Ketika Perjalanan Terlalu Berat

Kehabisan tenaga tidak selalu berarti dosa. Kadang itu hanya soal batas tubuh.
Kita sering memaksakan diri menembus rasa lelah karena menganggap berhenti sama dengan lemah. Kita berkata pada diri sendiri: kerja lebih keras, berdoa lebih lama, selesaikan saja.
Padahal Allah jauh lebih realistis soal keterbatasan kita daripada kita sendiri.
Ketika Elia rebah di padang gurun, Allah tidak menyuruhnya bangkit dan berusaha lebih keras. Ia justru mengakui kenyataan yang sedang dihadapi Elia.
Dalam bahasa aslinya, alasan yang diberikan malaikat itu berbunyi (rav mimmekha hadderekh) רַב מִמְּךָ הַדָּרֶךְ — “perjalanan itu terlalu berat bagimu”, melampaui apa yang sanggup kaupikul. TB menerjemahkannya “perjalananmu masih jauh”, dan keduanya menunjuk hal yang sama: beban itu memang lebih besar daripada kekuatan Elia.
Allah berkata, “Perjalanan itu terlalu berat bagimu.”
Ia tahu persis beban yang sedang Anda panggul. Ia tahu apa yang terkuras dari hati Anda oleh tenggat pekerjaan, oleh sebuah hubungan, oleh pelayanan, atau oleh penyakit. Ia tahu Anda tidak akan sampai dengan kekuatan alami Anda sendiri.
Dan justru karena perjalanan itu terlalu berat, bekalnya haruslah bersifat adikodrati.
Allah menyediakan sepiring makanan yang membuat Elia sanggup berjalan empat puluh hari empat puluh malam. Ia memberi kekuatan dari sumber ilahi karena tenaga alami saja tidak cukup.
Jika Anda merasa tidak sanggup melangkah lagi, boleh jadi Anda benar—tidak sanggup, dengan kekuatan Anda sendiri. Itu bukan aba-aba untuk menyerah; itu aba-aba untuk makan. Anda perlu menyantap kekuatan yang hanya dapat Ia berikan.
Mengakui bahwa beban itu berat adalah langkah pertama untuk membiarkan Dia yang memikulnya.
Suka tulisan ini? Terima renungan singkat seperti ini di kotak masuk Anda setiap pagi.
