Dia bukan terlambat, Dia sabar

Bagian tersulit dari iman biasanya bukan krisisnya. Melainkan jam dindingnya.
Kita memandang dunia ini, dan rasanya jadwalnya kacau. Orang-orang mencibir. Mereka melihat segala kekacauan lalu bertanya, "Di mana Dia? Kalau Allah memang akan datang membereskan semua ini, mengapa Ia belum juga muncul?"
Itu pertanyaan lama. Bahkan di jemaat mula-mula pun orang sudah menanyakannya.
Rasanya seperti penundaan. Tetapi Allah tidak mengalami waktu seperti kita mengalaminya. Ia tidak sedang melirik jam; Ia sedang menatap hati manusia.
Mengapa penantian ini begitu panjang? Bukan karena perhatian-Nya teralih. Bukan pula karena Ia lalai atau bermalas-malasan dengan janji-Nya. Alasannya sederhana, dan indahnya sampai membuat hati tercekat: Ia sabar.
Ia sedang menahan pintu tetap terbuka.
Setiap detik yang berlalu tanpa langit terbelah adalah tindakan belas kasihan. Allah memperpanjang tenggat waktu supaya satu orang lagi sempat mendengar kabar baik itu. Ia menunda akhir demi memberi awal yang baru bagi orang lain.
Penundaan itu bukan tanda ketiadaan kuasa; itu tanda hadirnya kasih karunia.
Suka tulisan ini? Terima renungan singkat seperti ini di kotak masuk Anda setiap pagi.
