Perhatikan seorang anak kecil yang disuruh duduk di kursi. Kakinya berayun-ayun. Tangannya tak mau diam. Orang tuanya berkata, "Duduk yang tenang," dan anak itu hanya sanggup menurut beberapa saat saja.

Itu bukan kenakalan. Itu juga bukan kebosanan. Itu kelebihan hidup. Tubuh seorang anak menyimpan hidup yang lebih banyak daripada yang ia tahu harus diapakan.

Orang dewasa yang sedang tenggelam dalam depresi atau kepahitan tampak sebaliknya. Geraknya hilang. Ringannya hilang. Secara jasmani ia hidup, tetapi ada sesuatu yang telah tersedot keluar dari dirinya.

Alkitab memberi nama pada keadaan itu. Ketika emosi kita berbelok menjadi negatif, ketika kita menjadi pahit, pesimis, atau putus asa, maut telah masuk ke wilayah emosi. Dosa membawa maut ke dalam umat manusia, dan maut tidak pernah betah tinggal di satu ruangan saja. Ia merembes ke dalam cara kita merasa, cara kita berpikir, dan cara kita bergaul dengan orang lain.

"Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita." Roma 6:23 (TB)

Karena itulah ada satu anggapan yang perlu kita luruskan. Kita cenderung memperlakukan kesembuhan sebagai produk tersendiri, semacam barang yang Allah serahkan bila diminta. Padahal Alkitab menunjukkan sesuatu yang jauh lebih sederhana.

Kesembuhan adalah hidup yang menyatakan diri.

Lihatlah apa yang terjadi ketika Yesus berjumpa dengan seorang kusta.

"Maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata kepadanya: 'Aku mau, jadilah engkau tahir.' Seketika itu juga lenyaplah penyakit kusta orang itu dan ia menjadi tahir." Markus 1:41-42 (TB)

Kusta adalah salah satu rupa maut yang sedang bekerja di dalam tubuh. Daging kehilangan rasa. Jaringan membusuk. Ketika Yesus menjamah orang kusta itu, maut undur diri karena hidup telah tiba. Kesembuhan itu bukan teknik yang ditempelkan di atas kondisi si sakit. Itu adalah hidup Allah, yang hadir di dalam Yesus, menjangkau tempat di mana maut sudah lama berumah.

Kata yang diterjemahkan "hidup" dalam pernyataan misi Yesus adalah (zoe) ζωή — "hidup", yaitu jenis hidup yang dimiliki Allah sendiri.

"Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan." Yohanes 10:10 (TB)

Yesus berkata "dalam segala kelimpahan". Artinya, hidup ini punya takaran-takarannya. Allah tidak bermaksud agar hidup itu berhenti di roh Anda. Rancangan-Nya adalah agar hidup itu memenuhi roh Anda, lalu meresap ke dalam jiwa Anda (pikiran dan emosi Anda), lalu sampai ke tubuh Anda. Ketika hidup itu tiba di tubuh, kita menyebutnya kesehatan. Ketika ia memenuhi setiap bagian diri Anda, Alkitab menyebutnya keutuhan.

"Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita." 1 Tesalonika 5:23 (TB)

Allah sendiri mengikatkan firman-Nya langsung pada hasil ini.

"Hai anakku, perhatikanlah perkataanku, arahkanlah telingamu kepada ucapanku; janganlah semuanya itu menjauh dari matamu, simpanlah itu di lubuk hatimu. Karena itulah yang menjadi kehidupan bagi mereka yang mendapatkannya dan kesembuhan bagi seluruh tubuh mereka." Amsal 4:20-22 (TB)

Dan hidup ini tidak berhenti di batas kulit Anda. Ia tampak dalam relasi Anda. Orang yang penuh hidup menjadi lebih mengasihi dan lebih hangat. Kesalahan orang lain diampuni dengan cepat, bukan sambil mengatupkan gigi, melainkan karena orang yang penuh punya ruang untuk menghapus utang. Orang yang kosong menyimpan dendam. Kepahitan bukan bawaan watak; itu gejala hidup yang sedang menipis.

Di sinilah anak di atas kursi tadi menjadi penting. Anak-anak memperlihatkan kepada kita seperti apa rupanya kelebihan hidup. Kita berkata bahwa kita sudah dewasa. Sejujurnya, dosalah yang membuat kita menua terlalu dini, sampai kita kehilangan kesanggupan untuk menampung hidup melebihi kebutuhan kita. Jawaban Allah bukan program perbaikan diri. Jawaban-Nya adalah lebih banyak hidup zoe-Nya: di dalam roh Anda, di dalam emosi Anda, dan di dalam tubuh Anda.

Jadi jangan mengejar kesembuhan sebagai satu butir permintaan, sukacita sebagai butir kedua, dan relasi yang lebih baik sebagai butir ketiga. Ketiganya satu. Itulah rupa hidup ketika ia tiba.

Berhentilah meminta kesembuhan kepada Allah seolah-olah itu sebuah barang; mintalah lebih banyak hidup-Nya, sebab kesembuhan hanyalah hidup yang menjadi kelihatan.