Allah Mendengar Anda Sama Jelasnya seperti Ia Mendengar Pendeta Anda

Di kaki Gunung Sinai, Israel meminta seorang perantara.
Allah turun ke atas gunung. Umat berdiri di bawah. Dan alih-alih mendekat, mereka mendorong Musa ke depan.
Naluri itu tidak pernah benar-benar pergi dari kita. Daging selalu ingin ada orang lain yang mengurus hubungan itu. "Pak Pendeta, Bapak saja yang dekat dengan Tuhan. Bapak yang berdoa. Bapak yang mendengar suara-Nya. Nanti kami tinggal diberi tahu harus berbuat apa."
Kedengarannya rendah hati. Sebenarnya tidak. Itu perampokan, dan Andalah yang dirampok.
Inilah yang mengubah segalanya. Ketika Yesus mati, tabir Bait Suci terkoyak dari atas sampai ke bawah.
Sekat antara Allah dan orang-orang biasa itu tidak lapuk sendiri. Allah yang merobeknya. Dan Paulus memberitahu kita apa yang terbuka karenanya.
Kata yang diterjemahkan TB sebagai "jalan masuk" adalah (prosagógé) προσαγωγή — "akses, pengantaran, hak untuk mendekat." Kata itu dipakai untuk hak istimewa masuk ke hadapan seorang raja. Melalui Kristus, hak istimewa itu kini menjadi milik setiap orang percaya. Bukan milik segolongan rohaniwan. Milik semua orang.
Ada satu pembedaan yang perlu dijaga. Kita memang tidak sama dalam pelayanan, fungsi, dan panggilan. Seorang pendeta memikul tugas yang berbeda dari tugas Anda. Tetapi kita semua setara dalam kedudukan kita di hadapan Allah. Tidak ada yang namanya "dia lebih dekat dengan Tuhan daripada saya." Allah mendengar doa Anda di dapur sepenuh Ia mendengar doa pendeta paling dihormati yang Anda kenal.
Jadi, berdoalah sendiri. Bukalah Firman sendiri. Bawalah permohonan Anda sendiri.
Undangan itu berbunyi "kita". Bukan "mereka yang ditahbiskan". Bukan "mereka yang layak". Kita.
Pendeta Anda dapat mengajar Anda. Ia tidak dapat mengenal Allah menggantikan Anda. Bagian yang itu memang tidak pernah bisa dititipkan.
Tabir itu terkoyak supaya di depan Anda tidak ada lagi antrean menuju Allah.
Suka tulisan ini? Terima renungan singkat seperti ini di kotak masuk Anda setiap pagi.
