Ketika Tuhan Berkata Jangan ke Mesir

Dunia punya pola suksesnya sendiri. Biasanya berisi langkah yang tergesa-gesa, tuntutan akan hasil yang serba instan, dan sebuah janji halus: kalau saja Anda berlari sedikit lebih cepat, Anda akan sampai.
Tetapi harga dari "sampai" itu sering tersembunyi di bagian yang dicetak kecil.
Kita melihatnya dalam kisah Ishak. Tuhan memberi dia perintah yang jelas untuk tinggal di tempatnya, bukan ikut arus orang banyak ke Mesir—lambang dari sistem dunia ini.
Tuhan tidak anti kemakmuran. Ia tidak anti kerja keras. Tetapi Ia menolak "sukses" yang menelan Anda hidup-hidup.
Ada perbedaan yang tegas antara keuntungan versi dunia dan berkat dari Tuhan. Dunia berkata, "tak ada hasil tanpa derita," dan sering artinya Anda harus menggadaikan kesehatan, tidur, dan ketenangan demi maju selangkah. Angka di laporan memang naik, tetapi mata Anda sembab karena tekanan dan hati Anda berat oleh kecemasan.
Alkitab menawarkan satu tolok ukur untuk menguji sukses Anda:
Kata Ibrani yang dipakai di sini adalah (etsev) עֶצֶב — "kepedihan, jerih lelah yang menyakitkan"; TB menerjemahkannya "susah payah". Maksudnya: berkat itu datang tanpa kerja yang menyiksa.
Bayangkan seorang binaragawan. Ada tenaga yang dikerahkan, ada keringat, ada usaha. Tetapi ketika rasa sakitnya berubah menjadi tajam dan menusuk, itu tandanya ada yang robek. Itu cedera, bukan pertumbuhan.
Jalan Tuhan tetap memuat kerja. Jalan itu menghormati atasan dan perusahaan. Ada martabat di dalam pekerjaan. Namun jalan itu tidak pernah berujung pada sesak napas dan perih tak tertahankan dari hidup yang kehilangan keseimbangan.
Kalau jalan yang sedang Anda tempuh menuntut bayaran berupa damai sejahtera, keluarga, atau kesehatan Anda, saatnya memeriksa siapa yang sebenarnya sedang berjalan di depan.
Berkat yang sejati bukan hanya mengisi rekening Anda; ia menjaga jiwa Anda tetap utuh.
Suka tulisan ini? Terima renungan singkat seperti ini di kotak masuk Anda setiap pagi.
