Imam Besar yang Pernah Merasakan Luka Kita

Allah Mahakuasa dan Mahatahu. Namun sebagai Allah, Ia belum pernah merasakan lapar, tubuh yang remuk karena lelah, atau perihnya dikhianati — bukan dari sudut pandang manusia.
Maka Ia menjadi manusia.
Yesus merasakan beratnya keterbatasan tubuh. Ia tahu rasanya letih, haus, dan ditinggalkan oleh sahabat-sahabat terdekat-Nya. Ia hidup di dalam batas-batas daging manusia.
Karena Ia sendiri telah menanggung semuanya itu, Ia layak mewakili Anda. Ketika Anda berkata kepada-Nya bahwa hati Anda sedang perih, Ia tidak sekadar mendengarkan dengan iba. Ia mengerti, karena Ia pernah mengalaminya sendiri sebagai manusia.
Yesus tidak hanya memandang penderitaan Anda dari atas; Ia mengingatnya dari pengalaman-Nya sendiri.
Suka tulisan ini? Terima renungan singkat seperti ini di kotak masuk Anda setiap pagi.
