Serukan Kasih Karunia kepada Gunung Anda

Zerubabel berdiri di depan bait yang tidak kunjung selesai.
Sisa umat itu telah pulang dari pembuangan di Babel untuk membangun kembali rumah Allah. Musuh datang. Semangat patah. Pekerjaan berhenti. Tahun demi tahun berlalu, dan fondasi itu tergeletak terbuka di bawah terik matahari.
Lalu Allah mengirimkan firman melalui nabi Zakharia.
Allah tidak menyuruh Zerubabel merekrut lebih banyak pekerja, menyusun rencana yang lebih rapi, atau berunding dengan pihak yang menentang. Allah menyuruhnya meneriakkan satu kata kepada gunung itu. Kata yang dicatat Zakharia adalah (chen) חֵן — "kasih karunia, perkenanan". Diserukan dua kali; dalam TB sorak itu diterjemahkan "Bagus! Bagus sekali batu itu!", tetapi di balik seruan itu berdirilah satu kata: kasih karunia, kasih karunia atasnya!
Keperkasaan tidak sanggup merampungkan bait itu. Kekuatan pun tidak. Bertahun-tahun usaha manusia hanya menghasilkan sebuah lokasi bangunan yang mangkrak. Kasih karunialah yang menyelesaikannya.
Gunung Anda mungkin bukan proyek bait suci. Mungkin itu sakit penyakit, sebuah diagnosis, tumpukan utang kartu kredit, atau ketakutan yang sudah lama menetap dan enggan pergi. Perintahnya tetap sama. Seluruh kecerdasan manusia dan seluruh kekuatan manusia tidak dapat menyingkirkannya. Kasih karunia Allah dapat.
Jadi, lakukanlah ini. Sebutkan nama gunung itu. Angkatlah ke hadapan Tuhan dan katakan, "Tuhan Yesus, bukan dengan keperkasaan, bukan dengan kekuatan, melainkan dengan Roh-Mu. Kasih karunia, kasih karunia atas keadaan ini. Dalam nama Yesus, amin."
Lalu mundurlah selangkah. Jangan pungut lagi persoalan itu. Kalau Anda menarik kembali kekhawatiran itu, Anda sedang berkata bahwa semuanya masih menjadi tanggungan Anda, bahwa Allah kurang beres mengerjakannya. Tinggalkan pada-Nya. Kasih karunia-Nya sudah mengambil alih.
Zerubabel menyelesaikan bait itu. Gunung itu menjadi tanah rata, dan batu utama dipasang diiringi sorak kasih karunia.
Bukan Anda yang meratakan gunung persoalan itu. Anda menyerukan kasih karunia kepadanya, dan Allah yang meratakannya.
Suka tulisan ini? Terima renungan singkat seperti ini di kotak masuk Anda setiap pagi.