Kita ini makhluk yang gemar bergerak. Kita kecanduan berbuat, melangkah, dan mengejar sesuatu.

Namun ada kalanya Allah memaksa kita berhenti.

Ketika dunia ditutup oleh pandemi, seluruh bumi seolah dipaksa masuk ke dalam keheningan yang ganjil. Kita melampaui ruang dan waktu lewat teknologi, tetapi tubuh kita terkurung di rumah. Rasanya seperti pembatasan, padahal sesungguhnya itu penyetelan ulang.

Allah sedang memberlakukan Sabat. Ia memberi tanah — dan umat-Nya — kesempatan untuk beristirahat.

Yesus memberi kita satu gambaran tentang cara hidup semacam ini. Kata-Nya, "Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku."

Dalam dunia pertanian, kuk biasanya menyatukan dua ekor hewan: seekor lembu tua yang sudah kenyang pengalaman, dan seekor lembu muda yang masih hijau.

Lembu muda itu tidak tahu jalannya. Ia tidak tahu iramanya. Kalau ia berusaha mendahului atau malah tertinggal, kuk itu akan melukai tengkuknya. Satu-satunya tugasnya adalah tetap selaras dengan lembu yang tua.

Ketika lembu tua minum, Anda minum. Ketika lembu tua berhenti untuk beristirahat, Anda beristirahat. Ketika lembu tua melangkah, Anda melangkah.

Allahlah lembu tua itu.

Kalau Ia berkata, "Diam dulu," lalu Anda nekat bekerja, yang Anda dapat hanyalah tengkuk yang lecet. Kalau Ia menuntun Anda ke air firman-Nya, lalu Anda memilih segala hal yang mengalihkan perhatian, Anda kehilangan kesegaran yang seharusnya menopang Anda.

Beban itu ringan bukan karena muatannya kecil, melainkan karena Dialah yang memikul bagian yang berat.

"Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan." Matius 11:29 (TB)

Jangan menarik bajak sendirian; berjalanlah saja seirama dengan Sang Guru.