Jangan Ikut Menenggak Racunnya

Kepahitan itu menular.
Alkitab memperingatkan kita untuk berjaga-jaga supaya jangan tumbuh "akar yang pahit". Ketika akar itu tumbuh, racunnya tidak berhenti pada orang yang sedang marah itu saja. Firman berkata, akar itu "mencemarkan banyak orang".
Kalau Anda duduk mendengarkan orang yang hatinya pahit—entah bertatap muka, entah lewat layar—Anda sedang meneguk ramuannya. Anda sedang menelan racunnya. Dan tiba-tiba ada yang terasa perih di dalam. Amarah yang mereka rasakan pelan-pelan menjadi amarah Anda juga.
Tetapi dari mana akar itu datang? Persoalannya bukan sekadar ada orang yang pernah menyakiti Anda. Ayat tepat sebelumnya memberi diagnosisnya:
Kata Yunani yang diterjemahkan TB dengan "jagalah" adalah: (episkopeo) ἐπισκοπέω — "mengawasi, menilik, menjaga dengan saksama".
Kita dipanggil untuk saling menjaga. Dan apa yang kita awasi? Kita memastikan tidak ada seorang pun yang menjauhkan diri dari kasih karunia.
Jauh sebelum muncul dosa seksual, atau kejatuhan moral, atau ledakan amarah, selalu ada kekeringan kasih karunia lebih dahulu. Ketika orang berhenti bersandar pada persediaan Allah dan mulai bersandar pada prestasinya sendiri, mereka menjadi letih. Mereka menjadi sinis. Mereka menjadi pahit.
Penawar kepahitan bukan sekadar pengampunan; melainkan penyingkapan kasih karunia yang baru.
Anda tidak mungkin penuh dengan kasih karunia dan penuh dengan kepahitan pada saat yang sama.
Suka tulisan ini? Terima renungan singkat seperti ini di kotak masuk Anda setiap pagi.
