Kuasa Membagi Firman dengan Tepat

Ada perbedaan antara mengetahui apa yang dikatakan Alkitab dan mengetahui kepada siapa Alkitab sedang berbicara.
Pada awal pelayanan-Nya, Yesus mengutus murid-murid-Nya dengan satu perintah yang sangat spesifik:
Kalau kalimat itu—yang di sebagian Alkitab dicetak dengan huruf merah sebagai perkataan Yesus—kita tarik begitu saja ke atas bahu kita hari ini, semua pekerjaan misi ke seluruh dunia harus dihentikan. Padahal kita tahu, di kemudian hari Yesus justru memerintahkan kita pergi ke seluruh dunia. Di sinilah letak seninya: membagi Firman Allah dengan tepat, (orthotomeo) ὀρθοτομέω — “memotong lurus”.
Kata yang oleh TB diterjemahkan “berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu” memang berakar pada gambaran seorang tukang yang memotong lurus: garisnya jelas, potongannya tidak serong, setiap bagian diletakkan pada tempatnya.
Kalau Firman tidak Anda bagi pada garis yang benar, Anda bisa-bisa meminta api turun menghanguskan tetangga Anda hanya karena Elia pernah melakukannya. Tetapi ketika Yakobus dan Yohanes mencobanya, Yesus justru menegur mereka. Kata-Nya, mereka tidak tahu oleh roh manakah mereka sedang dikuasai.
Api itu sudah turun ke atas korban di kayu salib, supaya api itu tidak perlu lagi turun ke atas Anda. Kita hidup di dalam “tahun rahmat Tuhan”, bukan di dalam hari pembalasan.
Memahami konteks kasih karunia mengubah cara Anda membaca setiap halaman. Alkitab berhenti terdengar seperti daftar tuntutan, dan mulai terbaca seperti daftar persediaan.
Kebenaran yang dipakai di luar musimnya bisa berubah menjadi bayang-bayang, bukan terang.
Suka tulisan ini? Terima renungan singkat seperti ini di kotak masuk Anda setiap pagi.
