Ekonomi Kelimpahan: Batas Itu Milik Anda, Bukan Milik Allah

Kita terus menunggu sesuatu yang baru—terobosan, rezeki nomplok, mukjizat yang jatuh entah dari mana.
Kita sibuk menghitung kekurangan: uang belum cukup, kemampuan belum memadai, pengaruh belum seberapa. Lalu kita menyimpulkan bahwa jawabannya pasti sesuatu yang besar dan datang dari luar.
Namun Allah justru mengajukan pertanyaan yang lain.
Ketika Musa berdiri gemetar di hadapan krisis satu bangsa, Allah tidak menyerahkan pedang, pasukan, atau rancangan strategi. Ia hanya mengambil tongkat gembala yang biasa—tongkat yang sama, yang sudah puluhan tahun dipegang Musa—lalu menguduskannya. Dahulu ia disebut tongkat Musa, tetapi setelah Musa menyerahkannya ke tangan Allah, Alkitab menyebutnya tongkat Allah. Setiap mukjizat mengalir lewat sesuatu yang sudah ada pada Musa.
Ada pola yang bisa kita tangkap di sini:
Kuduskanlah apa yang sudah ada pada Anda.
Apa yang Anda serahkan akan berubah sifatnya. Sebuah karunia di tangan Anda hanyalah hal biasa. Karunia yang sama di tangan Allah menjadi kudus, berlipat ganda, dan terarah bagi kemuliaan-Nya.
Pertanyaannya bukan apakah yang Anda punya cukup—melainkan apakah Anda sudah meletakkannya di tempat yang seharusnya.
Kelimpahan menanti di seberang penyerahan.
Petrus sedang berhadapan dengan kegagalan usahanya:
Tetapi kemudian ia membiarkan Yesus memakai perahunya—tempat kerjanya, asetnya, sumber nafkahnya—sebagai mimbar untuk mengajar.
Perahu yang tadi gagal berubah menjadi perahu yang meluap.
Begitu penuh sampai jala koyak. Begitu berat tangkapannya sampai perahu mulai tenggelam.
Itu bukan produktivitas yang wajar. Itu pemeliharaan yang adikodrati. Cukup untuk menghapus utang. Cukup untuk membalik cerita. Cukup untuk melampaui logika sistem keuangan mana pun di bumi ini.
Batasnya tidak pernah ada di pihak Allah.
Seorang janda yang tenggelam dalam utang menaati satu instruksi sederhana:
Ia menuang minyak yang sedikit itu, dan minyak itu terus mengalir—secara ajaib—sampai bejana pinjaman yang terakhir pun penuh.
Lalu berhenti.
Bukan karena persediaan Allah habis.
Melainkan karena bejananya yang habis.
Persiapan dan iman menentukan daya tampung.
Kita sering berdoa meminta kelimpahan sambil menyodorkan cangkir teh kepada Allah.
Ketika Allah bertanya, "Apakah yang di tanganmu itu?", Ia tidak sedang mencari kecemerlangan, keunggulan, atau status.
Hanya kerelaan.
Hanya penyerahan.
Hanya keberanian untuk percaya bahwa hal biasa yang Anda genggam bisa menjadi luar biasa begitu ia menjadi milik-Nya.
Suka tulisan ini? Terima renungan singkat seperti ini di kotak masuk Anda setiap pagi.
