Kekudusan punya masalah citra.

Selama ini kita terlanjur mengaitkan kekudusan dengan sikap merasa diri paling suci—penghakiman yang dingin dan berjarak terhadap orang lain. Kita membayangkan seseorang berdiri di atas panggung tinggi, memandang dunia dengan sebelah mata.

Tetapi itu bukan kekudusan. Itu kesombongan.

Kata Ibrani untuk kudus adalah (kadosh) קָדוֹשׁ — “dikhususkan, dipisahkan, kudus”. Padanannya dalam bahasa Yunani adalah (hagios) ἅγιος — “kudus, berbeda”.

Bayangkan satu helai pakaian kesayangan Anda. Anda tidak melemparkannya ke mesin cuci bersama baju olahraga. Anda memisahkannya. Bukan karena Anda membenci pakaian yang lain, melainkan karena yang satu itu berharga bagi Anda. Ia punya tujuan yang berbeda.

Yesus adalah puncak kekudusan, namun Ia disebut “sahabat orang berdosa”. Ia tidak mengurung diri. Ia menjamah orang kusta, makan bersama mereka yang disingkirkan, dan memulihkan yang remuk. Kekudusan-Nya bukan tembok; kekudusan-Nya adalah terang.

Kekudusan sederhananya berarti tidak menjadi sesuatu yang pasaran.

“Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran.” Yohanes 17:17 (TB)

Di tengah dunia yang ketakutan, Anda tenang. Di tengah budaya yang sinis, Anda penuh harap. Ketika orang lain menggadaikan integritasnya demi diterima, Anda tetap berdiri teguh karena Anda tahu berapa harga diri Anda. Anda berjiwa pangeran. Anda adalah putri seorang Raja.

Ketika Anda dikhususkan, Anda tidak membuat orang menjauh; Anda membuat mereka bertanya-tanya dari mana datangnya terang sebanyak itu.

Menjadi kudus berarti dikhususkan oleh Allah.