Akar Dosa yang Sebenarnya

Mengapa kita berbuat dosa? Mengapa kita mendapati diri terjerat dalam kebiasaan dan perilaku yang sebenarnya kita benci?
Kita sering mengira masalahnya adalah tekad yang lemah. Kita menyangka kita hanya kurang keras berusaha menjadi baik. Tetapi Petrus menunjuk akar yang sama sekali lain: kurangnya rasa percaya.
Kata yang diterjemahkan TB sebagai "hawa nafsu" adalah (epithymia) ἐπιθυμία — "keinginan, hasrat yang menggebu". Jadi cakupannya jauh lebih luas daripada urusan seksual: ini adalah dorongan untuk memuaskan kebutuhan yang sah dengan cara yang tidak sah.
Kita berdusta karena kita tidak percaya Allah sanggup melindungi kita lewat kebenaran. Kita mencuri dan berbuat curang karena kita tidak percaya Allah sanggup mencukupi. Kita mencari pelipur lara pada kecanduan karena kita tidak percaya Allah sanggup memberi kita perhentian.
Petrus menyebut keadaan ini ketidaktahuan. Itulah kurangnya penyingkapan tentang siapa Allah sesungguhnya.
Jalan untuk luput dari kebinasaan dunia bukanlah dengan mengertakkan gigi. Jalannya adalah dengan mengambil bagian dalam janji-janji itu. Ketika Anda yakin bahwa Allah adalah penyedia Anda, Anda tidak perlu berbuat curang. Ketika Anda tahu Dialah pembela Anda, Anda tidak perlu bertarung sendiri.
Kekudusan bukanlah buah dari tekad yang kuat; kekudusan adalah buah dari mempercayai Dia yang selalu menepati janji-Nya.
Suka tulisan ini? Terima renungan singkat seperti ini di kotak masuk Anda setiap pagi.
