Kunci yang Diserahkan Adam

Allah menciptakan sebuah mahakarya. Ketika Ia selesai menjadikan langit dan bumi, Ia tidak sekadar berkata bahwa semuanya baik; Ia berkata bahwa semuanya sungguh amat baik.
Lalu Ia melakukan sesuatu yang penuh risiko. Ia menyerahkan kunci itu ke tangan manusia.
Allah memberi manusia kuasa untuk memerintah. Ia memberi kita otoritas atas bumi. Namun dalam sebuah babak yang tragis, manusia pertama, Adam, berpihak kepada seorang penipu. Dengan memilih mendengarkan dusta, ia praktis menyerahkan otoritas pemberian Allah itu kepada musuh.
Inilah sebabnya kita melihat kekacauan. Bukan karena Allah tidak hadir, melainkan karena otoritas ditinggalkan begitu saja.
Meski demikian, bahasa Alkitab membuat pembedaan yang tegas. Musuh tidak memiliki bumi ini. Bumi tetap milik Tuhan. Namun Alkitab menyebut musuh sebagai ilah atas dunia ini.
Gagasan "dunia" yang dimaksud di sini bersandar pada kata Yunani (kosmos) κόσμος — "sistem dunia, susunan, tatanan segala sesuatu". Kata inilah yang dipakai ketika Yesus menyebut musuh sebagai "penguasa dunia ini" dalam Yohanes 12:31 (TB), sementara di 2 Korintus 4:4 TB menerjemahkannya dengan "ilah zaman ini". Anda bisa memeriksanya sendiri di Alkitab Anda.
Musuh mengendalikan sistem yang rusak, tetapi ia tidak memiliki wilayahnya. Kita hidup di dalam sistem dunia yang dibajak, sementara bumi itu sendiri sedang menanti para pemerintah yang sah untuk bangkit berdiri.
Apa pun yang Anda biarkan di wilayah yang dipercayakan kepada Anda akan terus bercokol di situ. Apa pun yang Anda hadapi dengan otoritas yang telah Allah pulihkan, harus bertekuk lutut.
Allah tidak mengendalikan dunia seperti dalang menggerakkan wayang; Ia memperlengkapi Anda untuk memengaruhinya sebagai rekan sekerja-Nya.
Suka tulisan ini? Terima renungan singkat seperti ini di kotak masuk Anda setiap pagi.
