Anda Bukan Tak Berbuah — Anda Hanya Tertimbun Debu

Kebanyakan orang membaca ayat itu dan merasa perih.
“Kalau buahku kurang… Allah membuang aku?”
Ketakutan semacam itulah yang membuat banyak orang Kristen berpura-pura—memamerkan buah, bukan menumbuhkannya.
Padahal Yesus tidak sedang mengancam Anda.
Kata yang dalam TB diterjemahkan “dipotong-Nya” dalam bahasa Yunani adalah (airō) αἴρω:
mengangkat, menaikkan, memikul, memungut dari tanah.
Gambarannya bukan seorang tukang kebun yang membuang ranting-ranting gagal.
Gambarannya adalah pengusaha kebun anggur yang menyusuri kebunnya, lalu melihat satu ranting yang masih melekat pada pokoknya tetapi terkulai di tanah—tertimbun debu, terbelit, tak bisa bernapas.
Ia berlutut, mengangkatnya, membasuhnya, lalu mengikatnya kembali pada penopang supaya ranting itu dapat menangkap cahaya matahari lagi.
Ia tidak memutuskan Anda.
Ia memungut Anda.
Inilah kasih karunia yang sedang bekerja:
Ketidaksuburan tidak diperbaiki dengan paksaan.
Tidak dengan mengertakkan gigi.
Tidak dengan berkata, “Aku harus lebih baik lagi.”
Ranting tidak menang karena berusaha lebih keras.
Ranting menang karena membiarkan Pokok Anggur menopangnya.
Dan inilah bagian yang sering kita lupakan:
Setiap orang punya panggilan yang mulia.
Kitab Wahyu menyebut kita “raja dan imam bagi Allah kita”.
Entah Anda orang yang tenang atau orang yang meledak-ledak—cara Anda dirancang tidak pernah menggugurkan panggilan Anda.
Kadang panggilan itu berwujud khotbah di mimbar.
Kadang berwujud montir yang mengencangkan baut terakhir supaya seorang ayah sampai di rumah dengan selamat menemui anak-anaknya.
Kadang berwujud barista yang menangkap raut lelah seseorang lalu memberi satu-satunya kebaikan yang orang itu terima hari itu.
Kadang berwujud perancang yang memecahkan persoalan yang bahkan tak sanggup dinamai orang lain.
Sorga melihat semuanya.
Tetapi si jahat tahu betapa besar kuasa dari sebuah ikatan.
Maka ia mengisolasi.
Ia mendatangkan rasa malu.
Ia mendesak Anda ke sudut-sudut sempit—secara jasmani, perasaan, maupun pikiran—sampai berbaring di tempat tidur terasa lebih ringan daripada mengangkat kepala.
Ketika itu terjadi, pandanglah kembali sang Pengusaha kebun anggur.
Lihatlah tangan-Nya berada di bawah kelemahan Anda.
Dengarkan firman-Nya yang membasuh Anda sampai bersih.
Biarkan Ia mengangkat Anda.
Ingatlah Rahab—perempuan dengan riwayat hidup yang begitu remuk sampai kotanya sendiri pun enggan menerimanya.
Namun ia mendengar tentang Allah ini… ia percaya… dan ia dicangkokkan ke dalam garis keturunan Yesus sendiri.
Allah tidak hanya menyelamatkan Anda dari kebinasaan.
Ia menyelamatkan Anda untuk sebuah tujuan.
Dan hari ini, Pokok Anggur itu membungkuk rendah—bukan untuk menghakimi kekosongan Anda,
melainkan untuk mengangkat Anda kembali ke dalam terang matahari.
Panggilan hidup Anda dimulai lagi pada saat Ia mengangkat Anda.
Suka tulisan ini? Terima renungan singkat seperti ini di kotak masuk Anda setiap pagi.
