Iblis Tidak Mahatahu

Kita sering memberi iblis penghargaan yang jauh melampaui haknya. Kita mengira ia tahu isi pikiran kita, masa depan kita, dan rencana Allah yang spesifik atas hidup kita.
Ia tidak tahu.
Si jahat bukanlah lawan sepadan Allah. Allah itu mahatahu; si jahat hanya pengamat. Ia harus memperhatikan Anda dulu untuk bisa mengenal Anda.
Pola ini dimulai di Taman Eden. Setelah manusia jatuh, Allah mengucapkan sebuah nubuat yang membuat si jahat ketakutan. Allah berbicara tentang (zera) זֶרַע — "benih, keturunan" yang akan datang.
Perhatikan kata yang sama dipakai dua kali: keturunan si ular dan keturunan perempuan itu. Dalam bahasa Ibrani keduanya (zera) זֶרַע, tetapi yang kedua menunjuk kepada satu Pribadi yang akan meremukkan kepala si ular. Allah menyatakan bahwa dari perempuan itu akan lahir Keturunan yang menghancurkan kepala si ular. Si jahat mendengar nubuat itu. Ia tahu waktunya terbatas, tetapi ia tidak tahu siapa Keturunan itu dan kapan Ia akan datang.
Maka ia mulai mengamati. Ia mengamati Kain dan Habel. Ia mengamati garis keturunan Daud. Ia mengamati Yusuf. Setiap kali ia melihat kemurahan Allah atau potensi yang menonjol, ia langsung menyerang, berharap dapat menghentikan Keturunan itu.
Ia menyerang Anda bukan karena ia tahu masa depan Anda, melainkan karena ia mencurigai potensi Anda.
Ia takut pada apa yang mungkin Anda jadi kelak. Ia tidak tahu akhir cerita Anda, tetapi ia tahu satu hal: kalau Anda terus berjalan bersama Allah, pengaruhnya atas hidup Anda habis sudah.
Masa depan Anda adalah rahasia yang tersimpan aman di dalam tangan Allah.
Suka tulisan ini? Terima renungan singkat seperti ini di kotak masuk Anda setiap pagi.
