Yang Tahu Dirinya Banyak Diampuni, Banyak Mengasihi

Ia masuk ke rumah Simon seperti orang-orang yang pernah terluka biasa masuk.
Tanpa pidato. Tanpa pembelaan.
Hanya air mata yang jatuh di kaki Yesus.
Simon, orang Farisi itu, menilainya.
Tetapi Yesus memahaminya.
Dan ketika Simon sibuk menimbang harga diri perempuan itu, Yesus justru bercerita tentang dua orang berhutang — yang satu banyak, yang lain sedikit — lalu bertanya siapa yang akan lebih mengasihi orang yang menghapuskan hutang mereka.
Simon menjawab,
Di situlah seisi ruangan berubah suasananya.
Sebab Yesus tidak sedang berbicara soal hitung-hitungan uang.
Ia sedang menyingkapkan mesin penggerak kasih:
Pengampunan yang diterima menjadi kasih yang mengalir keluar.
Ketika akhirnya Yesus berpaling kepada perempuan itu, Ia tidak menyebut air matanya, tidak pula minyak wangi yang mahal itu.
Ia hanya berkata:
Pengampunan sudah lebih dulu mengerjakan bagiannya.
Kasih hanyalah limpahannya.
Hati yang terus ingat bahwa dirinya telah diampuni tidak akan pernah kehabisan kasih untuk diberikan.
Suka tulisan ini? Terima renungan singkat seperti ini di kotak masuk Anda setiap pagi.
