Untuk Apa Kuasa Itu Diberikan

Kita sering mengaitkan "kuasa ilahi" dengan yang spektakuler—laut yang terbelah, api yang turun dari langit. Tetapi Rasul Paulus punya doa yang lain bagi orang-orang percaya di Kolose.
Ia berdoa agar mereka "dikuatkan dengan segala kekuatan oleh kuasa kemuliaan-Nya".
Anda mungkin menduga kalimat berikutnya berbicara tentang membangkitkan orang mati. Namun Paulus justru menyingkapkan buah sejati dari kekuatan ilahi itu:
Kata Yunani yang diterjemahkan TB dengan "tekun" adalah (hupomone) ὑπομονή, yang berarti "daya tahan" atau "keteguhan" di tengah keadaan yang menekan. Sedangkan "sabar" menerjemahkan (makrothumia) μακροθυμία—dari (makros) μακρός yang berarti "panjang" dan (thumos) θυμός yang berarti "amarah". Secara harfiah: memiliki sumbu amarah yang panjang terhadap orang-orang yang sulit. Dan perhatikan, sukacita tidak jauh dari situ; TB melanjutkannya di ayat berikutnya: "dan mengucap syukur dengan sukacita kepada Bapa" (Kolose 1:12).
Dibutuhkan "kuasa kemuliaan" yang lebih besar untuk tetap bersukacita ketika seseorang memotong jalur Anda di jalan raya daripada untuk mengadakan mujizat. Dibutuhkan kekuatan ilahi untuk tetap ramah kepada asisten rumah tangga atau rekan kerja yang menjengkelkan, justru ketika mereka tidak "pantas" menerimanya.
Allah memberikan (dunamis) δύναμις—"kuasa"-Nya—bukan semata agar kita dapat mengubah keadaan kita, melainkan agar kita tidak diubah olehnya.
Ketika Anda sabar dengan hati yang bersukacita, Anda sedang menampilkan bentuk kedewasaan rohani yang paling tinggi. Anda sedang menunjukkan bahwa kepuasan Anda lahir dari tindakan mengasihi, bukan dari upah berupa penghargaan orang.
Kuasa yang sejati adalah kemampuan untuk tetap ramah ketika segala alasan untuk bersikap sebaliknya ada di tangan Anda.
Suka tulisan ini? Terima renungan singkat seperti ini di kotak masuk Anda setiap pagi.
