Geometri Kasih Karunia

Kita sering meletakkan pergumulan dan keberhasilan pada garis waktu yang sama, seolah-olah keduanya sama beratnya. Tetapi Alkitab menawarkan geometri yang berbeda untuk hidup kita.
Ada perbedaan antara "hari yang jahat" dan "hari-hari baik".
Perhatikan bentuk katanya. Paulus memakai (hēmera ponēra) ἡμέρᾳ πονηρᾷ — "hari yang jahat", tunggal; TB menerjemahkannya "pada hari yang jahat itu". Petrus memakai (hēmeras agathas) ἡμέρας ἀγαθάς — "hari-hari yang baik", jamak; TB menuliskannya "hari-hari baik". Yang jahat itu satu hari: sebuah musim, sebuah saat, badai yang berlalu. Yang baik itu banyak hari — dan memang itulah yang seharusnya menjadi warna dasar hidup orang percaya.
Ketika krisis datang, entah wabah atau apa pun namanya, ia terasa seperti tak akan pernah berakhir. Ia membayang besar, menuntut seluruh perhatian dan seluruh waktu kita. Tetapi janji Allah berbicara tentang pembebasan dan tentang umur yang panjang.
Kata "sungguh" di situ berfungsi seperti tanda baca ilahi. Itu bukan "mungkin", bukan "barangkali". Itu kebenaran yang menjadi alas kaki kita. Kita hidup di masa ketika ruang gerak terbatas dan waktu terasa menyempit, tetapi kita tidak dipanggil untuk hidup dalam ketakutan akan "hari yang jahat" yang cuma satu itu.
Kita adalah orang-orang "hari-hari baik". Kita memandang Tuhan lebih lama daripada kita memandang berita utama. Kita menjaga mulut kita, dan kita beristirahat dalam kepastian bahwa Ia melepaskan. Badai itu sehari; perkenanan-Nya seumur hidup.
Badai adalah satu hari yang berlalu; kasih karunia adalah janji yang berlipat hari.
Suka tulisan ini? Terima renungan singkat seperti ini di kotak masuk Anda setiap pagi.
