepada-Nya, lalu status itu Ia limpahkan kepada para pengikut-Nya.

"Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu." Lukas 10:19 (TB)

Ini adalah pengalihan yang bersifat fungsional, mirip dengan negara yang berdiri di belakang hak seorang warganya. Ketika Anda berhadapan dengan keadaan yang bertentangan dengan pemeliharaan Allah — penyakit yang tak kunjung angkat kaki, atau "angin jahat" berupa rasa sakit — Anda tidak sedang bertarung dengan kekuatan Anda sendiri. Anda sedang menggunakan hak sah yang diberikan oleh jabatan yang lebih tinggi.

Kekuatan bertumpu pada bobot dan momentum, sedangkan wewenang bertumpu pada kedudukan. Perhatikan dua kata yang dipakai dalam ayat itu: musuh memang memiliki (dynamis) δύναμις — "kekuatan, daya gempur", yang TB terjemahkan "kekuatan musuh"; tetapi ia tidak memiliki sedikit pun (exousia) ἐξουσία — "wewenang, hak yang sah", yang TB terjemahkan "kuasa" dan justru itulah yang diberikan Yesus kepada Anda. Daya guna Anda bergantung pada pengakuan atas kedudukan itu, bukan pada suasana hati Anda.

Wewenang bukanlah perasaan yang harus Anda bangkitkan; ia adalah kedudukan yang Anda tempati.