Sebelum Yesus menyembuhkan satu orang sakit pun, Ia berdiri di Sungai Yordan. Ia belum mengubah air menjadi anggur. Ia belum menggandakan roti untuk orang-orang yang lapar. Ia belum berkhotbah di hadapan orang banyak. Jumlah mujizat yang Ia kerjakan: nol.

Namun, ketika Ia keluar dari air, langit terbuka, dan Bapa bersuara.

"Lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan." Matius 3:17 (TB)

Yesus tidak bekerja untuk memperoleh perkenanan Bapa-Nya. Ia bekerja dari perkenanan Bapa-Nya. Ia hidup sebagai manusia di bumi, bersandar pada kuasa Roh Kudus, untuk menunjukkan kepada kita pola hidup seorang anak. Ia tidak perlu membuktikan jati diri-Nya lewat prestasi, sebab jati diri-Nya sudah aman dalam suara Bapa.

Kita sering melakukan yang sebaliknya, baik di rumah maupun dalam pekerjaan. Kita mendesak anak-anak kita untuk berprestasi, lalu mengaitkan penerimaan kita pada nilai rapor atau daftar pencapaian mereka. Hal yang sama kita lakukan dalam hubungan kita dengan Allah, seolah-olah Ia baru mengasihi kita saat kita berhasil. Padahal Allah menawarkan perkenanan-Nya di garis start, bukan di garis finis. Ia meneguhkan Anda sebagai anak-Nya sebelum Anda mengerjakan apa pun bagi-Nya.

Perkenanan Allah adalah titik berangkat dari segala yang Anda kerjakan, bukan upah yang harus Anda kejar.